Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Kisah Guru Inspiratif di Kota Bogor, Keterbatasan Penglihatan Bukan Halangan Meraih Harapan

Muhamad Rifki Fauzan • Selasa, 25 November 2025 | 13:47 WIB
Rafik Akbar, Guru PAI SDN Pengadilan 5 Kota Bogor
Rafik Akbar, Guru PAI SDN Pengadilan 5 Kota Bogor

RADAR BOGOR - Di SDN Pengadilan 5 Kota Bogor, sosok guru bernama Rafik Akbar menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Ia adalah penyandang tunanetra yang tiap hari menjadi guru dan mengajar Pendidikan Agama Islam kepada siswa di sekolah tersebut.

Perjalanan hidupnya menjadi guru penuh fase naik turun, dari kehilangan penglihatan di usia 12 tahun hingga akhirnya menemukan panggilan sebagai pendidik.

Dari situ ia belajar berdamai dengan diri sendiri, lalu mencoba berdiri dan melangkah menuju masa depan yang ia pilih sendiri.

“Saya butuh lima tahun untuk berdamai dengan keadaan, dari SMP sampai kelas dua SMA. Baru setelah itu saya mulai percaya diri kemana-mana menggunakan tongkat,” kata Rafik

Meski tak dapat melihat, Rafik hadir dalam kelas layaknya guru lain yang penuh energi. Ia justru memaksimalkan indra lain untuk menjaga dinamika belajar tetap hidup dan menyenangkan bagi siswa.

Bukan sekali dua kali situasi kelas menguji dirinya sebagai pendidik. Namun, kepekaan pendengaran, penciuman, hingga naluri membuatnya tetap dapat mengontrol kelas tanpa kehilangan wibawa.

“Kalau tidak menggunakan penglihatan, otomatis indra lain bekerja lebih maksimal. Kadang dari suara gerakan, aroma makanan, sampai insting yang jalan sendiri,” ujarnya

Tidak sedikit siswa yang awalnya bingung bagaimana harus berinteraksi dengan seorang guru tunanetra.

Rafik selalu mengambil posisi sebagai pihak yang mendekat lebih dulu, agar siswa merasa diayomi dan tidak canggung.

Dari pembiasaan itu, perlahan ruang kelas menjadi tempat belajar tentang empati, keberanian, dan persamaan.

Murid-murid akhirnya tumbuh saling memahami dan membangun pola komunikasi yang lebih manusiawi.

“Saya selalu bilang, kalau kamu melihat Bapak, jangan tunggu Bapak menyapa duluan karena Bapak tidak bisa melihat kamu. Mereka akhirnya mulai inisiatif menyapa duluan,” jelasnya

Di awal ia mengajar, banyak orang tua meragukan kemampuannya mengajar dengan kondisi yang ia miliki.

Namun, Rafik memilih menjawab bukan dengan pembuktian verbal, melainkan lewat kedekatan nyata dengan siswa di kelas.

Pada jam istirahat, Rafik memilih tetap berada di kelas, makan bersama, mendengar cerita siswa, dan bercanda sebagaimana guru yang melekat dalam kehidupan anak-anaknya. Dari sana kepercayaan wali murid pelan-pelan tumbuh natural dan berdasar pengalaman langsung.

“Banyak orang tua kemudian bilang anaknya justru paling menunggu pelajaran saya karena pembelajaran selalu dibalut permainan dan jadi lebih mudah dipahami,” paparnya.

Metode belajar Rafik sangat khas di dunia anak. Ia merancang ice breaking yang harus melibatkan seluruh siswa agar tidak ada anak pendiam, pemalu, atau malas yang terasing dari kelas.

Baginya, pembelajaran bukan soal ceramah satu arah, melainkan membangun suasana aktif, bermain, bergerak, dan mengalami.

Tanpa siswa sadari, pelajaran agama tersampaikan di tengah aktivitas yang mereka nikmati bersama.

“Breaking yang saya pakai harus membuat semua siswa bergerak dan aktif. Siswa akhirnya belajar tanpa merasa sedang dibebani pelajaran.”

Perjalanan menjadi guru tidak datang begitu saja. Ia awalnya ingin masuk SLB pasca kehilangan penglihatan, namun para mentor psikososial meyakinkannya bahwa kemampuan berpikirnya tetap otentik dan setara dengan siswa lain.

Akhirnya ia melanjutkan seluruh pendidikan di sekolah umum hingga kuliah, dan dari perjalanan itulah ia mulai melihat betapa pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga perubahan hidup.

“Kata mentor saya, kamu tidak punya hambatan lain selain penglihatan, maka berkompetisilah dengan siswa normal. Ternyata benar, setiap kesulitan ada kemudahan,” terangnya

Inspirasi menjadi guru juga datang dari ayahnya yang merupakan guru mengaji dan banyak membantu orang memperbaiki pemahaman agama.

Rafik melihat betapa kemuliaan guru bukan ditentukan dari pangkat, tapi dari seberapa jauh pengaruhnya pada hidup orang lain.

Itulah yang kemudian menuntun langkahnya saat memilih jalur pendidikan di perguruan tinggi. Hingga akhirnya ia diterima sebagai ASN dan menempati SDN Pengadilan 5 Kota Bogor.

“Melihat bagaimana ayah saya mengajar membuat saya berpikir, ternyata jadi guru itu nikmat juga. Banyak orang terbantu karenanya,” beber Radik

Pada 2025, Rafik mendapatkan pengakuan sebagai salah satu guru inspiratif dari Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Jawa Barat. Ia bersaing dengan ratusan PNS lain dan lolos berlapis-lapis tahap seleksi.

Dalam proses itu ia menulis makalah berjudul Mengajar Tanpa Melihat, Menyentuh Hati Tanpa Batas, yang kemudian ia presentasikan langsung di depan juri hingga sesi visitasi di sekolah.

“Makalah saya menyinggung tantangan saya mengajar sebagai tunanetra dan bagaimana dampaknya bagi siswa di sekolah maupun di luar sekolah,” ucapnga

Sekian tahun mengabdi, Rafik kini memiliki mimpi baru untuk masa depan pendidikan Indonesia.

Ia berharap kelak bisa membangun lembaga pendidikan inklusif yang memberi keadilan belajar bagi seluruh anak tanpa memandang latar belakang keluarga maupun kondisi fisik.

Tugas guru baginya bukan hanya mencerdaskan, tetapi membukakan pintu hidup yang sebelumnya tidak pernah terlihat oleh anak-anak. Dan ia sudah memulainya dari ruang kelas kecil bernama SDN Pengadilan 5.

“Saya ingin nanti ada lembaga pendidikan inklusif yang adil bagi semua, entah itu anak kaya, miskin, disabilitas atau non-disabilitas,” pungkasnya. (bay)

Editor : Yosep Awaludin
#kota bogor #guru #SDN Pengadilan 5 #tunanetra