RADAR BOGOR - Tak hanya mengejar nilai akademik, SMAN 8 Kota Bogor mulai membekali siswanya dengan keterampilan bertani dan jiwa kewirausahaan. Lewat Program Aksi Ekologi, ratusan bibit cabai ditanam di lingkungan sekolah sebagai sarana pembentukan karakter dan life skill.
Kepala SMAN 8 Kota Bogor Denty Dentrijadi menjelaskan program tersebut merupakan bagian dari kegiatan Pesantren Ekologi Ramadan 1447 H/2026 M, mereka memberikan materi sekaligus praktek tentang penerapan aksi ekologi.
Program tersebut dijalankan melalui kerja sama dengan Institut Bisnis dan Informatika Kesatuan (IBI Kesatuan) Bogor, kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat literasi ketahanan pangan di lingkungan sekolah.
“Selain memberikan teori, kegiatan sekolah itu harus efektif, efisien, dan memiliki hasil nyata. Fokus utamanya adalah pembekalan life skill. Saya sudah mencoba mengarahkan agar program ini masuk ke dalam kurikulum atau kegiatan sekolah,” ujar Denty kepada Radar Bogor, Rabu, 4 Maret 2026.
Menurut Denty, pemilihan cabai bukan tanpa alasan, selain menyesuaikan dengan keterbatasan lahan, biaya penanaman relatif murah dan memiliki nilai ekonomis yang menjanjikan.
“Kenapa cabai? Pertama, lahan kita terbatas, kedua, biayanya murah, ketiga ini punya peluang pasar yang bagus untuk masa depan anak-anak, mereka bisa belajar melihat potensi bisnis dari hal sederhana,” jelasnya.
Lebih dari sekadar menanam, Denty menegaskan program ini menjadi sarana membentuk karakter siswa agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan keseimbangan alam.
Ia berharap lulusan SMAN 8 mampu menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijak dalam mengambil keputusan.
“Dengan kegiatan ekologi ini, timbul rasa sayang pada keluarga dan lingkungan, mereka jadi disiplin dan sadar keseimbangan alam, jadi kalau nanti mereka menjadi pengusaha dan ingin menebang pohon, mereka akan berpikir ulang karena tahu dampaknya bisa banjir,” tuturnya.
Ke depan, pihak sekolah berharap program kolaborasi tersebut dapat terus berlanjut dan berkembang, tidak menutup kemungkinan pengembangan dilakukan ke sektor hidroponik maupun perikanan di lahan sempit.
“Sebagai pimpinan, saya mendukung penuh dan memfasilitasi, program dari Pemprov ini bagus sebagai terobosan, kami juga berterima kasih kepada IBI Kesatuan yang telah membantu menjalankan program ini,” tambah Denty.
Sementara itu, Ketua Pelaksana kegiatan, Dhiena Prinsidhiena, menjelaskan secara teknis para siswa dilibatkan sejak awal proses. Mereka memanfaatkan galon plastik bekas sebagai media pot tanam, sekaligus belajar pengelolaan limbah sederhana.
“Siswa kami bagi dalam beberapa kelompok yang terdiri dari kelas 10, 11, dan 12, setiap kelompok bertanggung jawab merawat beberapa tanaman, ada sistem piket dan RPKT agar mereka memiliki rasa tanggung jawab dan rasa memiliki,” ujarnya.
Lebih dari 100 bibit cabai telah didistribusikan kepada siswa dan sebagian besar sudah ditanam sejak Jumat pekan lalu, perawatan dinilai tidak terlalu sulit, tetapi membutuhkan ketelitian dan ketekunan.
“Estimasi panen sekitar dua sampai tiga bulan, nanti akan ada evaluasi perkembangan tanaman dan itu masuk ke nilai praktikum atau rapor mereka,” jelas Dhiena.
Ia mengakui, dalam prosesnya ada kemungkinan tanaman gagal tumbuh atau mati tetapi hal itu justru menjadi bagian dari pembelajaran.
“Kami sediakan bibit cadangan, kalau mati, diganti lagi, supaya mereka tidak patah semangat dan terus belajar, sekolah juga menyiapkan hadiah agar semakin termotivasi,” katanya.
Terkait hasil panen, pihak sekolah memberikan kebebasan kepada siswa, cabai dapat dijual di lingkungan sekolah atau dibawa pulang.
“Biasanya mereka bangga menawarkan ke orang tua, ‘Ini hasil karya aku’, yang jelas, perhitungan anggaran sudah kami siapkan, siswa sangat antusias karena ini penerapan ilmu baru di sekolah,” pungkasnya.
Melalui program Aksi Ekologi ini, SMAN 8 Kota Bogor tidak hanya menanam cabai, tetapi juga menanam nilai tanggung jawab, kemandirian, dan jiwa kewirausahaan pada para siswanya. (uma)
Editor : Eka Rahmawati