RADAR BOGOR – Sebanyak 367 mahasiswa asal Kota Bogor menerima beasiswa di Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor.
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menyebut, jumlah tersebut diharapkan terus bertambah agar semakin banyak sarjana asal Kota Bogor yang berkontribusi dalam pembangunan.
Hal itu disampaikan Dedie saat memberikan arahan kepada para penerima beasiswa di Aula Prof. H. Abdullah Siddiq, UIKA Bogor, Kamis, 12 Februari 2026.
Dedie menjelaskan, 367 mahasiswa tersebut menerima beasiswa dari empat sumber pembiayaan yakni dari Universitas Ibn Khaldun, Kartu Indonesia Pintar (KIP), Pemerintah Kota Bogor, serta Baznas.
“Totalnya ada 367 mahasiswa, sumbernya dari UIKA, KIP, Pemkot Bogor, dan Baznas, artinya ada empat sumber pembiayaan yang bersama-sama mendukung pendidikan mahasiswa kita,” ujarnya.
Menurut Dedie, ke depan jumlah penerima beasiswa harus terus ditingkatkan. Ia berharap perguruan tinggi yang berada di wilayah Kota Bogor, seperti IPB University, UIKA, Universitas Pakuan, IBIK, serta kampus lainnya, dapat memperbanyak kuota beasiswa bagi mahasiswa asal Kota Bogor.
“Semakin banyak sarjana asal Kota Bogor tentu akan semakin baik, mereka nantinya bisa berkiprah di mana pun dan membantu pembangunan, baik di daerah maupun di tingkat nasional,” jelasnya.
Terkhusus beasiswa dari Pemerintah Kota Bogor, Dedie menegaskan prioritas diberikan kepada mahasiswa dari keluarga kurang mampu yang memiliki prestasi akademik memadai.
“Kalau yang mampu secara ekonomi dan berprestasi, silakan membiayai diri sendiri karena kita yakin dengan kemampuan keuangannya, fokus kita membantu yang memang membutuhkan namun tetap memenuhi syarat akademik,” tandasnya.
Tak hanya mendorong pendidikan di dalam negeri, Dedie juga mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan peluang studi ke luar negeri. Namun, menurutnya, diperlukan kesiapan yang matang, tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga kemampuan nonakademik.
“Tantangan mahasiswa saat ini semakin kompleks, sehingga dibutuhkan kesiapan yang lebih matang dalam menghadapi persaingan global,” jelasnya.
Ia menambahkan, mahasiswa harus memiliki penguasaan akademik yang baik, kemampuan komunikasi yang mumpuni, serta mampu membangun jejaring yang kuat.
“Selain hard skill, soft skill juga sangat penting. Mahasiswa harus mampu membangun sinergi, menjalin komunikasi, dan tidak mudah menyerah, ketika belajar di luar negeri, mereka harus punya jaringan dan dukungan lingkungan agar bisa bertahan sampai menyelesaikan studi,” tegasnya.
Dengan dukungan berbagai pihak, Pemkot Bogor berharap akses pendidikan tinggi bagi warga kurang mampu semakin terbuka, sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak sarjana yang membawa nama baik Kota Bogor. (uma)
Editor : Eka Rahmawati