RADAR BOGOR – Rektor IPB University, Dr Alim Setiawan Slamet menegaskan bahwa perguruan tinggi tetap menjadi penentu arah peradaban di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Hal itu disampaikannya dalam sambutannya di Sidang Wisuda Program Doktor, Magister, dan Sarjana IPB University Tahap VI Tahun Akademik 2025/2026, Rabu 11 Februari 2026.
“Hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagi saudara semua, dan bagi saya secara pribadi, hari ini juga memiliki makna tersendiri, karena untuk pertama kalinya dihadapan Sidang Wisuda ini sebagai Rektor IPB University,” ujarnya, Rabu 11 Februari 2026.
Ia menjelaskan, upacara wisuda di IPB selalu sarat dengan tradisi yang mencerminkan jati diri kampus sebagai perguruan tinggi berbasis agromaritim.
“Tradisi itu tercemin dalam toga yang kita kenakan, proses yang kita jalani dengan hikmat, serta kebanggaan sebagai bagian dari perguruan tinggi yang lahir dari cita-cita besar bangsa di bidang agromaritim,” katanya.
Namun demikian, IPB tidak hanya hidup dari tradisi. Menurutnya, kampus harus terus bertransformasi, bergerak maju, berubah dan menjawab segala tantangan zaman.
“Sebagian besar dari saudara memulai perjalanan sebagai mahasiswa IPB University pada masa yang tidak mudah. Saudara hadir, ketika dunia masih memulihkan diri dari pandemi, ketika aktivitas kampus harus beradaptasi, dan ketika kebersamaan tidak selalu dapat dirayakan secara utuh,” tuturnya.
Ia pun menyampaikan apresiasi karena para lulusan dinilai tidak sekadar bertahan, tetapi bangkit dan memberi warna baru bagi IPB University.
Dalam pidatonya, Alim juga menanggapi pertanyaan yang kerap muncul terkait relevansi universitas di era AI. Menurutnya, justru di tengah kecanggihan teknologi, peran kampus semakin penting.
“Bahkan di tengah kecerdasan buatan, yang mampu menjawab hampir semua pertanyaan, muncul keraguan, apakah kita masih perlu belajar, dan apakah kampus masih dibutuhkan ketika mesin AI terasa lebih cepat dan lebih tahu,” jelasnya.
Ia menegaskan, pertanyaan tersebut tidak untuk dihindari, melainkan menjadi ujian bagi perguruan tinggi untuk menjawabnya secara jujur dan tegas.
“Universitas termasuk IPB University, hadir untuk menemukan dan mengembangkan pengetahuan dan teknologi, serta membentuk manusia pembelajar,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung capaian swasembada beras yang diumumkan pemerintah pada akhir 2025 sebagai salah satu bukti kontribusi nyata IPB.
“Dimana kontribusi varietas IPB 9G dan juga varietas unggul lainnya, serta berbagai inovasi unggul IPB University, diakui secara nasional,” tegasnya.
Alim menambahkan, di era kecerdasan buatan, tantangan terbesar manusia bukan lagi sekadar menemukan jawaban, melainkan menentukan pertanyaan yang benar.
AI mampu mengolah data dalam skala besar dan membantu pengambilan keputusan, namun tidak memiliki rasa ingin tahu, keraguan intelektual, maupun nurani.
Karena itu, universitas menjadi ruang untuk melatih daya kritis, integritas, serta tanggung jawab moral agar teknologi dapat diarahkan untuk menjawab persoalan kemanusiaan seperti pangan, lingkungan, kesehatan, keadilan sosial, dan keberlanjutan.
“Universitas adalah ruang di mana kebenaran tidak ditentukan oleh popularitas, melainkan oleh integritas proses dan kekuatan argumen,” pungkasnya.
Ia pun menutup dengan menekankan bahwa kampus adalah ruang pertemuan ilmu, nilai, dan kemanusiaan.
Meski tidak sempurna, universitas tetap menjadi tempat paling jujur dalam mencari dan merawat kebenaran di tengah perubahan zaman. (cr1)
Editor : Yosep Awaludin