RADAR BOGOR - Penulis merasa terusik, dengan rencana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) yang akan menutup berbagai program studi (prodi) yang dinilai kurang relevan dengan kebutuhan pertumbuhan ekonomi di masa depan menimbulkan pro-kontra dan polemik di tataran akademisi dan praktisi pendidikan tinggi.
Pendidikan tinggi di Indonesia dan dunia sedang berada pada persimpangan jalan.
Di satu sisi, universitas dituntut untuk menjaga marwah akademik sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan pembentukan karakter.
Di sisi lain, tekanan dari dunia industri semakin kuat agar perguruan tinggi menghasilkan lulusan yang siap kerja, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan pasar.
Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 mempercepat perubahan ini, menuntut integrasi antara teori akademik dan keterampilan praktis.
Pertanyaan mendasar pun muncul: Quo vadis pendidikan tinggi? Ke mana arah yang harus ditempuh agar tidak kehilangan jati diri sekaligus mampu menjawab tantangan zaman?
Sebagai seorang akademisi dan tenaga pengajar, penulis berasumsi bahwa bahwa orientasi pendidikan tinggi masih dominan pada aspek akademik.
Kurikulum banyak menekankan teori, riset, dan penguasaan konsep.
Namun, laporan berbagai lembaga menunjukkan adanya mismatch antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri.
Banyak perusahaan mengeluhkan kurangnya keterampilan praktis, komunikasi, dan problem-solving pada lulusan baru.
Pemerintah merespons dengan kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), internasionalisasi kurikulum, serta penekanan pada akreditasi berbasis capaian.
Meski demikian, implementasi di lapangan masih menghadapi kendala, terutama dalam hal kesiapan dosen, infrastruktur, dan budaya akademik. Tulisan singkat ini bermaksud mengelaborasi
Kebutuhan: Dunia Industri vs Dunia Pendidikan
Tidak dipungkiri, industri modern menuntut tenaga kerja dengan kompetensi yang jauh melampaui penguasaan teori.
Keterampilan digital, literasi data, kemampuan bekerja dalam tim lintas budaya, serta kreativitas menjadi syarat utama.
Sektor prioritas seperti kecerdasan buatan (AI), fintech, green technology, dan kesehatan membutuhkan lulusan yang tidak hanya menguasai konsep, tetapi juga mampu mengaplikasikan teknologi dalam konteks nyata.
Dunia usaha berharap perguruan tinggi dapat menjadi mitra strategis dalam menyiapkan talenta yang siap pakai, inovatif, dan berdaya saing global.
Namun, pendidikan tinggi tidak boleh semata-mata menjadi “pabrik tenaga kerja”.
Baca Juga: Fakta-fakta Tragedi Tabrakan Kereta KA Argo Bromo Anggrek vs KRL Commuter Line di Bekasi Timur
Tugas utama universitas adalah membentuk karakter, etika, dan kemampuan berpikir kritis. Perguruan tinggi harus menjaga keseimbangan antara academic excellence dan employability.
Dosen berperan penting dalam merancang kurikulum yang mengintegrasikan teori dengan praktik, sekaligus menanamkan nilai-nilai integritas, tanggung jawab sosial, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Pendidikan tinggi harus tetap menjadi benteng moral dan intelektual, bukan sekadar penyedia tenaga kerja.
Kemitraan dan kolaborasi
Kedua kata tersebut adalah kata kunci (keyword) yang sangat menentukan keberlangsungan (sustainability), kebermanfaatan (significance) dan penyerapan kerja (employability) para lulusan perguruan tinggi.
Sebagaimana diketahui bersama Model triple helix yang dicetuskan oleh Henry Etzkowitz dan Loet Leydesdorff (1990) yang merupakan konsep sinergi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah menjadi solusi yang banyak diusulkan.
Bentuk kemitraan dapat berupa program magang, riset bersama, inkubasi bisnis, hingga transfer teknologi.
Beberapa universitas telah berhasil membangun career center dan kurikulum berbasis industri, sehingga lulusan lebih mudah terserap pasar kerja.
Kolaborasi ini tidak hanya menguntungkan industri, tetapi juga memperkaya pengalaman belajar mahasiswa dan memperkuat relevansi akademik.
Prakondisi tersebut memberikan tantangan (challenges) kepada perguruan tinggi untuk menyediakan fasilitas untuk mahasiswa atau lulusannya yang siap kerja dan berwirausaha.
Meski kolaborasi penting, ada risiko yang harus diwaspadai.
Jika pendidikan tinggi terlalu pragmatis, ia bisa kehilangan fungsi akademik sebagai pengembang ilmu pengetahuan murni.
Sebaliknya, jika terlalu teoritis, lulusan akan kesulitan beradaptasi dengan dunia kerja. Jalan tengah diperlukan: universitas harus menjadi knowledge hub sekaligus talent incubator.
Artinya, pendidikan tinggi tetap berorientasi pada riset dan pengembangan ilmu, tetapi dengan aplikasi nyata yang relevan bagi industri dan masyarakat.
Pendidikan tinggi berada pada titik kritis. Untuk menjawab tantangan industri tanpa kehilangan jati diri akademik, diperlukan transformasi menyeluruh.
Beberapa rekomendasi yang dapat diajukan adalah:
(1) Kurikulum adaptif berbasis kebutuhan industri, namun tetap menekankan pengembangan ilmu.
(2) Penguatan soft skills seperti komunikasi, kepemimpinan, dan literasi digital.
Baca Juga: Lupa Pulang Cafe, Tempat Nongkrong Baru di Kota Bogor dengan Harga Ramah di Kantong
(3) Kemitraan berkelanjutan dengan dunia usaha dan pemerintah melalui riset bersama dan program magang
(4) Riset aplikatif dan inovasi yang menjembatani teori dengan praktik
(5) Penguatan karakter dan etika agar lulusan tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas.
Dengan langkah-langkah tersebut, pendidikan tinggi dapat menjawab pertanyaan quo vadis dengan tegas: menuju masa depan yang seimbang antara kebutuhan industri dan dunia pendidikan, tanpa kehilangan fungsi akademik sebagai penjaga ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kemanusiaan.
Kita tentu berharap, terkait rencana Kemdiktisainstek yang akan menutup prodi-prodi yang sudah tidak relevan dengan kebutuhan zaman atau dunia industri yang menurut kajian terjadi over-supply di bidang pendidikan (education and training) dalam hal ini fakultas FKIP secara fokusnya, tentunya harus benar-benar mempertimbangkan kajian yang matang dan perlu duduk bersama semua pihak terkait rencana dan solusi dari ketimpangan dunia pendidikan dengan industri.
Perlu diskusi ilmiah, evaluasi dan fokus terkait blueprint dan peta jalan pendidikan tinggi di Indonesia dan juga milestone pengembangan sumber daya manusia secara lebih komprehensif dan berkelanjutan. (*)
*Rudi Haryono
Dosen Universitas Muhammadiyah Bogor Raya
Editor : Siti Dewi Yanti