RADAR BOGOR - Perjalanan Prof Widyasari meraih gelar guru besar di Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor menyimpan kisah penuh perjuangan dan doa.
Salah satu momen paling berkesan adalah ketika Prof Widyasari mengajak sang ibu ke Tanah Suci untuk memohon kemudahan dalam proses tersebut.
Prof Widyasari mengungkapkan, dirinya sempat diliputi keraguan karena merasa belum memenuhi syarat administratif untuk mengajukan guru besar. Bahkan, saat itu dokumen pengajuan belum sepenuhnya siap.
“Saat itu saya belum yakin, karena merasa belum eligible dan dokumen juga belum sempat disubmit,” ujarnya.
Di tengah keraguan tersebut, ia memilih berangkat umrah bersama sang ibu. Di Tanah Madinah, ia secara khusus meminta doa agar proses pengajuan guru besar dimudahkan.
“Saya ajak ibu umrah dan minta langsung didoakan agar proses guru besar ini dipermudah. Saya selalu percaya doa ibu itu luar biasa,” katanya.
Tak hanya itu, ia juga melibatkan anaknya yang tengah menempuh pendidikan di Turki untuk turut mendoakan. Baginya, doa dari orang yang sedang menuntut ilmu memiliki keutamaan tersendiri.
“Anak saya sedang kuliah, saya percaya doanya makbul. Saya ajak juga ke Madinah untuk ikut mendoakan,” tambahnya.
Seiring berjalannya waktu, berbagai persyaratan yang dibutuhkan mulai terpenuhi dengan dukungan pimpinan kampus yang terus mendampingi prosesnya. Pengajuan yang dilakukan pada Oktober akhirnya membuahkan hasil cepat.
“Alhamdulillah, Januari sudah ada pengumumannya dan saya dinyatakan lolos,” terang Prof Widyasari pasca dikukuhkan jadi Guru Besar, Selasa 31 Maret 2026.
Capaian tersebut menjadikan Prof Widyasari sebagai salah satu guru besar tercepat di lingkungan UIKA.
Ia menyebut, proses menuju gelar tersebut memang membutuhkan waktu panjang dan tidak mudah.
“Guru besar itu rekognisinya tidak sebentar, jadi semua persyaratan sudah diupayakan sejak beberapa tahun sebelumnya,” jelasnya.
Di balik keberhasilannya, sosok orang tua menjadi sumber motivasi utama. Ayahnya dikenal sebagai pembelajar tekun yang terus menempuh pendidikan hingga jenjang doktoral, sementara ibunya senantiasa mengiringi dengan doa.
Kini, di usia 50 tahun, Prof Widyasari yang memulai karier akademik sejak 2011 resmi menyandang gelar guru besar.
Ke depan, ia berkomitmen mengembangkan pembelajaran berbasis teknologi di UIKA, termasuk sistem pembelajaran jarak jauh yang menjangkau mahasiswa hingga luar negeri.
“Kami sedang menyiapkan desain pembelajaran jarak jauh, termasuk multi bahasa agar bisa menjangkau mahasiswa dari berbagai negara,” pungkasnya. (bay)
Editor : Yosep Awaludin