RADAR BOGOR - Belajar di lapangan terbuka sudah hal lumrah bagi siswa MI Sirojul Huda 2 Kota Bogor. Setiap Jumat pagi, halaman sekolah mendadak berubah jadi kelas darurat.
Kebijakan itu terpaksa dilakukan. Sebab, kondisi ruang kelas MI Sirojul Huda 2 tidak sebanding dengan jumlah siswa yang ada. Keluhan soal cuaca panas, sudah jadi makanan sehari-hari.
Jumat pagi puluhan siswa MI Sirojul Huda 2 duduk bersila di bawah pohon. Alasannya hanya berbekal tiga lembar terpal. Sementara atapnya, langsung dihadapkan dengan terik matahari.
Sepatu-sepatu berjejer rapih di samping terpal bak pasukan yang tengah upacara. Bukan hanya alat tulis yang dikeluarkan, melainkan alat penyegar suhu tubuh yang mereka bawa.
“Jadi kalau jadwal belajar di lapangan biasanya saya dibekali kipas sama ibu. Bahannya dari kain dan gagangnya dari kayu,” kata Siswa Kelas 5 MI Sirojul Huda, Alina.
Dibalik keceriannya, Alina rupanya menyimpan cerita pelik. Kondisi sarana dan prasarana sekolah yang kurang baik, membuatnya kerap mendapat ejekan dari rekan sejawatnya.
Alina mengaku sering diejek temannya yang berasal dari sekolah elit. Ucapan mereka, kadang membuat hatinya sedih. Dan tanpa Ia sadari air matanya sesekali terjatuh.
Namun kondisi itu tidak membuatnya balik badan. Cita-cita ingin menjadi seorang tenaga medis itu adalah harga mati yang harus diperjuangkan. Bagi Alina cemoohan hanya ujian tapi, bukan halangan.
“Kalau ada yang ledek aku suka bilang gini, biarin aja yang penting kalau pagi-pagi jam 07.00 WIB sampai jam 09.00 WIB matahrinya masih sehat. Walaupun lewat dari itu panas juga,” canda Alina.
Ketika surya mulai memberontak, kipas pamungkasnya dikeluarkan. Ini jadi peralatan wajib yang dibawanya. Bahkan Alina sudah tiga kali ganti kipas karena sering rusak.
“Sering dipinjam teman juga. Jadi rusak mulu mereka mah pakainya sembarangan. Kalau aku lupa bawa kipas, ke bawah pohon sini supaya lebih adem,” ucap Alina pada Radar Bogor.
Terik matahari bukan tantangan satu-satunya. Alina menyebut dia dan sejumlah rekan sejawatnya sering panas dalam. Imbasnya mereka absen masuk kelas dihari berikutnya.
Itu kalau kondisinya sudah cukup parah. Namun jika hanya panas dalam biasa, Alina biasanya hanya minum obat setibanya di rumah dan langsung beristirahat.
“Mangkannya saya sekarang rajin bawa air minum dari rumah, supaya ga kehausan dan dehidrasi. Terus juga kadang-kadang kalau posisi duduknya ga tepat, bokonh saya suka sakit, karena bawahnya masih ada krikil,” keluhnya.
Alina berharap ada manusia berhati malaikat yang bisa mendengar keluh kesahnya. Permintaannya tak muluk-muluk. Cukup ruang kelas yang nyaman dan tenang.
Permintaan serupa juga diutarakan oleh Aqila siswa yang juga kini duduk di kelas lima. Terik matahari membuatnya tidak bisa fokus mendengarkan materi yang disampaikan.
“Aku ada satu buku cadangan. Fungsinnya sebagai kipas kalau udah kepanasan. Jujur aja aku ga fokus dengerin bu guru kalau jadwal belajar di lapangan,” ujar Aqila.
Doa yang kerap dipanjatkan, bukan hanya soal masa depan, melainkan ruang kelas yang memadai. Ini bukan berasal dari satu orang, melainkan dari siswa lain yang bernasib sama sengan Aqila.
“Kami kepingin punya kelas supaya kalau belajar tidak kepanasan terus belajarnya jadi konsentrasi,” ucap Aqila disambut riang oleh rekan-rekannya.
Keluhan itu rupanya sudah sering dilontarkan kepada guru. Hal ini dibernarkan oleh Nabila Audria Cahyo, Guru Kelas 2 MI Sirojul Hida 2 Bogor.
Telinganya mungkin sudah kebas mendengar permintaan ruang kelas dari para siswanya. Namun apalah daya, diapun tidak berbuat banyak.
Hanya kata-kata motivasi yang sering diucapkan untuk membalas keluhan tersebut. “Ingat cita-cita kalian” merupakan diksi yang tidak pernah absen dilontarkan.
“Mereka bilang belajarnya ga konsentrasi, dan secara logika itu betul. Di ruangan terbuka kan suara apa aja masuk. Ditambah benar ada yang suka panas dalam juga. Mangkannya kami guru-guru suruh mereka bawa air,” tandasnya. (bay)
Editor : Yosep Awaludin