RADAR BOGOR — Di sebuah tempat sederhana, warna-warna cat memenuhi pelataran. Di sana, senyum mengembang di wajah para penyintas gangguan jiwa saat kuas-kuas mulai menari di atas kain putih.
Mereka tidak sendiri. Sejumlah mahasiswa IPB University turut mendampingi, mendengarkan, dan ikut mengekspresikan perasaan lewat warna dan kata. Semua hadir bukan sebagai pengamat, tapi sebagai sahabat.
Kegiatan penuh kehangatan ini merupakan bagian dari program sahabat jiwa yang diinisiasi oleh Departemen Sosial dan Pengembangan Masyarakat BEM Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB University bersama Humanies Project.
Mengusung tema unity in empathy & strength in collaboration, program ini digelar selama tiga minggu sebagai jembatan empati antara mahasiswa dan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di bawah pendampingan Yayasan Bina Tauhid Darul Miftahuddin.
Yayasan yang berfokus pada pemulihan ODGJ ini telah lama menjadi tempat bernaung bagi para penyintas untuk menemukan kembali makna hidup.
Melalui pendekatan spiritual, sosial, dan kemanusiaan, mereka berupaya membangun kepercayaan diri dan kemandirian secara bertahap.
Semangat pemulihan inilah yang menginspirasi lahirnya sahabat jiwa sebuah gerakan kecil dengan makna besar.
Hari pertama kegiatan bertema “Ekspresi Jiwa dalam Kata dan Warna” menjadi awal yang penuh makna.
Para peserta diajak menuangkan perasaan lewat dua media, journaling dan melukis di atas baju putih. Di balik setiap goresan, tersimpan kisah dan emosi yang tak selalu bisa diungkap dengan kata.
“Gambar yang aku warnain nunjukin semangat aku, ada bolong-bolong di warnanya soalnya belum penuh semangatnya," ucap Pabian, salah satu teman istimewa.
Suasana kegiatan berlangsung hangat dan inklusif. Mahasiswa dan penyintas duduk dihamparan terpal, berbagi kuas, saling mendengarkan.
Tidak ada jarak antara pendamping dan yang didampingi. Di tempat itu, mereka menjadi manusia yang saling memahami dalam kebahagiaan dan warna.
Sahabat Jiwa bukan sekadar kegiatan pengabdian masyarakat, tetapi gerakan kolaboratif untuk menumbuhkan kesadaran bahwa kesehatan mental adalah tanggung jawab bersama.
Program ini juga mengajarkan mahasiswa bahwa proses pemulihan tidak selalu harus berawal dari terapi medis, tetapi bisa tumbuh dari sentuhan manusiawi dari empati, seni, dan waktu yang tulus dibagi bersama.
Hari itu menjadi bukti bahwa seni dapat menyembuhkan, dan empati bisa menjadi obat bagi jiwa yang rapuh.
Sahabat jiwa mengajarkan bahwa pemulihan tidak hanya soal medis, tetapi tentang kehadiran dan penerimaan.
Ketua pelaksana, Raden Tubagus mengungkapkan program ini akan berlanjut dengan dua sesi berikutnya yang membawa pendekatan berbeda, namun tetap dengan semangat yang sama, memperkuat empati, mempererat kolaborasi, dan menumbuhkan kemanusiaan.
"Sahabat Jiwa bukan hanya program, tapi gerakan kecil untuk mengingatkan kita bahwa setiap jiwa berharga dan setiap orang berhak untuk sembuh dengan cara yang manusiawi," ungkap Raden kepada Radar Bogor, Jumat 24 Oktober 2025. (cr1)
Editor : Yosep Awaludin