Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Ekspedisi Patriot di Kalimantan Timur, Tim IPB University Rumuskan Arah Pengembangan Komoditas Unggulan Kawasan Transmigrasi

Fikri Rahmat Utama • Selasa, 21 Oktober 2025 | 11:58 WIB
Tim Ekspedisi Patriot IPB University usai mengadakan FGD di Diskominfo Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. 
Tim Ekspedisi Patriot IPB University usai mengadakan FGD di Diskominfo Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. 

RADAR BOGOR – Tim Ekspedisi Patriot IPB Unversity menggelar Forum Group Discussion (FGD) di Ruang Rapat Diskominfo Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, Senin 13 Oktober 2025.

FGD dari Tim Ekspedisi Patriot IPB University ini membahas hasil kajian identifikasi dan pemetaan komoditas unggulan di kawasan transmigrasi Kerang.

FGD IPB University dihadiri perwakilan sejumlah instansi daerah, di antaranya Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans), ATR/BPN, Bappeda Litbang, Dinas Tanaman Pangan, Dinas Pekerjaan Umum, serta pihak kecamatan dan desa-desa transmigrasi.

Kepala Disnakertrans Kabupaten Paser, Rizky Noviar, S.STP, membuka kegiatan dengan memaparkan kondisi aktual kawasan transmigrasi Kerang.

Ia menegaskan persoalan tanah masih menjadi hambatan utama dalam pengembangan wilayah.

“Adanya Ekspedisi Patriot diharapkan bisa membantu pemerintah daerah mengembangkan kawasan transmigrasi di Kabupaten Paser," katanya.

"Paradigma transmigrasi saat ini sudah berubah, bukan lagi soal pemindahan penduduk, tetapi bagaimana masyarakat diberdayakan agar mampu mandiri di wilayah baru,” ujarnya.

Rizky menjelaskan, pemerintah daerah kini fokus pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan optimalisasi potensi alam di kawasan transmigrasi.

Program pelatihan dan pemberdayaan menjadi prioritas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.

Setelah sesi pembukaan, tim riset dari tiga perguruan tinggi,  IPB University, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Indonesia (UI), memaparkan hasil awal kajian mereka di kawasan transmigrasi Kerang.

Dari IPB University, Lailah Azizah Syukur memaparkan bahwa komoditas perkebunan di kawasan tersebut didominasi oleh kelapa sawit dengan persentase mencapai 92 persen, disusul karet 7 persen, dan kelapa 1 persen.

“Kelapa sawit menjadi primadona karena harganya stabil, pasarnya jelas, dan didukung keberadaan perusahaan besar,” ujarnya.

Untuk komoditas hortikultura, Lailah menyebut pisang sebagai tanaman yang paling banyak dikembangkan, sedangkan komoditas pangan unggulan di tiga kecamatan meliputi padi, jagung, kacang tanah, dan ubi kayu.

Namun, tim juga menemukan kendala seperti keterbatasan sumber air, jalan rusak, dan minimnya sarana olah tanah.

Ketua Tim IPB University, Dr. Doni Sahat Tua Manalu, menambahkan pengembangan komoditas unggulan di kawasan transmigrasi tidak bisa dilakukan secara parsial.

“Ketika kami mengusulkan komoditas unggulan, dampaknya harus berantai dari desa inti hingga desa penyangga. Karena itu, rantai pasok dan potensi pasar perlu disiapkan agar hasilnya komprehensif dan berkelanjutan,” jelasnya.

Ia menegaskan, hasil rekomendasi yang disusun tim peneliti akan menjadi dasar tindak lanjut di tahun mendatang.

“Kami ingin hasil riset ini membawa perubahan nyata bagi kawasan transmigrasi Keladen dan sekitarnya,” tambahnya.

Selain IPB, Tim ITS memaparkan hasil pemetaan infrastruktur dan kondisi sosial di kawasan transmigrasi.

Kajian mereka mencakup jaringan jalan, jembatan, sarana air bersih, pendidikan, kesehatan, hingga aspek sosial budaya masyarakat.

Tradisi gotong royong dan ritual adat Belian disebut sebagai kekuatan sosial yang mendukung pembangunan kawasan.

Sementara itu, Tim UI mempresentasikan hasil pemetaan kelembagaan ekonomi dan rantai pasok.

Tim menemukan bahwa Pasir Belengkong berpotensi menjadi titik transit ekonomi utama yang menghubungkan kegiatan produksi dari UPT Keladen ke desa-desa penyangga.

Dalam sesi diskusi, sejumlah pihak memberikan masukan. Kecamatan Tanjung Harapan menilai perlunya pelatihan bagi warga transmigran yang belum memiliki pengalaman bertani.

ATR/BPN Paser melaporkan bahwa dari 180 bidang tanah yang direncanakan untuk sertifikasi di UPT Keladen, baru 120 bidang yang siap karena sisanya masih bersengketa dengan warga lokal.

Perwakilan Bappeda Litbang berharap hasil kajian Ekspedisi Patriot dapat menjadi rekomendasi kebijakan yang praktis dan bisa segera diterapkan di lapangan.

Dari unsur desa, perwakilan Desa Riwang mengungkapkan bahwa sebagian besar warganya menanam sawit karena harga dan pasarnya lebih menjanjikan.

Namun, mereka berharap pemerintah turut mengembangkan pasar untuk tanaman pangan seperti jagung dan ubi kayu.

Adapun Desa Kerang melaporkan selain sawit, warga juga menanam pisang, semangka, dan tomat yang sudah dipasarkan hingga ke Balikpapan. Saat ini terdapat 14 kelompok tani aktif di kawasan tersebut.

FGD ini menjadi momentum penting memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat transmigrasi dalam mewujudkan kawasan yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan. (uma)

Editor : Yosep Awaludin
#kalimantan timur #ekspedisi #ipb university