Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Ciptakan Alat Pendingin Ikan Tenaga Surya, IPB University Bantu Nelayan Menghemat Biaya Operasional

Yosep Awaludin • Selasa, 18 November 2025 | 13:00 WIB
Palka Pendingin Tenaga Surya (PPTS) inovasi dari IPB UNiversity terpasang pada kapal nelayan untuk menjaga kesegaran ikan tanpa penggunaan es balok.
Palka Pendingin Tenaga Surya (PPTS) inovasi dari IPB UNiversity terpasang pada kapal nelayan untuk menjaga kesegaran ikan tanpa penggunaan es balok.

RADAR BOGOR - IPB University memperkenalkan inovasi baru yang ditujukan untuk membantu nelayan skala kecil dalam menjaga kesegaran hasil tangkapan mereka.

Inovasi dari IPB University ini berupa teknologi palka pendingin yang memanfaatkan energi surya dan diberi nama Palka Pendingin Tenaga Surya (PPTS).

Sistem pendingin ini dirancang agar nelayan tidak lagi bergantung pada es balok yang sering kali mahal dan sulit didapat, terutama di wilayah pesisir terpencil.

Inovasi ini merupakan bagian dari riset bertajuk Integrated Smart System Instrument for Small-Scale Fishing Vessel.

Ketua tim peneliti, Dr Ayi Rahmat dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, menjelaskan bahwa banyak nelayan kecil masih harus membeli es dari daratan.

Kondisi tersebut membuat biaya operasional meningkat, sementara kualitas ikan bisa menurun jika perjalanan pulang memakan waktu lama.

PPTS memanfaatkan panel surya berkapasitas 1 kWp hingga 5 kWp. Energi dari panel tersebut disimpan dalam baterai LiFePO₄ dan kemudian digunakan untuk menyalakan freezer berkapasitas 300 liter.

Freezer ini mampu menjaga suhu ruang simpan tetap di bawah 4 derajat Celsius selama 24 jam.

Selain itu, sistem pendingin dilengkapi fitur internet of things (IoT). Teknologi ini memungkinkan pemantauan suhu, posisi kapal, hingga kondisi baterai secara real-time.

Dengan begitu, nelayan dapat memastikan pendingin tetap berfungsi dengan baik selama melaut.

Uji coba palka pendingin dilakukan di Pelabuhan Ratu, Cirebon, dan Brebes. Pengujian dilaksanakan pada tiga kapal berukuran 7 hingga 9 meter selama satu bulan. Selama pengujian, PPTS berhasil menjaga suhu penyimpanan ikan tetap stabil.

Tim peneliti juga melakukan pengukuran terhadap kenyamanan kapal, termasuk gerakan kapal saat ombak.

Hasil penilaian organoleptik menunjukkan ikan tetap segar hingga kapal kembali ke pelabuhan, sehingga nilai jual tangkapan meningkat.

Dr Ayi menyebutkan bahwa teknologi pendingin tenaga surya ini dapat mengurangi biaya operasional nelayan hingga 30 persen karena tidak perlu membeli es. Selain itu, kualitas ikan yang terjaga dapat meningkatkan harga jual sebesar 10–15 persen.

Ia menambahkan bahwa teknologi ini mendukung upaya transisi energi bersih dan ekonomi biru yang sedang digencarkan pemerintah.

Nelayan diharapkan tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga bagian dari penerapan energi terbarukan di sektor kelautan.

Setelah berhasil diuji coba di beberapa wilayah pesisir Jawa Barat, IPB University menggandeng Kementerian Kelautan dan Perikanan, United Nations Development Programme (UNDP), serta PT Cahaya Hijau Indonesia untuk memperluas penggunaan teknologi ini.

Rencananya, PPTS akan mulai diterapkan di wilayah perikanan potensial seperti Tanimbar dan Morotai.

Program tersebut juga berkaitan dengan SeaBLUE Palka Pendingin Project yang menargetkan penerapan sistem serupa pada 300 kapal nelayan.

Saat ini, teknologi PPTS dalam proses menuju komersialisasi dan sudah didaftarkan sebagai paten dengan nomor pendaftaran P00202506400. Publikasi ilmiah juga disiapkan sebagai bagian dari hilirisasi riset IPB University.

Palka Pendingin Tenaga Surya menjadi salah satu contoh riset IPB University yang langsung menyentuh masyarakat pesisir.

Dengan memanfaatkan energi bersih, teknologi ini memberi peluang bagi nelayan kecil untuk meningkatkan pendapatan tanpa membebani lingkungan laut. (Raul/BSI)

Editor : Yosep Awaludin
#nelayan #pendingin #ipb university