RADAR BOGOR - Institut Ummul Quro Al-Islami (IUQI Bogor) memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW sekaligus tasyakuran hari lahir IUQI Bogor ke-10 dengan tema '1 Dekade Berkhidmat, Energi Baru IUQI Maju'.
Acara diawali dengan lantunan sholawat marawis Pesantren Mahasiswa IUQI Bogor yang menciptakan suasana khidmat dan penuh keberkahan.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh MC dan dihadiri oleh civitas akademika IUQI Bogor, para ulama, tokoh masyarakat, serta tamu undangan.
Pembacaan ayat suci Al-Qur’an dikumandangkan oleh Ustaz Baharudin Nasution, menambah kekhusyukan rangkaian acara.
Dalam sambutannya, Rektor IUQI Bogor H. Syamsul Rizal menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh panitia serta pihak yang telah berkontribusi dalam perjalanan IUQI selama satu dekade.
Menurutnya, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikembangkan seiring bertambahnya usia lembaga.
"Mengutip pesan Imam Al-Ghazali tentang peran unsur manusia: hati sebagai raja, akal sebagai penasihat, ruh sebagai penggerak, dan nafsu sebagai pegawai," ungkapnya. Rabu 21 Januari 2026.
Sebagai simbol rasa syukur, dilakukan pemotongan tumpeng oleh pimpinan IUQI Bogor. Acara dilanjutkan dengan ceramah ilmiah oleh KH Aep Saepudin.
Ia menekankan empat perkara utama yakni menjaga hubungan dengan Allah dan sesama manusia, keyakinan bahwa kebenaran akan diganti Allah dengan kebaikan.
Kemudian pentingnya budi pekerti dan etika, serta makna syukur yang diwujudkan melalui hati, lisan, dan anggota tubuh.
Selanjutnya, KH Sudrajat menyampaikan pemaparan terkait MoU antara IUQI Bogor dan BAZNAS Kabupaten Bogor, yang membuka ruang kerja sama dan dukungan sesuai kebutuhan IUQI dengan prinsip komunikasi yang baik dan benar.
Ia juga mengingatkan pentingnya memuliakan bulan Rajab sebagai jalan untuk memuliakan bulan Syaban dan Ramadhan.
Serta menegaskan bahwa perintah shalat merupakan hadiah besar Isra Mi’raj yang diterima Rasulullah SAW secara langsung tanpa perantara.
Tausiah utama disampaikan oleh Syaikh Ammar Azmi Ar-Rafati Al-Jailani Al-Hasani, yang membahas urgensi pendidikan akademik di era digitalisasi.
Syaikh Ammar menekankan pentingnya belajar secara langsung (face to face) dengan guru sebagai jalan membangun akal, makrifat, akhlak, dan peradaban.