RADAR BOGOR – Yayasan Islamic Centre (YIC) Al Ghazaly Bogor berkolaborasi dengan Zwijsen College Belanda menggelar “School for School: Global Exploration Program 2026” di kompleks Sekolah Al Ghazaly, Senin, 13 April 2026.
Program lintas negara ini mengusung misi pertukaran budaya, kepedulian terhadap perubahan iklim, serta mempererat persahabatan antarpelajar. Para pelajar Belanda diketahui berusia 14 hingga 17 tahun dan mengikuti program selama 10 hari di Indonesia dengan fokus pada isu lingkungan, perubahan iklim, dan energi bersih.
Baca Juga: Unida Bogor Cetak Prestasi! 35 Proposal Riset dan Pengabdian Dapat Pendanaan 2026
Ketua Majelis Tarbiyah YIC Al Ghazaly, Auladi Rachman mengatakan, kegiatan ini merupakan kali kedua digelar di yayasan tersebut dengan melibatkan siswa SMA, MA, dan SMK. Sejak pagi para pelajar Belanda datang untuk belajar berbagai hal.
“Program ini bukan sekadar mempertemukan siswa dengan teman dari Belanda, tetapi menjadi proses belajar bersama terkait isu lingkungan, terutama kondisi yang terjadi saat ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, para pelajar asal Belanda akan berada di Kota Bogor selama sekitar dua minggu dan mengunjungi berbagai lokasi untuk memperdalam pembelajaran.
“Hari ini mereka belajar bersama di Al Ghazaly, dan nanti akan ada kegiatan lebih besar seperti pertunjukan seni,” tambahnya.
Ketua Gudep Putri, Budi Astuti menyebutkan, rombongan terdiri dari 30 siswa yang didampingi empat guru dan satu dokter. Selama di Bogor, mereka tinggal di rumah warga yang telah dipilih.
“Mereka berjalan kaki dari Gunung Batu menuju sekolah. Kami berharap kegiatan ini bisa memotivasi siswa untuk lebih peduli terhadap lingkungan,” jelasnya.
Ketua Gudep Putra, Empay Supiani menekankan pentingnya pesan moral dari kegiatan tersebut, khususnya terkait pengelolaan sampah.
“Kami ingin membangun kesadaran siswa, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan membawa tumbler sendiri. Target kami menuju sekolah bebas sampah,” ujarnya.
Menurutnya, pengelolaan sampah di Al Ghazaly dilakukan bertahap, mulai dari pelibatan siswa hingga penerapan konsep 3R (reduce, reuse, recycle).
“Ke depan kami ingin sampah memiliki nilai ekonomis, misalnya melalui pembuatan ecobrick yang bisa dimanfaatkan menjadi kursi atau meja,” katanya.
Salah satu peserta asal Belanda, Lola mengaku terkesan dengan suasana di Indonesia, khususnya keramahan masyarakat.
“Ini pertama kalinya saya ke Indonesia. Tempatnya besar dan sangat ramai, tapi orang-orangnya sangat terbuka dan ramah,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Cas, yang mengaku menikmati pengalaman budaya dan kuliner selama berada di Bogor.
“Pengalaman ini sangat berbeda dari Belanda. Makanannya enak dan suasananya sangat hangat,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan pengajar Zwijsen College, Ben dan Lieke, menilai program Global Exploration penting untuk membuka wawasan pelajar terhadap budaya global.
“Tujuannya agar siswa bisa belajar dari perbedaan, merefleksikan diri, dan membawa perubahan positif di negara masing-masing,” kata Ben.
Mereka juga mengapresiasi sambutan hangat dari para pelajar di Bogor yang dinilai penuh keramahan dan kekayaan budaya.
Program ini diharapkan dapat terus berlanjut sebagai ruang kolaborasi internasional, sekaligus mendorong kesadaran generasi muda terhadap isu lingkungan global.(uma)
Editor : Eka Rahmawati