Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Prioritaskan Guru, Baru Bicara Mutu Pendidikan

Lucky Lukman Nul Hakim • Kamis, 2 April 2026 - 09:52 WIB
Bisma Widyawan, Dosen Institut STIAMI dan Anggota Dewan Pendidikan Kota Bogor Periode 2025-2030
Bisma Widyawan, Dosen Institut STIAMI dan Anggota Dewan Pendidikan Kota Bogor Periode 2025-2030

RADAR BOGOR - Setiap kali kita membicarakan peningkatan mutu pendidikan, yang sering muncul dalam diskusi adalah perubahan kurikulum, pembangunan gedung sekolah, digitalisasi pendidikan, atau berbagai program baru. 

Anggaran pendidikan dibahas, program diluncurkan, pelatihan diadakan, sistem diubah. 

Namun ada satu pertanyaan mendasar yang jarang benar-benar kita jawab dengan jujur yakni apakah guru sudah menjadi prioritas utama dalam pembangunan pendidikan?

Baca Juga: YASPI Ash Shoheh Gelar Halal Bihalal, Perkuat Kebersamaan Keluarga Besar Pendidikan

Mutu pendidikan sesungguhnya tidak ditentukan oleh seberapa sering kurikulum berubah, seberapa banyak aplikasi pendidikan dibuat, atau seberapa megah gedung sekolah dibangun. 

Mutu pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas guru yang berdiri di depan kelas setiap hari. 

Di tangan gurulah kurikulum dijalankan, nilai ditanamkan, cara berpikir dibentuk, dan masa depan siswa mulai diarahkan.

Baca Juga: Bantuan Pangan Stimulus Cair 2 April 2026 di Wilayah Ini, Berikut yang Perlu Disiapkan KPM untuk Pengambilan Bansos

Jika kita berbicara tentang mutu pendidikan, maka pembicaraan pertama seharusnya adalah tentang guru. 

Bukan tentang sistem terlebih dahulu, tetapi tentang orang yang menjalankan sistem tersebut.

Investasi terbesar dalam pendidikan seharusnya adalah investasi pada guru. 

Investasi ini paling tidak mencakup dua hal utama, yaitu kesejahteraan dan kompetensi. 

Baca Juga: Serunya Nginap di Goescamp Sentul dari Camping hingga Trekking Goa Semuanya Ada, Cek Harga Tiket dan Fasilitasnya

Kesejahteraan penting karena guru juga memiliki kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. 

Sulit mengharapkan guru fokus meningkatkan kualitas pembelajaran jika masih harus memikirkan kebutuhan dasar sehari-hari. 

Guru yang sejahtera memiliki ruang untuk berpikir, membaca, belajar, dan mempersiapkan pembelajaran dengan lebih baik.

Baca Juga: Rekomendasi Wisata Murah Meriah di Sekitar Jawa Barat untuk Menghabiskan Sisa Liburan Bersama Keluarga

Selain kesejahteraan, kompetensi guru juga harus terus dikembangkan. 

Dunia berubah sangat cepat, karakter siswa berubah, teknologi berkembang, dan cara belajar tidak lagi sama seperti dulu. 

Guru tidak bisa berhenti belajar. 

Baca Juga: Semarak Milad ke-39 Unida Bogor, dari Halal Bihalal hingga Inovasi Energi Nasional

Guru harus terus meningkatkan kompetensi, baik dalam penguasaan materi, metode pembelajaran, maupun pemanfaatan teknologi.

Persoalannya, dalam praktik di lapangan, guru justru sering lebih banyak disibukkan oleh pekerjaan administratif. 

Berbagai laporan, pengisian data, administrasi pembelajaran, dan dokumen lainnya sering kali menyita waktu dan energi guru. 

Tidak sedikit guru yang akhirnya lebih banyak mengerjakan administrasi dibandingkan mempersiapkan pembelajaran atau meningkatkan kompetensi diri.

Baca Juga: SMAN 5 Kota Bogor Rayakan Pelajar Khatam Alquran Selama Ramadhan pada Halal Bihalal

Administrasi memang penting, tetapi jika porsinya terlalu besar, yang terjadi adalah guru menjadi administrator, bukan pendidik. 

Hal ini perlu menjadi perhatian bersama. 

Upaya meningkatkan mutu pendidikan seharusnya diikuti dengan upaya mengurangi beban administratif guru, sehingga guru memiliki lebih banyak waktu untuk belajar, berdiskusi, membaca, dan mengembangkan metode pembelajaran.

Baca Juga: Pencairan Bansos April 2026: PKH dan BPNT Tahap 1 Masih Berjalan, Tahap 2 Segera Menyusul, Tapi KPM Perlu Perhatikan Informasi Berikut Ini

Di sisi lain, kita juga tidak bisa menutup mata terhadap peran guru honorer. 

Dalam kenyataannya, banyak sekolah masih bergantung pada guru honorer untuk menjalankan kegiatan belajar mengajar. 

Mereka mengajar dengan tanggung jawab yang sama, dengan beban kerja yang sering kali sama, tetapi dengan kesejahteraan yang sangat berbeda.

Baca Juga: Gempa Magnitudo 7,3 Guncang Bitung Sulawesi Utara Hari Ini, BMKG Peringatkan Potensi Tsunami, Simak Daftar Wilayah Terdampak

Kita memahami bahwa tidak semua guru bisa langsung menjadi guru tetap karena berbagai keterbatasan. 

Namun demikian, memberikan perhatian dan apresiasi kepada guru honorer tetap sangat penting. 

Pendidikan tetap berjalan setiap hari juga berkat peran mereka.

Tanpa guru honorer, banyak sekolah akan kekurangan guru dan proses belajar mengajar tidak akan berjalan dengan baik.

Baca Juga: Bukan Bansos Tahap 2! BPNT Rp600.000 Cair, Beberapa Daerah Sudah Terima Bantuan per Akhir Maret hingga Awal April 2026

Kurangnya penghargaan terhadap profesi guru dalam jangka panjang akan berdampak pada minat generasi muda untuk menjadi guru. 

Saat ini mulai terlihat gejala menurunnya minat generasi muda untuk menjadi guru. 

Bahkan, tidak sedikit lulusan program studi pendidikan yang pada akhirnya memilih bekerja di bidang lain. 

Baca Juga: Info Bansos Awal April 2026, Tahap 2 Belum Terupdate di SIKS-NG dan Nasib KPM yang Belum Terima Bantuan Tahap 1

Salah satu hal yang perlu mulai dibangun adalah narasi dan pemberitaan yang lebih positif tentang profesi guru. 

Selama ini yang sering muncul justru berita tentang kesejahteraan yang rendah, beban kerja yang tinggi, dan berbagai
persoalan administrasi. 

Kita tentu tidak boleh menutup mata terhadap masalah tersebut, tetapi di sisi lain kita juga perlu membangun optimisme bahwa menjadi guru adalah profesi yang mulia, penting, dan memiliki masa depan. 

Baca Juga: iKONIC Gas Nabung, iKON Siap Guncang Panggung Indonesia Lewat Konser FOUREVER WORLD TOUR

Generasi muda perlu melihat bahwa menjadi guru adalah pilihan yang membanggakan, bukan pilihan terakhir.

Gejala ini tidak boleh kita abaikan. 

Minat menjadi guru yang terus menurun, sementara banyak guru akan memasuki masa pensiun, akan berujung pada masalah kekurangan guru di masa depan. 

Kondisi ini sebenarnya sudah mulai terjadi, termasuk di Kota Bogor. 

Baca Juga: Banyak yang Gak Sadar, Bansos PBI JK Sudah Cair Sejak Akhir Maret 2026, Ini Cara Cek dan Info Penting bagi Penerimanya

Berdasarkan berbagai pemberitaan dan pembahasan di tingkat pemerintah daerah, Kota Bogor saat ini sudah mengalami kekurangan guru dalam jumlah yang cukup besar, bahkan diperkirakan mencapai sekitar seribu guru di berbagai jenjang pendidikan. 

Kekurangan ini terjadi karena banyak guru memasuki masa pensiun sementara rekrutmen guru baru tidak sebanding dengan jumlah yang pensiun. 

Kondisi ini bahkan mendorong kebijakan penggabungan beberapa sekolah sebagai salah satu strategi mengatasi keterbatasan jumlah guru. 

Baca Juga: Menuju Titik Balik, Episode 7-8 ‘Phantom Lawyer’ Siap Guncang Emosi Penonton, Ada Perubahan Besar? Simak Penjelasannya

Jika kondisi ini tidak diantisipasi sejak sekarang, maka beberapa tahun ke depan masalah kekurangan guru bisa menjadi lebih serius.

Persoalan guru tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah saja. 

Perlu duduk bersama seluruh pemangku kepentingan pendidikan, mulai dari pemerintah daerah, sekolah, perguruan tinggi, organisasi profesi guru, dunia usaha, hingga Dewan Pendidikan. 

Baca Juga: Bansos BPNT Susulan Cair Serentak, Saldo Rp600 Ribu Masuk KKS Bank Ini, Ada Tambahan Beras dan Minyak Goreng

Dewan Pendidikan sesuai peran dan fungsinya dapat berkontribusi melalui pemberian pertimbangan kebijakan dan menjembatani berbagai pihak untuk merumuskan solusi jangka panjang terkait pemenuhan dan peningkatan kualitas guru di Kota Bogor.

Jika kita benar-benar ingin meningkatkan mutu pendidikan, maka kita harus mulai dari hal yang paling mendasar, yaitu menjadikan guru sebagai prioritas utama dalam kebijakan pendidikan. 

Bukan hanya dalam slogan, tetapi dalam kebijakan, anggaran, program, dan perhatian nyata.

Pendidikan pada akhirnya adalah proses manusia mendidik manusia. 

Baca Juga: Netizen Berharap Banget, Drama Korea Beyond the Bar Rumornya Bakal Lanjut ke Season 2

Dalam proses itu, peran guru tidak pernah bisa digantikan oleh kurikulum, teknologi, maupun gedung sekolah.

Jika guru sudah menjadi prioritas, barulah kita bicara tentang mutu pendidikan. (*)

oleh:

Bisma Widyawan

Dosen Institut STIAMI dan Anggota Dewan Pendidikan Kota Bogor Periode 2025-2030

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#guru #sekolah #pendidikan