RADAR BOGOR - Suasana belajar yang berbeda dirasakan mahasiswa Universitas Tazkia dari Program Studi Tadris Pendidikan IPS dan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), saat mengunjungi Museum Balai Kirti.
Kunjungan ini bukan sekadar agenda akademik biasa, melainkan pengalaman langsung menelusuri perjalanan kepemimpinan Indonesia melalui arsip sejarah yang autentik.
Di dalam museum kepresidenan tersebut, mahasiswa diajak menyelami kisah para pemimpin bangsa melalui koleksi foto, dokumen, hingga artefak bersejarah.
Ketua Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Tazkia, Sutopo menegaskan, kegiatan ini memiliki makna lebih dari sekadar wisata edukasi.
“Kunjungan ini bukan hanya melihat benda-benda sejarah, tetapi juga mengajak mahasiswa memahami bahwa sejarah adalah memori kolektif bangsa yang harus terus dijaga,” ujarnya kepada Radar Bogor, Rabu 29 April 2026.
Pesan klasik dari Soekarno, “Jas Merah” atau Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah, kembali digaungkan dalam kunjungan tersebut.
Baca Juga: Bisa Daftar CPNS Setelah Ikut Kopdes? Simak Perbedaan Tahapan, Status Kerja, hingga Sanksi Kontrak
Bagi mahasiswa, pesan ini terasa semakin relevan di tengah derasnya arus informasi modern.
Mahasiswa Tadris IPS mendapatkan pengalaman belajar yang lebih konkret.
Selama ini, materi sejarah sering kali hanya dipahami melalui buku teks atau penjelasan di kelas.
Baca Juga: DPRD Dorong Sekolah Maung di Kota Bogor Tetap Berlakukan Zonasi, Komisi IV: Walau Kuota Dikit
Namun, melalui kunjungan ini, mereka dapat melihat langsung bukti visual perjalanan bangsa, sehingga pemahaman menjadi lebih mendalam.
Di sisi lain, mahasiswa KPI memanfaatkan momen ini untuk mengasah perspektif komunikasi.
Mereka mempelajari bagaimana sejarah dikemas dan disampaikan kepada publik melalui narasi, visual, serta tata pamer museum yang menarik.
Baca Juga: RUPST bank bjb 2025 Hasilkan 7 Keputusan Strategis, Perkuat Fondasi Ekonomi Daerah
Interaksi aktif pun terlihat selama kegiatan berlangsung. Mahasiswa tidak hanya menyimak, tetapi juga melontarkan berbagai pertanyaan kritis.
Mereka membahas bagaimana peristiwa penting dalam sejarah Indonesia dikonstruksi, bagaimana citra kepemimpinan dibentuk, hingga bagaimana sejarah dapat menjadi bahan refleksi untuk masa depan.
Kegiatan ini menegaskan bahwa pembelajaran sejarah tidak berhenti pada hafalan tanggal atau nama tokoh.
Lebih dari itu, sejarah menjadi rangkaian peristiwa yang membentuk identitas bangsa sekaligus panduan dalam menghadapi tantangan masa depan.
Sejalan dengan hal tersebut, pemikiran B. J. Habibie juga kembali diingatkan kepada mahasiswa.
Ia pernah menyampaikan, masa depan bangsa tidak ditentukan oleh kekayaan alam, melainkan oleh kualitas sumber daya manusia.
Baca Juga: Dampak Tabrakan KRL di Bekasi Timur, Ribuan Penumpang KAI Batalkan Perjalanan dan Ajukan Refund
Pandangan ini memperkuat pentingnya pendidikan, kemampuan berpikir kritis, serta kesadaran sejarah bagi generasi muda.
Melalui kunjungan ini, mahasiswa Universitas Tazkia diharapkan tidak hanya memahami sejarah sebagai cerita masa lalu, tetapi juga menjadikannya sebagai kompas dalam menentukan arah masa depan bangsa. (*)
Editor : Rani Puspitasari Sinaga