RADAR BOGOR - Sebuah bangsa dapat eksis sampai saat ini merupakan sebuah perjalanan dalam mengarungi lika-liku dinamikanya.
Ungkapan “Man arafa nafsahu faqod ‘arafa robbahu” agaknya bisa ditafsirkan secara lebih luas, yaitu “bangsa mana saja yang mengetahui jatidirinya, maka dia telah mengetahui mengapa ia ada.”
Bangsa yang telah mengetahui jati dirinya, maka sejatinya mereka sudah menapaki pintu kemajuannya.
Bangsa Eropa, mereka maju karena mereka menggali Khazanah peradaban Yunani dan memperkuatnya dengan Khazanah pemikir Islam.
Hal ini membawa mereka pada abad pencerahan yang ditandai dengan ditemukannya mesin cetak.
Dengan adanya mesin cetak ini, mereka gencar menyebarkan pengetahuan yang mencerahkan masyarakat Eropa saat itu dan membawa mereka keluar dari cara berfikir jumud.
Peradaban Islam mampu memimpin dunia hingga berabad-abad tidak lepas dari peran para cendikiawannya yang semangat menggali nilai-nilai Islam dalam berbagai macam lini kehidupan.
Hal ini, yang kemudian membawa peradaban Islam ini dikenal oleh dunia dan memberikan kontribusi besar bagi kemajuan bangsa.
China yang saat ini menjadi kekuatan ekonomi dunia juga mampu memahami akan jati dirinya.
Mereka dulunya pernah menjadi negara yang terbelakang dan miskin yang bermula pada tahun 1960-an.
Pada saat itu perekonomian China dikendalikan oleh pemerintah pusat yang menyebabkan China menjadi negara yang terisolasi dalam perdagangan.
China juga pernah mengalami kelaparan dalam skala besar selama tiga tahun.
Pada tahun 1978-an China melakukan reformasi ekonomi yang kemudian menjelma menjadi raksasa ekonomi dunia seperti saat ini.
Singapura menjadi negara maju juga tidak lepas dari kesadaran mereka mengetahui akan keadaan dirinya.
Pimpinannya menyadari bahwa Singapura tidak memiliki sumberdaya alam dan diapit oleh negara-negara besar di sekitarnya.
Jika kemudian negara Singapura diserang, maka tamatlah sudah.
Oleh karena itu, Singapura serius berinvestasi pada sumberdaya manusia mereka.
Kemudian, bagaimana dengan Indonesia? Indonesia pada dasarnya memiliki Sejarah yang Panjang dari zaman Majapahit yang kekuasaanya meliputi Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Singapura, dan Sebagian wilayah Filipina.
Banyak Khazanah-Khazanah yang perlu digali. Indonesia pernah menjadi pusat pengembangan agama Hindu Budha pada masa Sriwijaya di Asia Tenggara.
Samudera Pasai pernah menjadi pusat studi agama Islam dan tempat perkumpulan ulama dari seluruh dunia.
Jika kita merenung sejenak, maka bangsa kita ini masih belum mengetahui jati dirinya.
Bangsa kita masih cenderung mengikuti budaya asing dan terkadang menganggap rendah budayanya sendiri.
Sifat assimilator seperti ini yang diungkapkan oleh Ali Syariati menjadi penyakit bagi kemajuan bangsa.
Dalam aspek komunikasi, nampaknya anak-anak mud akita lebih nyaman berkomunikasi dengan cara mencampur dengan Bahasa Inggris.
Dari sisi kuliner nampaknya makanan nampaknya Rawon masih kalah dengan Ramen padahal Rawon pernah dinobatkan sebagai sup terenak di dunia tahun 2020.
Dari sisi metodologi dan sains nampaknya lembaga pendidikan kita dihegemoni oleh sains Barat yang kental dengan Positivisme yang tentunya berbeda dengan cara berfikir orang Indonesia.
Satu-satunya cara agar bangsa kita dapat bersaing dengan bangsa lain adalah dengan cara mempelajari jati diri kita sebagai bangsa dan kemudian dikonsepsikan dalam bentuk paradigma agar kemudian diajarkan kepada anak cucu kita.
Dengan cara ini kita mampu memandang diri kita sebagai bangsa yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lainnya.
Sudah saatnya Indonesia menggali khazanahnya sendiri baik dari sisi logika komunikasi, metode pendidikan, politik, etika sosial, dan ekonomi.
Kita harus ingat bahwa Pancasila pernah menjadi inspirasi bagi 27 negara Eropa dalam membentuk Eropa.
Kita lupa bahwa Obama dan Mahatir waktu berkunjung ke Indonesia mereka ditanya oleh wartawan, “apakah Anda mampu memimpin Indonesia?” jawaban mereka sama “Tidak, karena Indonesia bangsa yang besar, memiliki banyak suku, pulau dan budaya yang berbeda-beda.”
Sudah saatnya kita menggali Khazanah kita sendiri agar tidak menjadi bangsa yang mengekor pada bangsa lainnya. (*)
Irwan Maulana
Dosen Institut Ummul Quro al Islami Bogor
Editor : Siti Dewi Yanti