RADAR BOGOR - Tren #KaburAjaDulu yang ramai di media sosial X ternyata menyimpan makna dan pesan sosial yang mendalam. '
Di balik humor dan sarkasme digital, tersimpan refleksi generasi muda terhadap kondisi politik, ekonomi, dan pendidikan di Indonesia yang dinilai kian menantang.
Tren ini kemudian menarik perhatian sekelompok mahasiswa IPB University yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH), tim GenKaburAjaDulu.
Mereka berupaya mendalami tren #KaburAjaDulu sebagai ekspresi generasi Z melalui pendekatan komunikasi simbolik.
Riset ini diketuai oleh Fauzan Maulana beserta empat anggotanya, yaitu Helmi Falah, Naufal Akmaluqyan Muhammad, Fatimatul Nasywa Adzkya, dan Aenur Rizqi Awaliyah, serta dosen pendamping, Dr. Annisa Utami Seminar, S.IP., M.Si. dari Fakultas Ekologi Manusia.
Dalam risetnya, tim GenKaburAjaDulu mengadopsi teori Dramatisme oleh Kenneth Burke, yang memandang setiap tindakan manusia sebagai bagian dari ‘drama sosial’.
Adapun salah satu metode yang digunakan adalah Survei Delphi yang dilaksanakan sebanyak dua putaran dengan melibatkan diaspora Indonesia, pakar/ahli komunikasi, dan pejabat publik untuk mengurai motif, konteks, dan arah kebijakan yang bisa lahir dari tren ini.
Hasil putaran pertama mengungkap adanya lima tema utama. Tema pertama, aspirasi mobilitas yang didorong konteks.
Menunjukkan bahwa banyak anak muda yang terdorong untuk mencari peluang di luar negeri akibat tekanan ekonomi, lapangan kerja yang terbatas, dan biaya pendidikan yang tinggi. Mobilitas menjadi cara mereka mencari rasa aman dan masa depan yang lebih pasti.
Tema kedua, self-development framing, menunjukkan bahwa migrasi tidak selalu dipandang sebagai pelarian, melainkan strategi pengembangan diri.
Menurut diaspora, melanjutkan studi ke luar negeri, magang internasional, dan kolaborasi lintas negara dapat menjadi investasi diri yang kelak bisa dibawa pulang untuk membangun Indonesia.
Tema ketiga, protes simbolik dan kontestasi makna, memperlihatkan bahwa tidak semua pelaku #KaburAjaDulu benar-benar ingin meninggalkan tanah air.
Sebagian justru menggunakan tagar ini sebagai bentuk ekspresi keresahan sosial. Melalui ruang digital, mereka menyuarakan kritik dan harapan agar kondisi di dalam negeri lekas membaik.
Tema keempat, dari brain drain ke brain circulation, membuka pandangan baru terkait arus migrasi.
Informan mendorong agar pemerintah tidak sekadar khawatir terhadap migrasi talenta muda, tetapi justru memfasilitasi ‘sirkulasi pengetahuan’.
Kolaborasi riset, mentoring diaspora, dan skema kerja pulang-pergi dinilai dapat mengubah arus keluar menjadi arus balik kontribusi.
Tema kelima, kerangka etik-pragmatis pengambilan keputusan, menyoroti pentingnya pertimbangan moral dan spiritual sebelum seseorang memutuskan untuk bermigrasi.
Terdapat informan yang mengembangkan prinsip seperti STOP (Search, Think, Others, Pray) agar keputusan tersebut tidak diambil secara impulsif dan tetap berpijak pada nilai-nilai etika.
Dari kelima tema tersebut, sejauh ini tim menyimpulkan bahwa tren #KaburAjaDulu bersifat scene-driven, yakni lahir dari kondisi sosial dan ekonomi yang mendorong generasi muda untuk mencari ruang hidup yang lebih baik.
Namun, dibalik itu semua, mereka menunjukkan kesadaran reflektif untuk tetap berkontribusi terhadap Indonesia.
“Tren ini bukan sekadar ajakan untuk kabur, tetapi cerminan dari realitas sosial yang dihadapi anak muda. Mereka ingin keluar bukan karena benci pada Indonesia, melainkan karena ingin tumbuh dan suatu hari kembali membawa perubahan,” ujar Helmi, Analis Data Tim GenKaburAjaDulu.
Riset ini juga memperluas penerapan teori Dramatisme oleh Kenneth Burke. Tim menemukan bahwa aktor dalam drama sosial ini bukan hanya individu, tetapi juga sistem kebijakan, institusi pendidikan, dan media digital yang berperan dalam membentuk tindakan sosial.
Platform beasiswa dan komunitas diaspora menjadi sarana penting yang mempercepat mobilitas sekaligus memperkuat jejaring pengetahuan lintas negara.
Berdasarkan hasil analisis putaran pertama tersebut, tim merumuskan kembali enam proposisi untuk pengujian pada putaran berikutnya.
Salah satu proposisi menunjukkan bahwa semakin negatif persepsi anak muda terhadap kondisi domestik, semakin kuat keinginan mereka untuk pergi.
Namun, ketika narasi publik menjadi positif dan kesempatan dalam negeri membaik, orientasi itu dapat bergeser menjadi kontribusi bagi bangsa.
Melalui riset ini, tim GenKaburAjaDulu berharap dapat mengubah persepsi publik terhadap tren #KaburAjaDulu dan mendorong pemerintah untuk meresponsnya melalui kebijakan.
“Alih-alih memandang #KaburAjaDulu sebagai ancaman, kita bisa melihatnya sebagai refleksi yang perlu dijawab dengan kebijakan yang inklusif,” ujar Fauzan, Ketua Tim GenKaburAjaDulu. (***)