RADAR BOGOR - Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di MI Sirojul Huda 2 Kota Bogor terganggu. Kondisi ini disebabkan karena mereka melakukannya di tanah lapang lantaran minimnya ruang kelas.
Suasana belajar kerap diiringi dengan suara bising kendaraan. Belum lagi terik matahari. Para guru MI Sirojul Huda 2 pun harus menarik otot lehernya saat menyampaikan bahan ajar.
Kondisi itu seperti yang dialami oleh Taryat Abdurrahman Guru Kelas 4 MI Sirojul Huda 2.
Jarak antara kelas yang saling berdekatan membuatnya harus bertereak.
“Karena di lapangan itu saya harus teriak-teriak. Apalagi posisi kami bersampingan dengan kelas 5, kelas 3. Jadi suaranya sering bercampur,” jelas Taryat pada Radar Bogor.
Namun Taryat tidak kehabisan akal. Dirinya merancang satu metode agar pembelajaran tetap efektif. Salah satunya dengan mencetak bahan ajar kedalam selembar kertas.
Kertas tersebut kemudian dibagikan kepada siswa. Tujuannya agar para siswa tidak lagi mencatat. Langkah ini dilakukan tidak memungut uang dari para siswa.
“Tapikan materi tetap harus dijelaskan. Nah biasanya kami bergeser lebih jauh sedikit. Kalau ada materi latihan, kami buatkan fotokopian untuk anak-anak,“ ujarnya.
Jika hujan melanda, para siswa diboyong ke majlis taklim miliknya. Lokasinya tak jauh dari sekolah. Kebijakan ini baru bisa dilakukan jika tempat tersebut tidak digunakan untuk pengajian.
“Ini pernah terjadi. Jadi pas kita lagi KBM tiba tiba hujan. Siswa langsung berhamburan. Langsung kami bawa ke majlis. Dan beruntung lagi tidak dipakai,” terangnya.
Taryat berharap kondisi ini tidak terus berlanjut. Harapannya sama dengan guru yang lain. Mendapatkan tambahan ruang kelas baru yang nyaman untuk aktivitas KBM di MI Sirojul Huda 2.
“Harapan kami sederhana saja, semoga semua siswa bisa belajar dengan nyaman dan tenang. Kami ingin ruang kelas baru yang nyaman agar siswa tidak lagi mesti ke lapangan,” pungkasnya. (bay)
Editor : Yosep Awaludin