RADAR BOGOR – Upaya memperkuat ketangguhan masyarakat desa terhadap ancaman bencana terus digencarkan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Unpak dan Universitas Trisakti.
PkM Unpak bekerjasama dengan Universitas Trisakti ini bertajuk “Peningkatan Kapasitas Desa Tangguh Bencana melalui Edukasi dan Pelatihan Inarisk Personal”.
Kegiatan ini diinisiasi Universitas Pakuan (Unpak) bekerja sama dengan Universitas Trisakti, dan bermitra dengan Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor.
Program ini hadir sebagai respons atas meningkatnya risiko bencana gerakan tanah di Desa Bojong Koneng yang telah berdampak pada keselamatan warga dan keberlanjutan kehidupan sosial-ekonomi desa.
Wilayah ini diketahui memiliki tingkat kerawanan tinggi, terutama di sejumlah kampung yang berada pada lereng-lereng curam.
Kerawanan Tinggi Gerakan Tanah di Bojong Koneng
Secara geomorfologi, Desa Bojong Koneng didominasi oleh perbukitan dengan lereng curam hingga tegak. Kondisi ini diperkuat oleh karakteristik geologi berupa lapisan napal dan lempung yang mudah jenuh air.
Saat curah hujan tinggi, tanah menjadi rentan mengalami amblesan maupun pergerakan tanah, terutama ketika air meresap dan melemahkan struktur lapisan.
Situasi tersebut diperparah oleh perkembangan permukiman yang semakin padat, penggunaan lahan yang belum sepenuhnya memperhatikan aspek konservasi, serta keterbatasan upaya mitigasi yang berbasis masyarakat.
Dampaknya, ancaman bencana tidak hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga persoalan sosial dan ekonomi warga.
Berdasarkan laporan pemeriksaan Badan Geologi pada tahun 2022, di Kampung Curug Desa Bojong Koneng tercatat terjadi amblesan tanah yang mengakibatkan kerusakan rumah warga, jalan kampung, serta lahan perkebunan.
Retakan dan penurunan tanah masih dapat diamati hingga saat ini, mengindikasikan potensi pergerakan tanah berulang yang perlu diantisipasi dengan lebih serius.
Longsor Hampir Tiap Tahun, Ratusan Rumah Terdampak
Menurut informasi dari Kepala Desa Bojong Koneng, wilayah Kampung Cicurug mengalami kejadian longsoran hampir setiap tahun, terutama saat musim hujan.
Dampaknya signifikan, dengan sekitar 400 rumah warga tercatat mengalami kerusakan ringan hingga berat.
Kondisi ini mencapai puncaknya pada tahun 2025, ketika sekitar 100 rumah warga di Kampung Cicurug terpaksa direlokasi ke Kampung Pasir Karet, Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang.
Relokasi dilakukan karena risiko bencana di lokasi semula dinilai terlalu tinggi untuk ditinggali.
Peristiwa tersebut menjadi penegasan nyata bahwa desa memerlukan strategi mitigasi jangka panjang yang kuat, sistematis, dan melibatkan peran aktif masyarakat.
Ancaman Geologi: Batulempung yang Mudah Melemah Saat Basah
Hasil laporan pemeriksaan Badan Geologi juga menggambarkan kondisi geologi spesifik di lokasi rawan, yakni keberadaan lapisan batulempung berwarna hitam yang mudah melemah saat terkena air.
Orientasi kemiringan lapisan ini sejalan dengan arah lereng, sehingga saat kondisi basah dan jenuh, material tanah berpotensi bergerak mengikuti gravitasi.
Topografi setempat membentuk cekungan yang berfungsi sebagai area tangkapan air (catchment area).
Ketika hujan deras turun, aliran air permukaan yang melewati saluran tidak kedap meningkatkan kejenuhan lereng.
Lapisan batulempung menjadi semakin lunak dan memicu pergerakan tanah lambat dengan arah dominan ke utara.
Permasalahan ini menimbulkan ancaman langsung terhadap keselamatan masyarakat, keberlanjutan ekonomi, hingga kelayakan infrastruktur desa.
Literasi Kebencanaan Masih Rendah
Di sisi lain, persoalan utama yang dihadapi desa adalah rendahnya pemahaman masyarakat terhadap risiko bencana gerakan tanah.
Sebagian besar warga belum mengenali tanda-tanda awal pergerakan tanah, seperti munculnya retakan, perubahan kemiringan tanah, atau tanda-tanda deformasi pada bangunan.
Akibatnya, respons masyarakat cenderung terjadi setelah bencana berlangsung.
Tidak kalah penting, pemanfaatan teknologi pendukung mitigasi juga masih terbatas. Aplikasi Inarisk Personal yang disediakan BNPB – yang dapat membantu masyarakat melakukan asesmen mandiri risiko bencana di tingkat rumah tangga – belum dikenal secara luas oleh warga.
Padahal, penggunaan teknologi sederhana seperti ini dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan kesiapsiagaan, mempercepat pengambilan keputusan, dan mengurangi potensi kerugian.
Edukasi dan Pelatihan Inarisk Personal
Melalui kegiatan PkM ini, tim dari Universitas Pakuan dan Universitas Trisakti mendorong penguatan kapasitas warga dengan pendekatan edukasi dan pelatihan yang aplikatif. Fokus utama kegiatan meliputi:
Edukasi kebencanaan gerakan tanah: mengenali penyebab, tanda-tanda awal, dan langkah mitigasi sederhana yang dapat dilakukan warga.
Pelatihan penggunaan Inarisk Personal: pendampingan langsung agar warga mampu melakukan penilaian risiko secara mandiri, memahami hasil asesmen, dan menyusun langkah kesiapsiagaan di rumah tangga.
Penguatan mitigasi berbasis masyarakat: mendorong terbentuknya budaya siaga, komunikasi risiko yang baik, serta perencanaan yang lebih terarah dalam menghadapi musim hujan.
Melalui pelatihan ini, warga diharapkan tidak lagi sekadar menjadi penerima dampak bencana, namun mampu bertransformasi menjadi komunitas yang proaktif dalam membaca risiko dan melakukan pencegahan.
Menuju Desa yang Lebih Tangguh
Kolaborasi perguruan tinggi dan pemerintah desa ini diharapkan dapat menjadi model penguatan ketangguhan desa yang berkelanjutan.
Edukasi dan literasi kebencanaan tidak hanya penting untuk menghadapi situasi darurat, tetapi juga untuk membangun kebiasaan hidup yang lebih aman, termasuk dalam pengelolaan lahan, pembangunan permukiman, serta kesiapsiagaan keluarga.
“Penguatan kapasitas masyarakat adalah kunci. Ketika warga memahami risikonya, tahu tanda-tanda awalnya, dan punya alat sederhana untuk menilai ancaman, dampak bencana dapat ditekan,” menjadi semangat utama yang diusung dalam kegiatan ini.
Dengan adanya program Peningkatan Kapasitas Desa Tangguh Bencana melalui Edukasi dan Pelatihan Inarisk Personal, Desa Bojong Koneng diharapkan semakin siap menghadapi ancaman gerakan tanah dan mampu membangun mitigasi berbasis komunitas demi keselamatan dan keberlanjutan kehidupan warganya.(*)
Editor : Alpin.