Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Dukung Target Nasional FOLU Net Sink 2030, IPB Tanam 35.999 Pohon Kehutanan dan MPTS di Kawasan Penyangga TNGHS

Muhammad Ali • Selasa, 7 April 2026 | 15:19 WIB
Rangkaian Kegiatan Program Folu DKSHE IPB University dalam aksi penanaman pohon kehutanan dan MPTS di Kecamatan Kebandungan, Kabupaten Sukabumi, Selasa 7 April 2026. (Muhammad Ali/Radar Bogor)
Rangkaian Kegiatan Program Folu DKSHE IPB University dalam aksi penanaman pohon kehutanan dan MPTS di Kecamatan Kebandungan, Kabupaten Sukabumi, Selasa 7 April 2026. (Muhammad Ali/Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Program FOLU DKSHE IPB University menyelenggarakan aksi penanaman sebanyak 35.999 pohon kehutanan dan Multi Purpose Tree Species (MPTS) di lahan milik masyarakat di kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Selasa, 7 April 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, ini menjadi bagian dari implementasi nyata dalam mendukung target nasional Indonesia FOLU Net Sink 2030, dengan fokus pada peningkatan serapan karbon dan pemulihan fungsi ekosistem melalui partisipasi multipihak.

Penanaman dilakukan di empat desa penyangga TNGHS, yakni Desa Kabandungan, Cipeuteuy, Mekarjaya, dan Cihamerang, dengan melibatkan 1.188 petani dari kelompok tani dan kelompok tani hutan.

Baca Juga: Tak Cuma Kerja, ASN Pemkot Bogor Harus Paham Hukum dan Regulasi Pemerintahan

Wakil Menteri Kehutanan RI, Rohmat Marzuki, mengapresiasi inisiatif yang digagas IPB University bersama Balai TNGHS, pemerintah daerah, mitra pembangunan hingga masyarakat.

"Penanaman di lahan milik masyarakat di daerah penyangga kawasan konservasi, yaitu Taman Nasional Gunung Halimun Salak memegang peran yang sangat penting dan strategis," ujar Rohmat kepada Radar Bogor, Selasa, 7 April 2026.

Ia menilai kawasan TNGHS merupakan salah satu sumber air terbesar di Pulau Jawa yang manfaatnya dirasakan hingga ke wilayah hilir, bahkan sampai perkotaan di kabupaten-kabupaten di sekeliling Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

"Penanaman tanaman kehutanan yang berfungsi untuk melindungi hidrologis dan ekologis, kemudian ada tanaman buah-buahan atau MPTS salah satunya adalah buah-buahan, harapannya ini bisa meningkatkan ekonomi masyarakat," katanya.

Baca Juga: Siapkan Posko Baru untuk Damkar Kota Bogor, Pemkot Gelontorkan Anggaran Rp3,5 Miliar

Rohmat menambahkan, Kementerian Kehutanan bersama IPB University akan terus melakukan pendampingan kepada masyarakat agar tanaman yang ditanam dapat tumbuh optimal. Selain itu, pengolahan hasil panen seperti durian, alpukat, lemon, dan mangga juga akan didorong agar memiliki nilai tambah ekonomi.

"Tanaman kehutanan dan buah-buahan itu bisa tumbuh sesuai dengan target atau harapan ke depan. Kami tadi sudah meminta IPB dengan pengalaman teknologi inovasi yang dimiliki, untuk nanti bisa membantu sampai memproses," tuturnya.

Ia berharap program ini dapat menjadi percontohan dan direplikasi di wilayah penyangga TNGHS lainnya, bahkan hingga taman nasional di berbagai daerah di Indonesia.

Dari sisi lingkungan, penanaman pohon berkayu dinilai mampu meningkatkan tutupan lahan, menjaga ketersediaan air, serta mencegah bencana seperti banjir dan longsor.

Sementara itu, Wakil Rektor II Bidang Resiliensi Sumber Daya dan Infrastruktur IPB University, Dr. Heti Mulyati, menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari pengembangan konsep living lab yang diusung IPB.

Menurutnya, kawasan tersebut akan menjadi ruang kolaborasi multidisiplin, tidak hanya dari bidang kehutanan, tetapi juga pertanian, ekonomi, dan bidang lainnya.

"Kita akan terus dorong sehingga akan lebih banyak, mungkin untuk social mobility nya, baik dari sisi ekonomi, lingkungan, maupun sosial," jelasnya.

Baca Juga: Revolusi Pertanian Masa Depan: Mini Plant Factory Berbasis IoT Ciptaan IPB University Permudah Budidaya Tanaman di Indonesia

IPB juga menyatakan kesiapan untuk memperluas program serupa ke wilayah lain, seiring dengan dukungan sumber daya dan penguatan kolaborasi lintas sektor.

"Kita punya resources yang cukup banyak," pungkasnya.

Program ini menjadi contoh nyata kolaborasi multipihak antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam upaya pemulihan lingkungan sekaligus pemberdayaan ekonomi berbasis konservasi. 

Dengan pendekatan partisipatif, masyarakat tidak hanya menjadi objek, tetapi juga aktor utama dalam menjaga keberlanjutan program jangka panjang.(Cr1)

Editor : Eka Rahmawati
#kehutanan #ipb #pohon #TNGHS #FOLU Net Sink 2030