RADAR BOGOR - Di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi, inovasi teknologi berbasis komunitas hadir untuk membantu petani Indonesia mengambil keputusan lebih tepat.
Institut Pertanian Bogor (IPB University) memperkenalkan Automatic Weather Station (AWS) Komunitas, sebuah jaringan stasiun cuaca otomatis yang dirancang untuk menyediakan data cuaca lokal secara akurat dan real-time.
Inovasi ini dikembangkan oleh tim lintas fakultas IPB University, di antaranya Dr Idung Risdiyanto dan Dr Akhmad Faqih dari Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA, serta Prof Suryo Wiyono dari Fakultas Pertanian.
Baca Juga: TPT di Bojonggede Bogor Longsor, Satu Rumah Rusak Berat, Tiga Warga Dilarikan ke Rumah Sakit
Dalam penjelasan yang dihimpun Radar Bogor dari laman resmi IPB University, AWS Komunitas dirancang sebagai solusi untuk membantu petani menghadapi ketidakpastian cuaca yang semakin ekstrem.
Melalui teknologi Internet of Things (IoT), perangkat AWS mampu mencatat berbagai parameter cuaca seperti suhu, curah hujan, kelembapan, radiasi matahari, tekanan udara, hingga kecepatan angin setiap 5 menit secara otomatis.
Data tersebut kemudian dikirim ke server berbasis cloud dan dapat diakses secara daring melalui platform yang telah disediakan.
Baca Juga: Gandeng Bintang Sepak Bola Dunia, LEGO Rilis Produk Spesial Edisi Piala Dunia 2026
Dalam narasi yang dijelaskan oleh tim peneliti IPB University, kehadiran data cuaca berbasis lokal ini memungkinkan petani menentukan waktu tanam, pemupukan, pengendalian hama, hingga panen dengan lebih presisi.
Selain itu, sistem ini juga mampu memberikan peringatan dini terhadap potensi serangan hama dan penyakit tanaman.
Sejak diluncurkan, AWS Komunitas telah dipasang sebanyak 82 unit yang tersebar di 11 provinsi di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Sulawesi Barat.
Baca Juga: Longsor Tutup Saluran Irigasi, Banjir Rendam Permukiman Warga di Sukaraja Bogor
Penempatannya dilakukan di berbagai lokasi strategis seperti lahan kelompok tani, balai penyuluhan pertanian, perguruan tinggi, hingga pesantren.
Lebih dari sekadar alat pemantau cuaca, data yang dihasilkan AWS juga dimanfaatkan untuk mengembangkan model prediksi berbasis machine learning.
Model ini digunakan untuk memperkirakan potensi serangan hama seperti wereng batang coklat dan penyakit tanaman seperti blas pada padi.
Baca Juga: Inovasi Herbal Anak Bangsa, Sijaka dari IPB University Berpotensi Jadi Solusi Alami Lawan Diabetes
Pemanfaatan teknologi ini telah menunjukkan dampak nyata di lapangan.
Salah satunya terlihat pada upaya penanggulangan epidemi penyakit bawang merah di Demak pada tahun 2025, serta peringatan dini terhadap serangan wereng batang coklat di sejumlah wilayah Pulau Jawa.
Selain aspek teknologi, AWS Komunitas juga mengedepankan pemberdayaan petani.
Baca Juga: Kabar Gembira! Penyaluran Bansos Triwulan 2 Tahun 2026 Dipercepat, Ini Info Lengkapnya
Melalui program Sekolah Lapang Petani (SLP), para petani diberikan pelatihan untuk memahami dan memanfaatkan data cuaca secara mandiri.
Pendekatan ini dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan kelompok tani, penyuluh, dan berbagai lembaga mitra.
Tim peneliti IPB University dalam keterangannya menilai bahwa inovasi ini bukan hanya soal alat, tetapi bagian dari ekosistem berbasis data yang mampu meningkatkan kemandirian petani dalam menghadapi perubahan iklim.
Mereka juga berharap program ini dapat terintegrasi dengan sistem informasi iklim nasional melalui kerja sama dengan Kementerian Pertanian dan BMKG.
Dengan dukungan teknologi, edukasi, serta kolaborasi lintas sektor, AWS Komunitas dinilai memiliki potensi besar dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus menjadi model pengelolaan data iklim berbasis komunitas di Indonesia. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim