Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Ahli Genetika IPB Ungkap Fenomena Mengejutkan, Perang Saudara Simpanse Mirip Manusia, Picu Penurunan Populasi Drastis

Lucky Lukman Nul Hakim • Selasa, 21 April 2026 | 09:20 WIB
Ahli Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor
Ahli Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor

RADAR BOGOR - Konflik sosial yang selama ini kerap diasosiasikan dengan manusia, ternyata juga terjadi di dunia satwa. 

Peristiwa mengejutkan ini terungkap dari penelitian di Taman Nasional Kibale, Uganda, yang menunjukkan adanya “perang saudara” antarkelompok simpanse dengan dampak serius terhadap kelangsungan populasi mereka.

Dikutip Radar Bogor dari laman resmi Institut Pertanian Bogor (IPB) pada Selasa 21 April 2026, Ahli Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor menjelaskan, simpanse merupakan spesies yang paling dekat dengan manusia, baik dari sisi genetik maupun perilaku sosialnya. 

Baca Juga: Kembali Dibuka! Semesta’s Gallery Hadir dengan Tampilan Baru yang Lebih Nyaman

Ia menyebutkan, manusia dan simpanse memiliki kesamaan DNA hingga sekitar 98–99 persen, bahkan lebih dekat dibandingkan dengan gorila.

Menurut Prof Ronny, kedekatan tersebut tidak hanya terlihat dari sisi biologis, tetapi juga dari pola interaksi sosial. 

Simpanse diketahui memiliki kemampuan empati, kerja sama, hingga konflik terorganisasi yang dalam beberapa aspek menyerupai perilaku manusia.

Baca Juga: Telepon Misterius Tanpa Suara? Waspada Call Hening, Modus Baru Penipuan Digital yang Mengintai

Fenomena konflik di Kibale menjadi salah satu contoh paling dramatis. 

Berdasarkan penelitian dari The University of Texas yang dipublikasikan dalam jurnal Science, kata dia, konflik bermula dari pecahnya komunitas besar simpanse Ngogo yang sebelumnya berjumlah sekitar 200 individu. 

Komunitas tersebut terbelah menjadi dua kelompok besar, yakni kelompok Barat dan kelompok Tengah, yang kemudian terlibat permusuhan.

Baca Juga: Klarifikasi Saldo KKS Rp600.000 di Bulan April, Apakah Bansos BPNT Tahap 2 Sudah Cair? Simak Info Terbarunya

Prof Ronny menjelaskan, perebutan wilayah dan sumber daya menjadi pemicu utama konflik. 

Selain itu, hilangnya pejantan tua yang selama ini berperan sebagai penyeimbang sosial turut memperburuk situasi hingga akhirnya memicu kekerasan terbuka.

"Dalam konflik tersebut, kelompok Barat melakukan serangan terorganisasi yang dikenal sebagai collective raids," tuturnya.

Baca Juga: Lebih dari Sekadar Liburan, Pengalaman Bermakna Siswa Surau Academy di Belitung

Ia menerangkan, serangan ini melibatkan kerja sama, perencanaan, serta eksekusi yang sistematis terhadap kelompok lawan, bahkan hingga menyebabkan kematian.

Akibatnya, banyak anggota kelompok Tengah, termasuk betina dan anak-anak, menjadi korban. Dampak dari konflik ini tidak hanya terlihat dari jumlah korban jiwa, tetapi juga dari runtuhnya struktur sosial kelompok yang tersisa.

Lebih lanjut, Prof Ronny menilai, hilangnya anggota kelompok menyebabkan melemahnya kerja sama internal dan menurunkan kemampuan bertahan hidup. 

Baca Juga: Tak Ada Kenaikan, PLN Tegaskan Tarif Listrik April 2026 Tetap Berlaku untuk Semua Golongan

Penurunan populasi secara drastis juga berdampak pada menyempitnya variasi genetik, sehingga meningkatkan risiko penyakit serta menurunkan kemampuan adaptasi terhadap perubahan lingkungan.

Ia menegaskan bahwa ancaman terhadap simpanse tidak hanya berasal dari aktivitas manusia seperti deforestasi dan perburuan, tetapi juga dari dinamika sosial internal mereka sendiri. 

Oleh karena itu, upaya perlindungan tidak cukup hanya dengan menjaga habitat, tetapi juga perlu memahami pola interaksi sosial dalam kelompok simpanse.

Baca Juga: Akhirnya Bansos PKH Tahap 2 di SIKS-NG Sudah Tampilkan Periode Salur April Mei Juni 2026, Sementara PIP Termin 1 Cair dan BPNT Masih Dalam Pemantauan

Sebagai solusi, Prof Ronny mengusulkan strategi konservasi yang lebih menyeluruh. 

Pendekatan tersebut mencakup pemantauan sosial jangka panjang, perlindungan habitat serta sumber daya, hingga intervensi ekologis dengan menjaga keberadaan individu dewasa, khususnya pejantan tua, sebagai penjaga stabilitas sosial.

Ia juga menekankan pentingnya memastikan ketersediaan makanan dan ruang hidup yang memadai guna meminimalkan potensi konflik antarkelompok. 

Baca Juga: Sering Bersin dan Gatal Tanpa Sebab? Dokter IPB Ungkap Tanda Alergi yang Sering Diabaikan

Selain itu, kolaborasi antara pihak lokal dan global dinilai krusial, termasuk melalui kebijakan internasional dan edukasi masyarakat sekitar.

Menurutnya, konflik antarsimpanse di Kibale bukan sekadar fenomena biologis, melainkan cerminan kompleksitas sosial yang memiliki kemiripan dengan manusia. 

Baca Juga: BRI Perkuat Keuangan Berkelanjutan, Salurkan Pembiayaan Hijau dan Sosial Ratusan Triliun

Ia menyimpulkan, upaya konservasi harus mengintegrasikan pemantauan sosial, perlindungan habitat, dan intervensi ekologis agar keseimbangan komunitas tetap terjaga dan populasi tidak terus menurun. (*)

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#ipb #Ronny Rachman Noor #simpanse #institut pertanian bogor