Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Minim Ruang Kelas, Siswa MI Sirojul Huda 2 Kota Bogor Terpaksa Belajar di Tanah Lapang

Muhamad Rifki Fauzan • Senin, 20 Oktober 2025 | 08:54 WIB
Siswa MI Sirojul Huda 2 yang tengah melaksanakan KBM di tanah.
Siswa MI Sirojul Huda 2 yang tengah melaksanakan KBM di tanah.

RADAR BOGOR - Aktivitas belajar siswa di MI Sirojul Huda 2 Kota Bogor tampak miris. Minimnya, keberadaan ruang kelas, membuat mereka terpaksa menimba ilmu di tanah lapang.

Tim Radar Bogor berkesempatan datang ke MI Sirojul Huda 2. Lokasinya berada di Kampung Warung Limus, Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan.

Setibanya di depan gerbang MI Sirojul Huda 2, suara riuh dari siswa terdengar. Pada Jumat 17 Oktober 2025 pagi mereka tengah melakukan aktivitas senam bersama di halaman sekolahnya.

“Pagi-pagi itu kita hari Jumat Solat Dhuha, terus senam, setelah itu baru dilanjut kegiatan belajar mengajar,” kata Kepala MI Sirojul Huda 2 Bogor, Bobby Nurhuda

Alih-alih masuk ke ruang kelas, sebagian siswa justru malah mengambil terpal. Total ada tiga lembar dan satu baliho besar yang mereka bawa secara bergotongan.

Terpal tersebut kemudian dihamparkan di atas tanah lapang sekolah, sebagian area masih terdapat krikil. Para guru tampak juga ikut membantu aktivitas tersebut.

Sepatu dari berbagai merek dijejerkan di samping terpal. Para siswa mulai mengambil buku dari dalam tasnya. Tidak ketinggalan kipas tangan yang sudah disiapkan.

Terik matahari terasa begitu dekat di atas kepala. Suasana tersebut rutin dirasakan oleh para siswa setiap hari Jumat. Dan ironinya ini sudah berlangsung sejak tahun 2008.

Air keringat dari para siswa tampak mengalir. Guru pun harus memutar otak agar materi yang disampaikan tetap bisa dimengerti. Bahan ajar, biasanya di foto copy kemudian dibagikan.

“Belajar di lapangan ini setiap hari Jumat. Hari biasa dibagi dua sift sampai sore. Karena kita kurang ruang kelas. Yang dilapangan itu biasanya kelas 3,4 dan 5,” ucap Bobby.

Beruntung ada satu pohon di halaman sekolah. Paling tidak tumbuhan tersebut bisa menjadi tameng bagi para siswa dan guru dari sinar matahari yang kian menyala.

Aktivitas belajar di lapangan berlangsung dari pukul 08.00 WIB hingga 11.00 WIB. Jadwal ini sengaja di atur agar siswa tidak merasakan panas berlebih dari terik matahari.

Bobby tidak bisa berbuat banyak. Apalagi sekolahnya tidak memungut biaya apapun dari orang tua.

Mereka hanya mengandalkan dana bantuan dari pemerintah. Itupun hanya satu tahun sekali didapatkan.

Upaya pengajuan nambah ruang kelas sudah rutin dilakukan. Setiap tahun, Bobby tidak pernah absen untuk melakukan upaya tersebut. Namun hingga kini usahanya belum membuahkan hasil.

“Sudah kalau di Simsapras milik Kemenag setiap tahun kita mengajukan. Karena mungkin belum ada rezekinya sampai saat ini belum dapat,” kata Bobby pada Radar Bogor.

Pada tahun 2023 silam, sekolahnya mendapat angin segar. Pemerintah sempat mengulurkan tangannya. Namun uluran tersebut hanya cukup untuk memperbaiki Sarpas.

“Jadi uangnya untuk rehab plafon genting dan cat aja hanya rehab kecil. Kami tidak bisa memaksakan untuk membangun atau menambah ruang kelas,” terang Bobby.

Di MI Sorojul Huda 2 sendiri hanya ada enam ruangan. Satu ruang guru, dan lima ruang kelas. Satu kelas baru dibuat, itupun bekas bangunan musala yang disulap.

Ruangan tersebut tidak memiliki jendela, apalagi pintu. Aktifitas belajar siswa di dalamnya terlihat jelas dari lapangan sekolah. Bahkan mereka bisa saling tatap-tatapan dengan yang belajar di lapangan.

“Jadi total ruangan kelas ada 5 yang satu bekas musala ini. Sementara jumlah murid ada 309 dengan 12 rombel. Jadi memang berbanding jauh terbalik,” beber Bobby.

Beruntung Bobby punya tim yang solid. Meski sesekali guru di sekolahnya ngeluh namun tidak mengurangi semangat dan optimisme mereka. Mencerdasakan kehidupan bangsa jadi misi bersama yang kerap ditanamkan.

Total ada 13 tenaga pendidik yang mengajar di sekolah tersebut. Mereka yang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) ada empat, sementara sisanya masih honorer.

“Kami gaji mereka lewat bantuan pemerintah tadi, yang honorer. Beberapa diantara mereka juga sudah ada yang lolos infasing dari pemerintah. Jadi ada bantuan alhamdulillah per bulan guru tersebut dapat Rp2 juta belum potongan,” terang Bobby, Jumat 17 Oktober 2025.

Menambah ruang kelas jadi harapan besar yang diimpikan oleh keluarga besar MI Sirojul Huda 2. Mereka juga menginginkan agar aktivitas KBM bisa berlangsung lebih optimal dan nyaman.

“Mudah-mudahan kita kedepannya bisa mendapatkan ruang kelas baru supaya anak anak bisa belajar dengan nyaman tidak di atas terpal. Dari siapapun itu,” pungkasnya. (bay)

Editor : Yosep Awaludin
#kota bogor #MI Sirojul Huda 2 #ruang kelas