Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Tingkatkan Keterampilan Profesional Guru SD Soal Deep Learning dan STEM, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat FAIPG Unida Bogor Adakan Pelatihan

Rani Puspitasari Sinaga • Selasa, 4 November 2025 | 12:21 WIB
Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru Unida Bogor.
Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru Unida Bogor.

RADAR BOGOR - Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru (FAIPG) Universitas Djuanda (Unida) Bogor adakan Pelatihan Peningkatan Keterampilan Penelitian Tindakan Kelas untuk Profesionalisme Guru di Sekolah Dasar.

Pelatihan tim pengabdian kepada masyarakat FAIPG Unida Bogor itu, mengangkat tema Implementasi PTK melalui Deep Learning dan STEM yang digelar di Aula Sekolah Pascasarjana UNIDA pada Kamis sampai dengan Jumat, 30-31 Oktober 2025.

Kegiatan tersebut diisi oleh Rektor Unida Bogor, Assoc. Prof. Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, S.Pd.I., M.Pd.I, Dosen sekaligus Tim PKM FAIPG UNIDA, Dr. Helmia Tasti Adri, S.Pd., M.Pd.Si dan Dr. Irman Suherman, S.Pd.I., M.Pd serta diikuti oleh Kepala Sekolah beserta para Guru SD Amaliah dan Kepala Sekolah SDN 1 Cilember beserta para Guru.

Pelatihan ini juga merupakan bagian dari kegiatan Hibah Pengabdian Kepada Masyarakat Kemitraan Masyarakat yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Republik Indonesia Tahun Anggaran 2025 yang dilaksanakan tim dari FAIPG UNIDA yaitu Dr. Helmia Tasti Adri, S.Pd., M.Pd.Si (Ketua Tim), Dr. Irman Suherman, S.Pd.I., M.Pd (Anggota) dan Sobrul Laeli, S.Pd.I., M.Pd (Anggota). 

Assoc. Prof. Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, S.Pd.I., M.Pd.I dalam pemaparan materinya berjudul Transformasi Profesionalisme dan Etos Kerja Guru Abad ke-21 Melalui Refleksi dan Inovasi Pembelajaran di Universitas Djuanda menyatakan bahwa Perubahan zaman di abad ke-21 membawa tantangan besar bagi dunia pendidikan yang dimana Guru dituntut menjadi fasilitator, inovator, dan pembelajar sepanjang hayat. Sehingga, profesionalisme dan etos kerja guru menjadi faktor kunci keberhasilan pendidikan. Ada 3 dimensi utama profisionalisme yaitu profisionalisme Guru itu sendiri, kompetensi profisional dan komptensi kepribadian serta sosial.

“Ada pun inovasi pembelajaran di abad ke-21 bisa dengan Blended learning dan pembelajaran berbasis proyek, Pemanfaatan teknologi digital dan AI, Integrasi nilai-nilai karakter dan spiritualitas serta Menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkani nilai-nilai karakter dan spiritualitas,” ungkapnya.

Selanjutnya Dr. Irman Suherman, S.Pd.I., M.Pd dalam paparan materinya yang berjudul Implementasi Deep Learning dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar menyatakan, bahwa Deep Learning sendiri merupakan pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran, bermakna dan hati menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa dan olah raga secara holistik dan terpadu. Jadi prinsip dalam pembelajaran mendalam yaitu bermakna, berkesadaran dan menggembirakan.

“Implementasi pembelajaran mendalam yang pertama yaitu perencanaan yang melalui refleksi guru terhadap diri sendiri, karakteristik peserta didik, materi pelajaran, sumber daya dan mita. Lalu pelaksanaan dengan prinsip berkesadaran, bermakna dan menggembirakan melalui pengalaman belajara memahami dan merefleksi. Kemudian asesmen yang tidak hanya berfokus pada penguasaan teori tetapi juga pada pemahaman konseptual yang mendalam, keterampilan berpikir kritis serta penerapan dalam kehidupan nyata,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Dr. Helmia Tasti Adri, S.Pd., M.Pd.Si dalam pemaparan materinya menyatakan bahwa tantangan utama dalam penerapan pembelajaran dengan pendekatan Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM) di Indonesia yaitu di antaranya keterbatasan pelatihan guru, kurangnya pelatihan guru STEM khusus yang dirancang untuk jenjang guru sekolah dasar menyebabkan kesenjangan komptensi pedagogis.

Lalu ketimpangan fasilitas, fasilitas dan sumber belajar STEM belum merata, terutama di daerah terpencil dan pedesaan yang membetuhkan perhatian khusus serta kurikulum terfragmentasi, kurikulum masih terpisah-pisah antar mata pelajaran dan kurang mengintegrasikan pendekatan STEM secara holistik.

“Fakta mengejutkan tentang STEM di Indonesia yang dimana 54% Guru belum terlatih yang dimana guru sains belum pernah menggunakan pendekatan STEM di kelas mereka. Lalu 78% riset fokusdi SMP atau SMA, riset STEM yang fokus di sekolah menengah bukan di tingkat dasar. Kemudian 18% riset di SD, persentase riset STEM yang dilakukan di SD. Sehingga kondisi tersebut membuka peluang luar biasa bagi SD untuk menjadi pelopor dan pemimpin dalam implementasi pendidikan STEM di Indonesia. Kesenjangan ini adalah ruang untuk inovasi dan transformasi pendidikan di Indonesia,” ungkapnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab serta pelatihan secara langsung mengenai PTK Berbasis Deep Learning dan STEM antara narasumber dan peserta.

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
Editor : Rani Puspitasari Sinaga
#bogor #UNIDA #guru