RADAR BOGOR - Setiap kali kita membicarakan peningkatan mutu pendidikan, yang sering muncul dalam diskusi adalah perubahan kurikulum, pembangunan gedung sekolah, digitalisasi pendidikan, atau berbagai program baru.
Anggaran pendidikan dibahas, program diluncurkan, pelatihan diadakan, sistem diubah.
Namun ada satu pertanyaan mendasar yang jarang benar-benar kita jawab dengan jujur yakni apakah guru sudah menjadi prioritas utama dalam pembangunan pendidikan?
Baca Juga: YASPI Ash Shoheh Gelar Halal Bihalal, Perkuat Kebersamaan Keluarga Besar Pendidikan
Mutu pendidikan sesungguhnya tidak ditentukan oleh seberapa sering kurikulum berubah, seberapa banyak aplikasi pendidikan dibuat, atau seberapa megah gedung sekolah dibangun.
Mutu pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas guru yang berdiri di depan kelas setiap hari.
Di tangan gurulah kurikulum dijalankan, nilai ditanamkan, cara berpikir dibentuk, dan masa depan siswa mulai diarahkan.
Jika kita berbicara tentang mutu pendidikan, maka pembicaraan pertama seharusnya adalah tentang guru.
Bukan tentang sistem terlebih dahulu, tetapi tentang orang yang menjalankan sistem tersebut.
Investasi terbesar dalam pendidikan seharusnya adalah investasi pada guru.
Investasi ini paling tidak mencakup dua hal utama, yaitu kesejahteraan dan kompetensi.
Kesejahteraan penting karena guru juga memiliki kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.
Sulit mengharapkan guru fokus meningkatkan kualitas pembelajaran jika masih harus memikirkan kebutuhan dasar sehari-hari.
Guru yang sejahtera memiliki ruang untuk berpikir, membaca, belajar, dan mempersiapkan pembelajaran dengan lebih baik.
Selain kesejahteraan, kompetensi guru juga harus terus dikembangkan.
Dunia berubah sangat cepat, karakter siswa berubah, teknologi berkembang, dan cara belajar tidak lagi sama seperti dulu.
Guru tidak bisa berhenti belajar.
Baca Juga: Semarak Milad ke-39 Unida Bogor, dari Halal Bihalal hingga Inovasi Energi Nasional
Guru harus terus meningkatkan kompetensi, baik dalam penguasaan materi, metode pembelajaran, maupun pemanfaatan teknologi.
Persoalannya, dalam praktik di lapangan, guru justru sering lebih banyak disibukkan oleh pekerjaan administratif.
Berbagai laporan, pengisian data, administrasi pembelajaran, dan dokumen lainnya sering kali menyita waktu dan energi guru.
Tidak sedikit guru yang akhirnya lebih banyak mengerjakan administrasi dibandingkan mempersiapkan pembelajaran atau meningkatkan kompetensi diri.
Baca Juga: SMAN 5 Kota Bogor Rayakan Pelajar Khatam Alquran Selama Ramadhan pada Halal Bihalal
Administrasi memang penting, tetapi jika porsinya terlalu besar, yang terjadi adalah guru menjadi administrator, bukan pendidik.
Hal ini perlu menjadi perhatian bersama.
Upaya meningkatkan mutu pendidikan seharusnya diikuti dengan upaya mengurangi beban administratif guru, sehingga guru memiliki lebih banyak waktu untuk belajar, berdiskusi, membaca, dan mengembangkan metode pembelajaran.
Di sisi lain, kita juga tidak bisa menutup mata terhadap peran guru honorer.
Dalam kenyataannya, banyak sekolah masih bergantung pada guru honorer untuk menjalankan kegiatan belajar mengajar.
Mereka mengajar dengan tanggung jawab yang sama, dengan beban kerja yang sering kali sama, tetapi dengan kesejahteraan yang sangat berbeda.
Kita memahami bahwa tidak semua guru bisa langsung menjadi guru tetap karena berbagai keterbatasan.
Namun demikian, memberikan perhatian dan apresiasi kepada guru honorer tetap sangat penting.
Pendidikan tetap berjalan setiap hari juga berkat peran mereka.
Tanpa guru honorer, banyak sekolah akan kekurangan guru dan proses belajar mengajar tidak akan berjalan dengan baik.
Kurangnya penghargaan terhadap profesi guru dalam jangka panjang akan berdampak pada minat generasi muda untuk menjadi guru.
Saat ini mulai terlihat gejala menurunnya minat generasi muda untuk menjadi guru.
Bahkan, tidak sedikit lulusan program studi pendidikan yang pada akhirnya memilih bekerja di bidang lain.
Salah satu hal yang perlu mulai dibangun adalah narasi dan pemberitaan yang lebih positif tentang profesi guru.
Selama ini yang sering muncul justru berita tentang kesejahteraan yang rendah, beban kerja yang tinggi, dan berbagai
persoalan administrasi.
Kita tentu tidak boleh menutup mata terhadap masalah tersebut, tetapi di sisi lain kita juga perlu membangun optimisme bahwa menjadi guru adalah profesi yang mulia, penting, dan memiliki masa depan.
Baca Juga: iKONIC Gas Nabung, iKON Siap Guncang Panggung Indonesia Lewat Konser FOUREVER WORLD TOUR
Generasi muda perlu melihat bahwa menjadi guru adalah pilihan yang membanggakan, bukan pilihan terakhir.
Gejala ini tidak boleh kita abaikan.
Minat menjadi guru yang terus menurun, sementara banyak guru akan memasuki masa pensiun, akan berujung pada masalah kekurangan guru di masa depan.
Kondisi ini sebenarnya sudah mulai terjadi, termasuk di Kota Bogor.
Berdasarkan berbagai pemberitaan dan pembahasan di tingkat pemerintah daerah, Kota Bogor saat ini sudah mengalami kekurangan guru dalam jumlah yang cukup besar, bahkan diperkirakan mencapai sekitar seribu guru di berbagai jenjang pendidikan.
Kekurangan ini terjadi karena banyak guru memasuki masa pensiun sementara rekrutmen guru baru tidak sebanding dengan jumlah yang pensiun.
Kondisi ini bahkan mendorong kebijakan penggabungan beberapa sekolah sebagai salah satu strategi mengatasi keterbatasan jumlah guru.
Jika kondisi ini tidak diantisipasi sejak sekarang, maka beberapa tahun ke depan masalah kekurangan guru bisa menjadi lebih serius.
Persoalan guru tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah saja.
Perlu duduk bersama seluruh pemangku kepentingan pendidikan, mulai dari pemerintah daerah, sekolah, perguruan tinggi, organisasi profesi guru, dunia usaha, hingga Dewan Pendidikan.
Dewan Pendidikan sesuai peran dan fungsinya dapat berkontribusi melalui pemberian pertimbangan kebijakan dan menjembatani berbagai pihak untuk merumuskan solusi jangka panjang terkait pemenuhan dan peningkatan kualitas guru di Kota Bogor.
Jika kita benar-benar ingin meningkatkan mutu pendidikan, maka kita harus mulai dari hal yang paling mendasar, yaitu menjadikan guru sebagai prioritas utama dalam kebijakan pendidikan.
Bukan hanya dalam slogan, tetapi dalam kebijakan, anggaran, program, dan perhatian nyata.
Pendidikan pada akhirnya adalah proses manusia mendidik manusia.
Baca Juga: Netizen Berharap Banget, Drama Korea Beyond the Bar Rumornya Bakal Lanjut ke Season 2
Dalam proses itu, peran guru tidak pernah bisa digantikan oleh kurikulum, teknologi, maupun gedung sekolah.
Jika guru sudah menjadi prioritas, barulah kita bicara tentang mutu pendidikan. (*)
oleh:
Bisma Widyawan
Dosen Institut STIAMI dan Anggota Dewan Pendidikan Kota Bogor Periode 2025-2030
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim