Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Ajang Internasional ICIA di Kamboja, Startup Karya Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pakuan Raih Silver Award 

Yosep Awaludin • Selasa, 28 April 2026 | 11:25 WIB
Mahasiswa Universitas Pakuan saat meraih Silver Award dalam ajang Startup Innovation Weekend (SIW) Cambodia 2026 di Phnom Penh, Kamboja, pada 24–26 April 2026.
Mahasiswa Universitas Pakuan saat meraih Silver Award dalam ajang Startup Innovation Weekend (SIW) Cambodia 2026 di Phnom Penh, Kamboja, pada 24–26 April 2026.

RADAR BOGOR - Mahasiswa Universitas Pakuan kembali menorehkan prestasi internasional setelah berhasil meraih Silver Award dalam ajang Startup Innovation Weekend (SIW) Cambodia 2026 yang digelar di Phnom Penh, Kamboja, pada 24–26 April 2026. 

Penghargaan tersebut diraih Mahasiswa Universitas Pakuan melalui startup inovatif bertajuk RE-MORA, sebuah solusi sustainable healthcare berbasis bio-healing gel ramah lingkungan. 

Silver Award sendiri merupakan penghargaan bergengsi yang diberikan kepada startup dengan performa unggul dan prospek bisnis menjanjikan.

Baca Juga: Curug Kondang Pamijahan, Hidden Gem di Bogor yang Wajib Masuk Wishlist

Penghargaan ini menempatkan RE-MORA sebagai salah satu startup terbaik dalam kompetisi tersebut.

Prestasi ini menjadi kebanggaan tersendiri, tidak hanya bagi Universitas Pakuan, tetapi juga bagi dunia pendidikan tinggi Indonesia. 

Di tengah persaingan ketat antarstartup dari berbagai negara, mahasiswa Indonesia mampu menunjukkan kualitas inovasi yang kompetitif di tingkat global.

Baca Juga: Bikin Happy! Akhirnya Dua Bank Ini Terbitkan SPM, KPM Bansos Diimbau Tidak Terburu-buru Cek Saldo KKS Terlalu Sering

Startup Innovation Weekend Cambodia 2026 merupakan forum internasional yang mempertemukan startup inovatif, investor, mentor, akademisi, dan pelaku industri dari berbagai negara di kawasan Asia dan dunia. 

Kegiatan ini diselenggarakan oleh International Competition and Innovation Award (ICIA) sebagai platform pengembangan startup berbasis kecerdasan buatan, data-driven innovation, serta solusi berkelanjutan.

Tahun ini, sebanyak 15 startup terpilih dari lebih dari 4 negara mengikuti program intensif selama tiga hari.

Baca Juga: Kopi Kenangan Summarecon Bogor, Padukan Suasana Alam yang Asri untuk Hangout hingga Work From Cafe

Delegasi dari Universitas Pakuan tampil membawa RE-MORA, startup kesehatan inovatif yang mengusung konsep bio-healing gel berbahan dasar minyak maggot Black Soldier Fly (BSF) dan ekstrak herbal alami.

Produk ini dirancang sebagai solusi modern untuk perawatan luka dengan pendekatan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

RE-MORA memiliki keunggulan pada kandungan antibakteri alami yang membantu mencegah infeksi pada luka, sekaligus mendukung proses regenerasi jaringan kulit. 

Penggunaan minyak maggot BSF juga menjadi terobosan baru dalam pemanfaatan sumber daya hayati yang selama ini belum dimaksimalkan dalam industri kesehatan. 

Baca Juga: KPM Baru Wajib Tahu! Inilah Arti Kode Warna Merah dan Status SPM di SIKS-NG untuk Bansos PKH dan BPNT Tahap 2 2026

Selain berfungsi sebagai produk perawatan luka, RE-MORA juga membawa misi lingkungan.

Bahan baku maggot BSF dikenal sebagai hasil pengolahan limbah organik yang bernilai ekonomi tinggi. 

Dengan demikian, startup ini tidak hanya berkontribusi pada sektor kesehatan, tetapi juga mendukung ekonomi sirkular dan pengurangan limbah.

Baca Juga: Tak Perlu Jauh ke Luar Kota, Anak-Anak Bisa Tunggang Kuda dan Sapa Burung Unta di Boxies Pet Zoo Bogor

Tim RE-MORA terdiri dari mahasiswa lintas program studi Universitas Pakuan, yakni Rifli Ramadhan Sabililah dari Program Studi Manajemen, Vira Haura Fauziyah dari Program Studi Farmasi , dan Nazla Primanita Gunawan dari Program Studi Bisnis Digital. 

Tim ini dibimbing oleh Dr. Abel Gandhy, S.Pi., M.M. sebagai dosen pembimbing yang mendampingi proses pengembangan ide. Kolaborasi lintas disiplin tersebut menjadi kekuatan utama RE-MORA. 

Aspek manajemen bisnis, transformasi digital, serta ilmu farmasi dipadukan menjadi satu solusi startup yang inovatif dan memiliki nilai komersial tinggi.

Baca Juga: Isi Akhir Pekan dengan Nonton Film Lewat Screen on The Green di Kebun Raya Bogor

Dalam sesi penjurian, tim mahasiswa Universitas Pakuan mempresentasikan model bisnis, potensi pasar, keberlanjutan produk, hingga dampak sosial dari RE-MORA. 

Dewan juri menilai startup ini memiliki kombinasi kuat antara inovasi teknologi, kebutuhan pasar nyata, serta dampak berkelanjutan.

Ketua tim, Rifli Ramadhan Sabililah, mengungkapkan rasa syukur atas penghargaan tersebut.

“Kami bangga dapat membawa nama Universitas Pakuan dan Indonesia di panggung global. RE-MORA adalah bentuk kontribusi kami untuk menghadirkan solusi kesehatan yang inovatif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Baca Juga: Salt Bread Terenak di Bogor, Benben Bakes Hadirkan Roti Fresh dengan Harga Mulai Rp14 Ribuan

Dosen pembimbing, Dr. Abel Gandhy, S.Pi., M.M., menyebut keberhasilan ini merupakan hasil kerja keras tim yang konsisten disertai dengan kolaborasi yang solid.

“Mahasiswa kami membuktikan bahwa inovasi tidak mengenal batas. Dengan sinergi ilmu manajemen, bisnis digital, dan farmasi, mereka mampu menghasilkan karya yang kompetitif secara internasional,” tuturnya.

Ke depan, tim RE-MORA menargetkan pengembangan lebih lanjut melalui riset lanjutan, uji pasar, legalitas produk, serta kerja sama dengan industri kesehatan.

Baca Juga: KPM Harus Teliti! Untuk Pencairan Bansos PKH-BPNT Tahap 2, Saldo Masuk Rekening Secara Bertahap dan Ini Penyebab Dana Gagal Cair

Dengan langkah tersebut, RE-MORA diharapkan mampu masuk ke pasar nasional hingga internasional.

Prestasi internasional ini sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk terus berkarya, menciptakan inovasi mahasiswa, dan membawa nama bangsa di tingkat dunia. (***)

Editor : Yosep Awaludin
#Universitas Pakuan #prestasi internasional #startup