Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

IPB University Pecahkan Rekor Pendanaan Riset 2026, Strategi 'Rumah Publikasi' Jadi Kunci Menuju Jurnal Top Dunia

Lucky Lukman Nul Hakim • Sabtu, 18 April 2026 | 07:01 WIB
Rektor IPB University, Alim Setiawan Slamet
Rektor IPB University, Alim Setiawan Slamet

RADAR BOGOR - Kinerja riset Institut Pertanian Bogor (IPB University) kembali mencuri perhatian di tingkat nasional. 

IPB University mencatat lonjakan signifikan dalam perolehan pendanaan riset, sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu perguruan tinggi paling produktif di Indonesia.

Dikutip dari laman resmi IPB, pada tahun ini IPB University berhasil meloloskan 386 proposal dalam program BIMA serta 79 proposal dalam program Hilirisasi Riset. 

Baca Juga: Tak Hanya Menyalurkan Bansos, Kemensos Bakal Gandeng 1,4 Juta KPM PKH Bekerja di Kopdes Merah Putih

Capaian tersebut menjadikan IPB University sebagai kampus dengan jumlah proposal didanai terbanyak di kedua skema tersebut.

Tak hanya itu, berdasarkan Science and Technology Index (Sinta) Score 3 Tahun, IPB University menempati posisi dua besar nasional dengan skor mencapai 1.415.701 per Maret 2026. 

Jika dihitung berdasarkan rasio dosen, IPB bahkan berada di posisi teratas dengan rasio 863, menunjukkan produktivitas riset yang tinggi per peneliti.

Baca Juga: Siap-siap Jadi ASN, Intip Estimasi Waktu Pendaftaran CPNS 2026 Setelah Tahap Usulan Rampung

Rektor IPB University, Alim Setiawan Slamet menegaskan, capaian ini bukan akhir, melainkan pijakan untuk langkah yang lebih besar. 

Ia menyampaikan bahwa pihak kampus berkomitmen untuk meningkatkan alokasi dana riset hingga dua kali lipat demi menjaga tren positif publikasi ilmiah di level global. 

Dalam penjelasannya, ia menargetkan IPB menjadi rujukan dunia dalam isu strategis seperti ketahanan pangan, energi, keberlanjutan, dan kesehatan melalui kolaborasi internasional dan peningkatan publikasi di jurnal bereputasi tinggi seperti Nature dan Science.

Baca Juga: Pencairan Bansos Tahap II dan PIP 2026 Mulai Berjalan, Cek Wilayah yang Duluan Cair dan Besaran Nominalnya

Untuk mendorong produktivitas tersebut, IPB juga memperkuat sistem insentif bagi peneliti. 

Publikasi pada jurnal Q1 kini diakui sebagai beban kerja hingga 10–12 SKS, bahkan bisa mencapai 15 SKS bagi peneliti dengan predikat top year scientist. 

Selain itu, mahasiswa pascasarjana yang berhasil menembus jurnal Q1 juga mendapatkan pembebasan biaya pendidikan.

Baca Juga: Alhamdulillah Bansos April 2026 Mulai Cair dari PKH-BPNT dan PIP, Pemerintah Targetkan Penyaluran Merata di Akhir Bulan

Di balik capaian ini, terdapat strategi yang jarang disorot namun berdampak besar yakni program Rumah Publikasi. 

Wakil Rektor bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Agromaritim, Ernan Rustiadi menjelaskan, ekosistem publikasi yang kuat menjadi fondasi utama peningkatan kualitas riset. 

Ia menerangkan, Rumah Publikasi hadir sebagai pusat layanan terintegrasi untuk membantu dosen, peneliti, dan mahasiswa dalam menembus jurnal internasional bereputasi.

Baca Juga: Diprediksi Siap Cair Jelang Tahun Ajaran Baru, Berapa Nominal Gaji Ke-13 PPPK Tahun Ini? Berikut Daftar Lengkapnya

Program ini menyediakan 17 layanan utama, mulai dari pelatihan penulisan artikel ilmiah, pendampingan manuskrip, hingga proofreading oleh lembaga internasional seperti Enago dan Editage. 

Selain itu, tersedia pula layanan pengecekan plagiarisme melalui Turnitin, bantuan biaya publikasi (APC), hingga pendampingan jurnal menuju indeksasi Scopus.

Melalui pendekatan ini, IPB tidak hanya fokus pada kuantitas riset, tetapi juga kualitas dan daya saing global. 

Baca Juga: Simak 5 Berkas Wajib untuk Perpanjangan Kontrak PPPK 2026, Pegawai ASN Jangan Sampai Terlewat

Rumah Publikasi menjadi jembatan penting agar hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium, melainkan mampu menembus panggung ilmiah dunia.

Dengan kombinasi pendanaan besar, insentif menarik, dan dukungan ekosistem publikasi yang matang, IPB University tampaknya sedang menapaki jalur cepat menuju ambisi besarnya yaitu menjadi pusat rujukan global dalam riset berbasis keberlanjutan. (*)

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#institut pertanian bogor #Alim Setiawan Slamet #ipb university