RADAR BOGOR - Indonesia memiliki potensi besar dalam produksi minyak nabati, namun masih banyak peluang yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
Prof Ika Amalia Kartika, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian, IPB University menilai, diperlukan inovasi dan transformasi teknologi agar potensi besar minyak nabati tersebut dapat dioptimalkan dan memberikan nilai tambah bagi industri nasional.
Berdasarkan data United States Department of Agriculture (USDA), Indonesia saat ini menjadi produsen minyak nabati terbesar di dunia, dengan total produksi mencapai 47 juta ton pada periode 2023/2024. Sebagian besar produksi tersebut berasal dari kelapa sawit.
Selain sawit, Prof Ika menilai ada beberapa tanaman lain yang tak kalah potensial, seperti jarak pagar dan nyamplung.
Keduanya memiliki kadar minyak tinggi biji jarak mengandung sekitar 30–40 persen minyak, sedangkan nyamplung bisa mencapai 50–75 persen.
Dari sisi produktivitas, jarak menghasilkan sekitar 5 ton biji per hektare, dan nyamplung bisa mencapai 20 ton per hektare per tahun.
“Dengan potensi sebesar ini, penting bagi kita untuk melakukan transformasi teknologi agar minyak nabati Indonesia bisa memiliki nilai tambah,” ujar Prof Ika.
Ia menjelaskan bahwa ada tiga arah utama dalam pengembangan teknologi minyak nabati yang perlu dilakukan.
Yakni pengembangan metode ekstraksi, pengembangan teknologi pengempa ulir tunggal maupun ganda, serta penerapan teknologi ekstraksi dengan pelarut biner.
Menurutnya, kunci utama dari pengembangan ini adalah efisiensi dan keberlanjutan proses. Salah satu contohnya, penggunaan teknologi pengempa berulir tunggal dan ganda untuk biji jarak dan nyamplung dapat membantu meningkatkan hasil minyak dan menjaga kualitasnya, sekaligus menghemat energi.
Prof Ika juga menambahkan, penggunaan bahan baku segar dalam proses ini dapat menghasilkan minyak nabati berkualitas premium.
“Minyak ini cocok digunakan untuk bahan kosmetik karena mengandung senyawa bioaktif dan memiliki efek antibakteri terhadap penyebab jerawat,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti potensi teknologi ekstraksi pelarut biner, yaitu penggunaan dua jenis pelarut sekaligus, polar dan non-polar.
Teknologi ini mampu mengekstraksi minyak dan resin dalam satu tahap proses, sehingga lebih praktis dan efisien.
“Misalnya pada buah nyamplung, kita bisa menggunakan campuran pelarut heksan dan alkohol. Heksan berfungsi untuk mengambil minyak, sedangkan alkohol mengambil resin,” terang Prof Ika.
Dengan cara ini, hasil minyak menjadi lebih murni dan mudah dipisahkan dari resin, sedangkan resin itu sendiri bisa dimanfaatkan untuk berbagai produk nonpangan seperti vernis, bahan farmasi, hingga kosmetik.
Prof Ika menjelaskan, minyak yang dihasilkan bisa digunakan untuk konsumsi setelah dimurnikan, sementara resin menjadi produk sampingan yang bernilai tinggi.
Menurutnya, ini adalah contoh nyata bagaimana riset bisa membantu menciptakan produk turunan dengan manfaat luas bagi industri.
Atas riset dan pengembangannya di bidang minyak nabati ini, Prof Ika Amalia dan tim pernah meraih penghargaan internasional dari Presiden Prancis melalui program “Make Our Planet Great Again” pada tahun 2018.
Penghargaan tersebut diberikan kepada peneliti dari seluruh dunia yang berkontribusi pada riset berkelanjutan di bidang lingkungan dan energi. (Raul/BSI)
Editor : Yosep Awaludin