Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Dosen IPB University Kembangkan Jagung Analog dari Sagu dan Singkong, Solusi Baru Tekan Harga Pakan Ayam

Yosep Awaludin • Selasa, 28 Oktober 2025 | 13:00 WIB
Jagung analog hasil inovasi Dr Heri Ahmad Sukria, Dosen Fakultas Peternakan IPB University yang dibuat dari campuran sagu dan singkong.
Jagung analog hasil inovasi Dr Heri Ahmad Sukria, Dosen Fakultas Peternakan IPB University yang dibuat dari campuran sagu dan singkong.

RADAR BOGOR - Salah satu penyebab naiknya harga ayam di pasaran ternyata dipicu oleh mahalnya harga jagung.

Ya, jagung menjadi bahan utama dalam pakan unggas, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.

Melihat kondisi tersebut, Dr Heri Ahmad Sukria, dosen Fakultas Peternakan IPB University, menghadirkan solusi inovatif bernama Jagung Analog, bahan pakan alternatif yang bisa menggantikan peran jagung tanpa menurunkan kualitas nutrisi.

Inovasi ini diharapkan dapat membantu menekan biaya produksi pakan, sehingga harga daging ayam di pasaran bisa lebih terjangkau bagi masyarakat.

Jagung analog dikembangkan dari bahan non-jagung seperti sagu parut dan singkong. Keduanya memiliki kandungan gizi yang mirip dengan jagung asli.

Dalam uji coba di laboratorium, ayam kampung yang diberi pakan berbasis jagung analog menunjukkan pertumbuhan dan performa yang sama baiknya dengan ayam yang mengonsumsi jagung biasa.

“Sekitar 50 persen bahan pakan unggas berasal dari jagung. Padahal Indonesia belum bisa mencukupi kebutuhan jagung nasional dari produksi dalam negeri, dan impor pun sudah tidak diperbolehkan,” jelas Dr Heri.

Kondisi tersebut membuat harga jagung terus meningkat. Saat ini, harga terendah mencapai sekitar Rp5.500 per kilogram, dan bisa melonjak hingga Rp7.000 di luar musim panen, terutama di wilayah terpencil.

“Kenaikan ini langsung berdampak pada biaya pakan dan akhirnya membuat harga ayam di pasar ikut naik,” tambahnya.

Berbeda dengan negara-negara seperti Amerika dan Eropa yang sudah memanfaatkan berbagai sumber energi untuk pakan, Indonesia masih terlalu bergantung pada jagung.

Padahal, menurut Dr Heri, ada banyak bahan lokal yang potensial, salah satunya adalah sagu.

Indonesia memiliki sekitar 5 juta hektare lahan sagu, dengan 99 persen di antaranya berada di Papua. Namun, pemanfaatannya masih sangat rendah, di bawah 5 persen.

“Sagu sebenarnya bisa menjadi sumber energi yang bagus untuk pakan, asalkan dikelola dengan tetap menjaga keseimbangan ekosistemnya,” ujar Dr Heri.

Selain sagu, singkong juga menjadi bahan alternatif yang menjanjikan karena dapat ditanam di berbagai daerah seperti Lampung dan Jawa Barat.

Tantangan utamanya, kata Dr Heri, adalah produktivitas dan biaya produksi yang masih harus ditingkatkan.

“Untuk membuat singkong layak sebagai bahan pakan, produktivitasnya harus minimal 40 ton per hektare. Saat ini, beberapa varietas unggul IPB sudah mampu mencapai angka itu,” ungkapnya.

Proses pembuatan jagung analog juga melibatkan teknologi ekstrusi, yaitu metode hydrothermal yang berfungsi memperbaiki sifat fisik dan kimia bahan agar setara dengan jagung asli.

Selain karbohidrat dari sagu dan singkong, bahan ini juga diperkaya dengan protein, mikronutrien, serta ekstrak daun kelor yang kaya vitamin dan mineral.

Uji coba menunjukkan hasil yang positif pada ayam kampung, dan rencananya akan dilanjutkan pada ayam broiler setelah tahap penelitian lanjutan selesai.

Proyek ini bahkan telah mendapatkan dukungan pendanaan dari Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI.

“Kalau biaya pakan bisa ditekan, otomatis harga daging ayam juga bisa turun. Ini membantu peternak kecil dan konsumen,” tegas Dr Heri.

Ia berharap inovasi ini bisa segera dikomersialisasikan dan menjadi alternatif pakan ternak berbasis bahan lokal yang murah, mudah dibuat, dan ramah lingkungan.

Dengan hadirnya jagung analog, Indonesia tidak hanya bisa mengurangi ketergantungan pada jagung impor, tapi juga memanfaatkan potensi besar dari sagu Papua dan singkong lokal untuk memperkuat kemandirian sektor peternakan nasional. (Raul/BSI)

Editor : Yosep Awaludin
#Pakan #jagung #ipb university