Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Limbah Kulit Durian Disulap Jadi Pembersih, Kreativitas Siswa SMA Plus YPHB Kota Bogor Mengemuka di YRC 2026

Fikri Rahmat Utama • Sabtu, 14 Februari 2026 | 20:20 WIB
Para pemenang YRC 2026 SMA Plus YPHB Kota Bogor menerima hadiah usai dinyatakan sebagai tim terbaik pada babak final.
Para pemenang YRC 2026 SMA Plus YPHB Kota Bogor menerima hadiah usai dinyatakan sebagai tim terbaik pada babak final.

RADAR BOGOR – Kreativitas siswa SMA Plus YPHB Kota Bogor kembali unjuk gigi melalui ajang YPHB Research Camp (YRC) 2026.

Berbagai inovasi lahir dari tangan pelajar SMA Plus YPHB, salah satunya pemanfaatan limbah kulit durian menjadi campuran pembersih rumah tangga yang ramah lingkungan.

Ketua Pelaksana YRC SMA Plus YPHB, Yuyun Yuliani, menjelaskan kegiatan ini merupakan program kokurikuler yang terintegrasi dengan pembelajaran di kelas.

Seluruh siswa kelas XI dilibatkan untuk menjalani proses riset secara komprehensif, mulai dari perumusan ide hingga presentasi akhir.

“YRC ini kami kemas sebagai kegiatan kokurikuler yang masuk ke nilai rapor. Tujuannya memacu inovasi siswa, sekaligus melatih kolaborasi dan kemampuan berpikir kritis,” ujar Yuyun kepada Radar Bogor, Sabtu 14 Februari 2026.

Ia memaparkan, rangkaian YRC dimulai dari tahap brainstorming pada 19–23 Januari 2026. Selanjutnya, siswa melakukan pengambilan data lapangan di Desa Bantar Agung, Majalengka, pada 26–30 Januari.

Proses berlanjut dengan penulisan laporan pada 2–6 Februari, presentasi 12 Februari, hingga final pada 14 Februari.

Dari total 65 kelompok yang mengikuti program, panitia menyeleksi menjadi 27 kelompok, kemudian mengerucut lagi menjadi sembilan finalis terbaik.

Penilaian dilakukan oleh dewan juri dari BRIN, pihak yayasan, serta Bogor Innovation Award (BIA).

“Penilaian melihat inovasi, kebaruan ide, teknik penulisan, sampai kemampuan mereka memaparkan dan membuktikan isi laporan,” jelasnya.

Sebanyak 265 siswa kelas XI terlibat dalam kegiatan ini dan dibagi ke dalam kelompok kecil beranggotakan lima orang.

Setiap kelompok didampingi guru pembimbing dan tutor eksternal, sehingga proses riset menyerupai kerja peneliti profesional.

Menurut Yuyun, pendekatan berbasis masalah menjadi kunci YRC. Siswa diminta mengamati persoalan nyata di lingkungan, lalu merumuskan solusi inovatif.

“Contohnya kelompok yang melihat banyak limbah kulit durian. Karena sulit terurai, mereka mencoba mengolahnya menjadi campuran pembersih rumah tangga,” tuturnya.

Tak hanya itu, inovasi lain juga bermunculan. Ada tim yang memanfaatkan sekam padi menjadi biofoam sebagai pengganti styrofoam yang lebih ramah lingkungan. Produk biochar untuk penggembur tanah pun turut dikembangkan.

Dari kategori IPS, siswa menciptakan panduan suara otomatis bertajuk “Suara Manson” untuk membantu wisatawan memahami sistem transaksi unik di Pasar Pakuwon, Desa Bantar Agung, yang menggunakan mata uang lokal Benggol.

Ada pula inovasi inhaler herbal berbahan tanaman mentol dengan harga terjangkau. Yuyun menegaskan, YRC merupakan agenda rutin tahunan yang mendukung implementasi Kurikulum Merdeka pada ranah kokurikuler.

Kegiatan ini melibatkan guru lintas disiplin, mulai dari Biologi, Fisika hingga Agama. “Harapannya anak-anak punya bekal untuk dunia perkuliahan, khususnya dalam menulis karya ilmiah dan mempertanggungjawabkan data yang mereka ambil,” katanya.

Ke depan, sembilan finalis YRC 2026 SMA Plus YPHB direncanakan akan didaftarkan mengikuti Bogor Innovation Award pada April mendatang. Sekolah berharap tradisi riset ini terus melahirkan inovator muda.

“Saya ingin semangat meneliti ini tidak berhenti di sini. Mudah-mudahan mereka bisa berprestasi di tingkat kota dan membawa nama baik sekolah,” pungkas Yuyun. (uma)

Editor : Yosep Awaludin
#bogor #SMA Plus YPHB #kulit durian