RADAR BOGOR - IPB University kembali menghadirkan inovasi di bidang pangan dengan meluncurkan tiga produk sehat berbasis cassava atau singkong.
Ketiga produk inovasi IPB University itu adalah Flourina (tepung komposit terfortifikasi), Cassafits (beras analog), dan Chocoferin (cookies terfortifikasi).
Peluncuran produk ini berlangsung pada 23 Mei 2025, di Atrium Botani Square, Kota Bogor. Acara ini menjadi ajang untuk memperkenalkan hasil riset terbaru IPB University yang berfokus pada pengembangan bahan pangan lokal.
Kepala Lembaga Kawasan Sains dan Teknologi (LKST) IPB University, Prof Erika B Laconi, menjelaskan bahwa, ketiga produk ini merupakan hasil dari program Rispro Invitasi yang didukung LPDP Kementerian Keuangan RI.
Menurut Prof Erika, peluncuran produk ini menandai keberhasilan kolaborasi riset dari hulu ke hilir. “Ini bukti nyata bagaimana inovasi IPB University bisa hadir mulai dari proses budi daya hingga produk siap konsumsi. Dari ladang sampai meja makan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa IPB University akan terus mendorong inovasi berbasis bahan pangan lokal agar masyarakat Indonesia memiliki lebih banyak pilihan sumber pangan sehat dan berkelanjutan.
“Kami tidak akan berhenti di sini. Cassava akan terus kami kembangkan dengan berbagai bentuk fortifikasi dan diversifikasi agar bisa menjadi andalan pangan masa depan,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Tim Peneliti, Prof Slamet Budijanto, mengatakan bahwa cassava dipilih karena potensinya sebagai sumber karbohidrat alternatif selain beras.
“Selama ini kita terlalu fokus pada beras, padahal sumber karbohidrat bisa datang dari mana saja, termasuk dari cassava,” jelasnya.
Cassava juga memiliki keunggulan lain, yaitu mampu tumbuh di berbagai jenis tanah dan kondisi lingkungan. Hal ini membuatnya ideal untuk dikembangkan di banyak daerah di Indonesia.
Dengan adanya produk-produk baru berbasis cassava, IPB University berharap masyarakat tidak hanya bergantung pada satu jenis pangan pokok.
“Bukan untuk menggantikan beras, tapi sebagai pendamping. Jadi tekanan terhadap beras bisa berkurang,” kata Prof Slamet.
Salah satu peneliti lainnya, Prof Feri Kusnandar, menjelaskan bahwa Flourina dapat digunakan sebagai bahan dasar berbagai olahan, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri.
Sementara Cassafits dan Chocoferin menjadi contoh konkret bagaimana cassava bisa diolah menjadi produk pangan yang praktis dan bergizi, dari beras analog hingga camilan sehat.
“Harapannya, kita tidak lagi terlalu bergantung pada terigu. Sudah saatnya kita memanfaatkan bahan baku lokal, salah satunya cassava,” ujar Prof Feri menutup acara. (Raul/BSI)
Editor : Yosep Awaludin