Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Kisah Jaler Gibran Fakhira Mahasiswa IPB Lulus Cumlaude: Dulu Sulit Membaca, Rajin Ikut Magang hingga ke Luar Negeri

Fikri Rahmat Utama • Kamis, 23 Oktober 2025 | 07:02 WIB
Jaler Gibran Fakhira atau akrab disapa Iban mahasiswa berprestasi lulusan IPB Bogor.
Jaler Gibran Fakhira atau akrab disapa Iban mahasiswa berprestasi lulusan IPB Bogor.

RADAR BOGOR – Perjalanan akademik Jaler Gibran Fakhira, atau akrab disapa Iban, layak menjadi kisah inspiratif. Dia merupakan anak yang walau awalnya tertinggal dengan siswa lain tapi bisa berkembang ketika diberi kesempatan belajar dengan cara yang sesuai dengan dirinya.

Dulu, saat duduk di kelas dua SD, Iban masih kesulitan membaca dan menulis, tetapi kini, ia berhasil lulus dari IPB University dengan predikat cumlaude.

Iban merupakan lulusan IPB Vokasi jurusan Teknologi dan Manajemen Ternak. Ia dikenal sebagai mahasiswa yang tekun, rendah hati, dan gemar membantu teman-temannya. Sang ibu, Diena Syarifa, mengaku tak bisa menahan haru ketika menghadiri wisuda putranya beberapa waktu lalu.

“Pagi itu saya dan suami hadir di acara wisuda Iban, dari rumah sudah bangga dan bahagia karena akhirnya Iban sampai di titik tuntas akademiknya, dengan cumlaude lagi,” ujarnya, Rabu, 22 Oktober 2025.

“Tapi begitu tiba di kampus, saya kaget karena slempang kuning bertuliskan ‘cumlaude’ bertebaran di mana-mana, Iban malah bilang, banyak yang beli buat foto.”

Diena kemudian menanyakan pada anaknya apakah ia merasa benar-benar pantas menyandang gelar cumlaude.

“Kamu kira-kira cumlaude asli nggak ilmunya?” tanya Diena.

Iban menjawab dengan yakin, “Insyaallah aku asli, Bu, sejak SD aku sudah riwa-riwi magang binatang, lalu fokus ke peternakan.”

Perjalanan magang itu memang menjadi bagian penting dalam hidup Iban, sejak kecil ia terbiasa belajar lewat praktik langsung—magang di stable kuda di Ciawi, belajar merawat kucing di Ragunan, mengolah susu di laboratorium di Ciawi, hingga beternak sapi di Malang, Yogyakarta, dan Lampung. Puncaknya, ia sempat magang di peternakan sapi di luar negeri tepatnya di New Zealand selama enam bulan ketika usianya baru 16 tahun.

Iban sejak kecil sebenarnya bukanlah anak yang cepat dalam akademik. Di kelas dua SD ia belum lancar membaca, bahkan masih sering terbalik huruf.

Namun lingkungan dan pola asuh belajar dari orang tuanya mampu membuatnya tumbuh sesuai ritmenya sendiri.

Semua pengalaman lapangan itu kemudian membentuk portofolio kuat yang mengantarkannya diterima di IPB lewat jalur undangan.

Di kampus, Iban menorehkan banyak prestasi, ia pernah menjuarai lomba Inovasi Desain Peternakan dan menjadi mahasiswa yang kerap diajak dosennya terlibat dalam proyek penelitian di IPB Sukabumi.

Tak berhenti di sana, Iban juga menunjukkan kepedulian sosial yang besar. Ia bersama teman-temannya membuka usaha kuliner di kantin kampus menjual mentai dan dimsum untuk membantu biaya kuliah rekan-rekannya. Kini, usaha tersebut memiliki tiga karyawan dengan omzet puluhan juta rupiah per bulan.

“Dia cerita, usaha itu dibuat untuk membantu biaya kuliah teman-temannya, saya terharu waktu mendengarnya,” kata Diena.

Kini, setelah resmi menyandang gelar sarjana terapan, Iban berencana melanjutkan proses lamaran kerja ke peternakan sapi di luar negeri yang sempat tertunda karena menunggu ijazah resmi dari kampus.

“Alhamdulillah, Bismillah, semoga Allah SWT memberikan nasib baik, menjadi Muslim yang cerdas dan bahagia, ilmunya bermanfaat untuk umat,” tutup Diena.

Kisah Iban menjadi bukti bahwa keberhasilan tidak selalu datang dari anak yang menonjol secara akademik sejak dini, melainkan dari kesempatan, dukungan, dan proses belajar yang memberi ruang bagi anak untuk tumbuh sesuai potensinya. (uma)

Editor : Eka Rahmawati
#ipb #Jaler Gibran Fakhira