RADAR BOGOR - Kolaborasi antara Institut Pertanian Bogor (IPB University) dan PT Astra International Tbk menghadirkan gebrakan baru dalam pemberdayaan desa.
Melalui program “Kampus Berdampak” yang digulirkan pada 2026, keduanya meluncurkan inisiatif One Village One CEO (OVOC) dan Desa Sejahtera Astra di Kabupaten Bandung Barat.
Program ini dirancang bukan sekadar pengabdian masyarakat biasa. Ia menjadi jembatan antara riset kampus, inovasi teknologi, dan kebutuhan nyata warga desa dengan tujuan utama meningkatkan kesejahteraan sekaligus membuka akses pasar hingga ke tingkat internasional.
Baca Juga: Kisah Suranto Bangkit Usai PHK, Temukan Harapan Baru Lewat Program Dapur MBG
Rektor IPB University, Alim Setiawan Slamet menjelaskan, program tersebut sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang mendorong lahirnya kampus berdampak.
Ia menekankan, perguruan tinggi kini dituntut agar hasil riset dan inovasinya benar-benar dirasakan masyarakat luas, khususnya dalam mendorong nilai tambah ekonomi di desa.
Lebih jauh, ia menyebut IPB mengusung konsep Techno-sociopreneur University, yakni mengintegrasikan teknologi dan kewirausahaan sosial.
Baca Juga: Kunjungan Mendadak ke Kampus Dramaga Bogor, Begini Hasil Evaluasi UTBK-SNBT 2026 di IPB University
Melalui program OVOC dan Desa Sejahtera Astra, inovasi kampus tidak berhenti di laboratorium, melainkan langsung diterapkan melalui pendampingan intensif di lapangan.
Dukungan juga datang dari pemerintah daerah.
Wakil Bupati Bandung Barat, Asep Ismail, menyambut baik program ini dan menilai kehadiran kampus di tengah masyarakat merupakan langkah yang sangat dibutuhkan saat ini.
Baca Juga: Dikira Ada Pesta Kembang Api, Tenyata Gudang Barang Ekspedisi di Kota Depok Terbakar
Ia bahkan berharap program serupa dapat diperluas ke 164 desa lainnya di wilayah tersebut.
Dari sisi industri, Head of Environment and Social Responsibility PT Astra International Tbk, Diah Suran Febrianti, menyoroti dampak ekonomi yang sudah terlihat nyata.
Ia mengungkapkan, pendapatan petani meningkat signifikan hingga lebih dari dua kali lipat, dari sekitar Rp1,2 juta menjadi Rp2,5 juta per bulan berkat program ini.
Secara konkret, implementasi program telah mengelola sekitar 20 hektare lahan hortikultura dengan produksi mencapai 2 ton per hari atau setara 60 ton per bulan.
Ratusan masyarakat ikut terlibat, dengan jumlah partisipasi berkisar antara 400 hingga 650 orang, serta membuka sekitar 250 lapangan kerja baru.
Menariknya, seluruh hasil panen terserap pasar, bahkan sebagian telah menembus ekspor ke Singapura.
Baca Juga: Bansos Tahap 2 2026 Segera Cair, KPM Harus Pastikan Hal Penting Ini Terlebih Dahulu
Direktur Bina Talenta Penelitian dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Prof Heri Kuswanto, menilai program ini sebagai contoh ideal kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan dunia usaha.
Ia menegaskan, riset dan pengabdian masyarakat seharusnya memang berangkat dari persoalan nyata di lapangan.
Keunggulan program ini juga terletak pada pemanfaatan teknologi.
Salah satunya adalah teknologi ozonisasi pada tahap pascapanen yang mampu menekan mikroba serta mengurangi residu pestisida.
Teknologi ini juga memperpanjang masa simpan produk hortikultura dari satu hari menjadi hingga lima hari, sehingga risiko kerugian petani dapat ditekan.
Selain itu, petani juga dibekali dengan penggunaan automatic weather station (AWS) yang memungkinkan pemantauan kondisi cuaca secara real-time, mulai dari suhu, kelembapan, hingga curah hujan.
Baca Juga: Kisah Haru di Balik UTBK IPB: Perjuangan Orang Tua Antar Anak Demi Masa Depan
Data ini membantu petani menentukan waktu tanam, pemupukan, dan panen secara lebih presisi.
Salah satu petani di Desa Tugu Mukti, Muhammad Taufik, mengaku merasakan langsung manfaat inovasi tersebut.
Ia menjelaskan, teknologi ozonisasi membantu menjaga kualitas produk, sementara AWS mempermudah dalam membaca kondisi cuaca secara akurat.
Di akhir program, Alim Setiawan Slamet kembali menegaskan, keberhasilan inisiatif ini tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak.
Ia menyebut model pentahelix yang melibatkan akademisi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat akan terus dikembangkan untuk menciptakan dampak yang lebih luas di berbagai daerah di Indonesia. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti