RADAR BOGOR – Sekolah Islam Terpadu (SIT) Insantama kembali menggelar Maca Expo ke-8, Sabtu 8 November 2025. Tahun ini, kegiatan tahunan tersebut mengusung tema Berliterasi untuk Bumi Lestari.
Tema Maca Expo itu diambil sebagai bagian dari dukungan terhadap Program Literasi Nasional yang dicanangkan Kementerian Pendidikan.
Fokusnya ialah literasi finansial, kesehatan, dan perubahan iklim. SIT Insantama memilih mengangkat isu lingkungan hidup pada ajang Moca Expo kali ini agar siswa dapat lebih peduli terhadap bumi.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa literasi bukan sekadar membaca buku, tetapi juga membaca kehidupan dan lingkungan,” ujar Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMP IT Insantama, Muhammad Iqbal Maulidi.
Puncak kegiatan Maca Expo kali ini berlangsung meriah. Selain talk show, panitia juga menyiapkan berbagai kegiatan seperti pameran, lomba-lomba, wahana edukasi, panggung kreasi, bazar, serta pengumpulan minyak jelantah.
Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang latihan bagi para siswa untuk belajar menjadi event organizer.
Sebanyak 498 siswa SIT Insantama tidak menjadi peserta lomba, melainkan bertugas di berbagai bidang seperti panggung, lomba, dan kebersihan.
“Anak-anak kami libatkan sepenuhnya. Mereka belajar mengelola acara, bertanggung jawab pada tugas masing-masing, dan menanamkan semangat kolaborasi,” kata Iqbal.
Maca Expo tahun ini diikuti oleh 347 peserta lomba dari berbagai SD dan SMP di Kota Bogor, bahkan ada yang datang dari Jakarta.
Para peserta memperebutkan Piala Wali Kota Bogor, yang juga menjadi nilai tambah bagi siswa yang ingin melanjutkan ke sekolah negeri.
“Kami berharap kegiatan ini menjadikan Bogor sebagai mercusuar literasi. Semangat literasi lingkungan harus terus berkelanjutan, tidak hanya seremonial,” tuturnya.
Sebagai bentuk nyata gerakan literasi lingkungan, SIT Insantama juga mengadakan program pengumpulan minyak jelantah bekerja sama dengan T-Care.
T Care merupakan lembaga pengolah minyak jelantah menjadi biodiesel. Setiap liter minyak dihargai sekitar Rp7.000 dan hasilnya dimanfaatkan untuk mendukung penerbitan buku karya siswa.
Tahun ini, SIT Insantama berhasil menerbitkan delapan buku karya siswa. Sekolah berharap program pengumpulan minyak jelantah ini dapat terus berlanjut dengan dukungan orang tua siswa.
“Targetnya tidak muluk, kami berharap bisa mengumpulkan 15 sampai 20 liter minyak jelantah dalam waktu dekat. Yang terpenting, anak-anak belajar menjaga lingkungan dengan aksi nyata,” ujar Iqbal.
Melalui kegiatan ini, SIT Insantama ingin menanamkan makna literasi secara luas — bukan hanya membaca dan menulis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran keberlanjutan dan kepedulian terhadap bumi. (bay)