Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Soroti Ledakan di SMAN 72 Jakarta, Psikolog Asal Bogor Ungkap Akarnya

Muhammad Ali • Minggu, 9 November 2025 | 16:19 WIB
Ahli Psikolog Islam asal Bogor, Prof. Dr. Hj. Imas Kania Rahman.
Ahli Psikolog Islam asal Bogor, Prof. Dr. Hj. Imas Kania Rahman.

RADAR BOGOR — Dua tragedi memilukan di dunia pendidikan Indonesia kembali membuka luka lama tentang lemahnya ketahanan psikologis anak.

Ledakan di SMAN 72 Jakarta dan kebakaran di Pesantren Babul Maghfirah, Aceh Besar, diduga dilakukan siswa dan santri yang menjadi korban perundungan.

Dua peristiwa berbeda tempat itu, bagi ahli psikolog Islam asal Bogor, Prof. Dr. Hj. Imas Kania Rahman, bukan sekadar insiden kriminal melainkan alarm bagi sistem pendidikan dan keluarga yang gagal menumbuhkan kekuatan jiwa anak.

“Kalau dilihat dari usia mereka, yang masih duduk dibangku SMA. Usia seperti itu sangat rentan, terutama jika kebutuhan dasarnya sebagai manusia tidak terpenuhi,” ujarnya kepada Radar Bogor, Sabtu 8 November 2025.

Prof. Dr. Hj. Imas Kania Rahman menjelaskan, tindakan ekstrem seperti membakar pesantren atau meledakkan sekolah tidak lahir begitu saja.

Menurutnya, hal itu bisa muncul dari rasa dendam yang tumbuh akibat luka psikis yang tidak tertangani dan kebutuhan dasar untuk diterima serta diperlakukan adil yang tidak terpenuhi.

“Dendam itu muncul karena luka batin yang dibiarkan terlalu lama, itu bukan karena masalah besar yang tidak bisa dihadapi, tapi karena luka kecil yang disimpan terlalu dalam, hingga menjadi api yang membakar," tuturnya.

Lebih jauh, ia memaparkan, dendam yang tumbuh dari perasaan diperlakukan tidak adil bisa berujung pada keinginan untuk melawan sistem, bukan sekadar individu.

Menurutnya, siswa yang nekat meledakkan sekolah atau membakar pesantren kemungkinan besar marah pada sistem yang dianggap gagal melindungi dirinya.

“Kalau dendamnya kepada orang tertentu, tindakannya pasti personal. Tapi kalau sampai menyerang lembaga, berarti dia kecewa pada sistem. Dia merasa sudah berusaha mencari keadilan, tapi sistem tidak berpihak padanya,” imbuhnya.

Dari sudut pandang psikologis, Prof. Imas menegaskan bahwa tindakan seperti ini belum tentu bisa langsung dikategorikan sebagai gangguan kepribadian berat.

Ia menjelaskan bahwa psikopat sejati biasanya menyembunyikan keburukannya, sedangkan pelaku dalam kasus ini justru ingin didengar dan diakui penderitaannya.

“Kalau psikopat, dia bisa terlihat sangat santun, tapi tega melukai orang lain tanpa rasa bersalah, sedangkan kasus ini berbeda. Anak itu justru ingin didengar. Ia ingin sistem tahu bahwa dia terluka, tapi tidak ada yang peduli," terangnya.

Menurutnya, ketika seseorang sudah sampai pada titik di mana rasa kecewanya menumpuk dan sistem tidak berfungsi, tindakan ekstrem seperti pembakaran atau pengeboman bisa menjadi bentuk pelampiasan terakhir untuk mendapatkan pengakuan.

Itu bukan soal keberanian, tapi jeritan dari jiwa yang sudah hancur.

“Boleh jadi dia merasa sudah tidak punya tempat lagi. Maka dia memilih cara yang keras agar orang lain melihat luka batinnya,” ungkapnya.

Namun, ia menekankan bahwa akar masalahnya tidak bisa diselesaikan hanya dengan menghukum pelaku atau menyesali korban.

Diperlukan langkah preventif, kuratif, dan developmental agar kasus serupa tidak berulang.

Pencegahan harus dimulai dari sekolah dan keluarga yang peka terhadap tanda-tanda anak yang terisolasi atau sering jadi sasaran olok-olok.

“Preventif itu tanggung jawab sekolah, keluarga, dan masyarakat. Guru sebenarnya tahu mana kelompok anak yang punya kecenderungan arogan dan mana yang jadi sasaran. Tapi kadang karena beban kurikulum dan administrasi, mereka abai terhadap aspek emosional murid," jelasnya.

Lebih lanjut, Prof. Imas menjelaskan bahwa penyembuhan bagi korban bullying tidak bisa dilakukan dengan satu metode. Setiap anak memiliki jenis trauma berbeda.

Ada yang disebabkan oleh pikiran irasional seperti keyakinan bahwa setiap orang bersalah harus dihukum, ada pula yang disebabkan rasa rendah diri akibat dipermalukan di depan teman-temannya.

“Kalau yang berpikir irasional, maka terapi yang digunakan adalah Rational Emotive Behavior Therapy, tapi kalau traumanya karena harga diri jatuh, maka pendekatannya berbeda, harus diarahkan untuk membangun kembali superioritasnya secara sehat," katanya.

Ia juga menyoroti bahwa akar rapuhnya psikologis anak dimulai sejak masa kandungan.

Anak yang tidak dibiasakan berjuang sejak kecil, kata dia, cenderung tumbuh menjadi pribadi yang mudah rapuh saat menghadapi tekanan.

“Anak-anak sekarang itu stroberi indah tapi rapuh, karena sejak bayi tidak dibiasakan berjuang, lahir dengan cara mudah, disusui pakai dot, dibesarkan tanpa kesulitan. Akibatnya, psychological strength-nya tidak terbentuk," ujarnya

Menurutnya, kekuatan psikologis itu tidak bisa diajarkan di sekolah, melainkan harus dibangun sejak dini melalui pengalaman nyata menghadapi hambatan, tantangan, ancaman, dan gangguan.

Ketika anak tumbuh tanpa tantangan, maka sedikit saja diejek atau disakiti, ia bisa runtuh.

“Harusnya, sejak kecil anak dibiasakan menghadapi kesulitan kecil. Dari situ dia belajar bertahan, kalau semua serba dimudahkan, begitu menghadapi kenyataan yang keras, dia tidak siap," ucapnya.

Dalam perspektif Islam, Prof. Imas mengingatkan bahwa anak yang sudah baligh baik melalui haid atau mimpi basah sejatinya sudah memikul tanggung jawab orang dewasa.

Namun, realitanya, banyak anak yang secara fisik sudah matang tetapi psikologinya masih rapuh karena tidak pernah dilatih bertanggung jawab.

“Dalam Islam, begitu anak haid atau mimpi basah, dia sudah dicatat amal dan dosanya. Tapi lihatlah sekarang, anak SMP saja belum sanggup menghadapi masalah kecil tanpa panik,” katanya.

Di akhir pembicaraan, Prof. Imas menegaskan bahwa selain aspek psikologis, faktor spiritual juga tak kalah penting.

Lemahnya iman dan kendali diri membuat manusia mudah dikuasai amarah dan dendam yang akhirnya menjadi rapuh.(cr1)

Editor : Alpin.
#perundungan #psikologis anak #pendidikan anak