Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Nilai TKA Bahasa Inggris Rendah, Pengamat Ingatkan Alarm Serius Dunia Pendidikan

Muhamad Rifki Fauzan • Rabu, 7 Januari 2026 | 17:14 WIB
Dekan FKIP UIKA Bogor, Nanik Retnowati.
Dekan FKIP UIKA Bogor, Nanik Retnowati.

RADAR BOGOR - Hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) Bahasa Inggris siswa secara nasional masih jauh dari harapan.

Kondisi ini menuai sorotan berbagai pihak, terutama di kalangan pakar pendidikan.

Dekan FKIP UIKA Bogor, Nanik Retnowati mengatakan rata-rata siswa hanya mendapat nilai 24,93 dari skala 100. Kondisi ini disebutnya sangat memprihatinkan.

“Angka ini bukan sekadar rendah, tetapi sudah menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan kita,” ujar Nanik dalam keterangan tertulisnya

Ia menilai rendahnya capaian tersebut tidak bisa dipandang sebagai persoalan akademik semata.

Kondisi ini menunjukkan lemahnya kemampuan komunikasi Bahasa Inggris peserta didik secara umum.

“Ini menandakan pembelajaran Bahasa Inggris belum berhasil membentuk keterampilan yang fungsional,” katanya.

Nanik menjelaskan, posisi Bahasa Inggris di Indonesia masih sebagai bahasa asing, bukan bahasa kedua.

Hal itu membuat interaksi peserta didik dengan Bahasa Inggris sangat terbatas di luar ruang kelas.

“Bahasa Inggris hanya hadir saat jam pelajaran, tidak menjadi bagian dari keseharian siswa,” ujarnya.

Kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah negara tetangga yang menggunakan Bahasa Inggris dalam aktivitas sehari-hari.

Akibatnya, kemampuan berbahasa berkembang lebih cepat karena sering digunakan.

“Penggunaan bahasa dalam konteks nyata sangat berpengaruh terhadap penguasaan bahasa,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pendekatan pembelajaran yang masih bersifat konvensional.

Pembelajaran dinilai terlalu fokus pada struktur dan tata bahasa, bukan pada makna dan komunikasi.

“Siswa hafal rumus grammar, tapi kesulitan memahami teks sederhana,” katanya.

Padahal peserta didik saat ini sangat akrab dengan teknologi digital sejak usia dini.

Potensi tersebut seharusnya bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran Bahasa Inggris yang lebih komunikatif.

“Anak-anak sudah terbiasa dengan gawai, tapi belum diarahkan untuk belajar bahasa secara aktif,” ujarnya.

Inovasi metode pembelajaran menjadi kebutuhan mendesak. Pembelajaran tidak cukup hanya berlangsung di kelas, tetapi harus terhubung dengan kehidupan sehari-hari.

“Bahasa itu harus dipraktikkan, bukan hanya dipelajari,” tegasnya.

Selain metode, sistem evaluasi juga perlu dibenahi. Penilaian selama ini dinilai terlalu menekankan aspek struktur bahasa.

“Tes seharusnya lebih menilai kemampuan memahami dan menggunakan bahasa,” katanya.

Ia menegaskan, pembenahan pembelajaran Bahasa Inggris tidak bisa dilakukan secara parsial.

Diperlukan perubahan paradigma secara menyeluruh dari semua pemangku kepentingan.

“Kita harus beralih dari pembelajaran teori ke pembelajaran yang bermakna,” ujarnya.

Nanik berharap Bahasa Inggris tidak lagi menjadi momok bagi peserta didik.

Dengan pendekatan yang tepat, Bahasa Inggris bisa menjadi keterampilan hidup yang relevan.

“Bahasa Inggris seharusnya menjadi bekal generasi muda menghadapi dunia global,” pungkasnya.(bay)

Editor : Alpin.
#pendidikan #bahasa inggris #Tes Kompetensi Akademik