RADAR BOGOR - Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan 100 Sekolah Rakyat baru setiap tahun.
Dalam 5 tahun pemerintahan akan mencapai 500 Sekolah Rakyat yang akan menampung setengah juta siswa dari keluarga prasejahtera.
Sekolah Rakyat merupakan langkah nyata pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan secara terukur, terstruktur, dan berkelanjutan.
Pendidikan merupakan cara untuk memutuskan rantai kemiskinan.
Lulusan Sekolah Rakyat diharapkan dapat melepaskan diri dan keluarganya dari jerat kemiskinan.
Selama tahun ini, sudah ada 166 Sekolah Rakyat yang beroperasi di berbagai daerah.
Ke depan Pemerintah menargetkan adanya satu Sekolah Rakyat untuk 1 Kabupaten atau Kota.
Satu Sekolah Rakyat akan menampung 1 ribu siswa.
Tak hanya itu, keluarga siswa Sekolah Rakyat akan memperoleh bantuan sosial dan diberdayakan.
Misalnya, renovasi rumah tak layak huni, mendapat bantuan sosial lengkap termasuk program Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN, dan mendapatkan bantuan iuran kepesertaan BPJS Kesehatan.
Sekolah Rakyat merupakan implementasi pendidikan inklusif.
Setiap anak berhak atas pendidikan.
Rencananya, Sekolah Rakyat akan mengajarkan 6 bahasa asing seperti bahasa Arab, Inggris, Jepang, Korea, Mandarin hingga Jerman.
Presiden Prabowo Subianto juga mengusulkan pengajaran bahasa Portugis.
Pemilihan bahasa asing tersebut berdasarkan kebutuhan pasar tenaga kerja luar negeri dan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia.
Setelah menguasai bahasa asing, fokus berikutnya ialah sertifikasi dan kompetensi kerja. Dengan demikian, dapat memenuhi persyaratan kerja.
Untuk lulusan Sekolah Rakyat yang ingin melanjutkan kuliah pun akan difasilitasi.
Jadi, lulusan Sekolah Rakyat tak hanya diarahkan untuk bekerja di luar negeri.
Kebijakan pendidikan ini mengingatkan akan Restorasi Meiji di Jepang yang melakukan reformasi pendidikan terutama mengadopsi sistem pendidikan Jerman.
Sistem pendidikan yang inklusif, terbuka untuk semua kalangan. Kewajiban belajar 8 tahun. Implementasi pendidikan formal dan kurikulum modern.
Tentu Sekolah Rakyat tidak melupakan budaya bangsa sendiri.
Misalnya ekstrakurikuler tarian adat, pencak silat, dan lain-lain.
Bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai budaya sendiri. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim