RADAR BOGOR - Upaya menghadirkan solusi kesehatan berbasis bahan alami kembali ditunjukkan oleh peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB University).
Melalui riset panjang, lahirlah inovasi suplemen herbal bernama Sijaka yang digadang-gadang memiliki potensi sebagai antidiabetes sekaligus antioksidan alami.
Dikutip dari laman resmi IPB University, Sijaka merupakan singkatan dari tiga bahan utama penyusunnya, yakni sirih merah, jahe merah, dan kayumanis yakni tanaman herbal asli Indonesia yang telah lama dikenal memiliki khasiat bagi kesehatan.
Baca Juga: Kabar Gembira! Penyaluran Bansos Triwulan 2 Tahun 2026 Dipercepat, Ini Info Lengkapnya
Produk ini, dikembangkan oleh Prof Mega Safithri, Ketua Departemen Biokimia IPB University, yang telah meneliti biofarmaka sejak tahun 2005.
Dalam penjelasan yang disampaikan Prof Mega Safithri, pengembangan Sijaka berangkat dari kebutuhan akan alternatif pengobatan yang tidak hanya berfokus pada gejala, tetapi juga pada pemulihan fungsi tubuh secara menyeluruh.
Ia menilai, biofarmaka memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan sistem tubuh, terutama dalam menghadapi stres oksidatif akibat radikal bebas.
Secara ilmiah, Sijaka dirancang untuk membantu memperbaiki sel beta pankreas yang rusak akibat paparan radikal bebas.
Selain itu, suplemen ini juga bekerja dengan cara menghambat penyerapan glukosa di usus serta meredam peradangan yang dipicu oleh tingginya kadar gula darah.
Dalam narasi yang disampaikan oleh Prof Mega Safithri, inovasi ini disebut sebagai salah satu bukti keunggulan IPB University dalam pengembangan riset biofarmaka, khususnya di bidang antidiabetes.
Baca Juga: Informasi Penting Khusus KPM yang Sudah Terima Pencairan Bansos Tahap 1 2026 agar Bantuan Lancar
Ia juga menekankan, pendekatan herbal mampu memberikan manfaat jangka panjang karena mendukung keseimbangan sistem redoks tubuh, berbeda dengan obat sintetis yang umumnya hanya meredakan gejala.
Dari sisi pengujian, Sijaka telah melewati uji laboratorium di Saraswanti Indo Genetech (SIG), yang merupakan laboratorium dengan akreditasi standar internasional ISO.
Produk ini juga diproduksi oleh PT Nano Herbaltama Indonesia dengan lisensi resmi, serta didukung oleh pendanaan riset yang telah berjalan selama bertahun-tahun.
Sejak dikembangkan, inovasi ini telah meraih berbagai penghargaan pada tahun 2012, 2016, dan 2019.
Selain itu, hasil uji coba terbatas juga menunjukkan respons positif, meskipun hingga kini produk tersebut masih dalam tahap pengembangan dan belum dipasarkan secara luas.
IPB University juga menjalin kemitraan dengan sejumlah industri seperti PT Nano Herbaltama Indonesia, PT Nanotech Natura, dan PT SOHO Industri Farmasi untuk memperkuat pengembangan biofarmaka di Indonesia.
Baca Juga: Cara Mengubah Desil Bansos yang Tidak Sesuai: Panduan Lengkap untuk Masyarakat
Ke depan, Prof Mega berharap, penelitian ini dapat dilanjutkan ke tahap uji klinis yang lebih komprehensif, khususnya dengan melibatkan Fakultas Kedokteran.
Langkah ini diharapkan dapat mempercepat proses komersialisasi sehingga manfaat Sijaka bisa dirasakan oleh masyarakat luas.
Di sisi lain, inovasi ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian industri farmasi nasional dengan mengurangi ketergantungan terhadap obat impor.
Baca Juga: Tabrak Tiang Listrik, Mobil Fortuner Terbalik di Jalan Transyogi Bogor
Dengan potensi yang dimiliki, Sijaka tidak hanya menjadi simbol kemajuan riset dalam negeri, tetapi juga membuka harapan baru bagi pengembangan pengobatan herbal yang lebih modern, ilmiah, dan berdaya saing global. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim