RADAR BOGOR – Di ruang kelas hari ini, siswa tak lagi harus menunggu guru untuk mendapatkan jawaban. Dalam hitungan detik, kecerdasan buatan (AI) mampu menjelaskan hampir semua hal—lebih cepat, lebih ringkas, dan selalu tersedia. Di satu sisi ini kemajuan. Di sisi lain, ini alarm.
Pertanyaannya jadi sederhana, tapi serius: jika AI bisa mengajar, lalu siapa yang membentuk karakter?
Momentum Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap 2 Mei seharusnya menjadi ruang refleksi yang jujur. Di tengah optimisme kemajuan teknologi dan semakin luasnya akses belajar, dunia pendidikan Indonesia justru dihadapkan pada ironi yang mengkhawatirkan—kecerdasan meningkat, tetapi perilaku generasi muda belum tentu membaik.
Baca Juga: UIKA Bogor Latih Guru BK Hadapi Tantangan Gen Z, dari Konseling hingga Teknologi
Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Dr. Nanik Retnowati, menilai kondisi ini sebagai tanda bahwa pendidikan sedang berada di titik persimpangan antara kemajuan teknologi dan krisis kemanusiaan.
“Kalau pendidikan hanya menghasilkan anak pintar tanpa nilai, kita sedang menciptakan masalah baru di masa depan,” ujarnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, data nasional menunjukkan tren yang tidak bisa diabaikan. Sepanjang 2025, tercatat lebih dari 600 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, dengan korban mayoritas adalah siswa. Kasus perundungan pun meningkat tajam, dari 285 kasus pada 2023 menjadi 573 kasus pada 2024. Yang lebih mengkhawatirkan, korban terbanyak justru berasal dari usia sekolah dasar.
Baca Juga: Milad ke-65, UIKA Bogor Perkuat Peran Pendidikan dan Luncurkan 5 Program Beasiswa
Di sinilah ironi itu muncul. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman, dalam banyak kasus justru berubah menjadi ruang risiko. Bahkan, dalam sejumlah peristiwa, pelaku berasal dari relasi yang seharusnya melindungi, termasuk tenaga pendidik.
Realitas ini semakin kompleks dengan munculnya kasus-kasus ekstrem di lingkungan pendidikan yang mencerminkan tekanan psikologis dan sosial yang tidak sederhana. Jika ditarik lebih jauh, persoalan ini tidak hanya terjadi di satu jenjang saja, tetapi berlangsung berulang dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Kekerasan, konflik, hingga penyimpangan etika, termasuk di ruang digital, menjadi pola yang terus berulang.
Baca Juga: Mahasiswa Afrika Kuliah di Bogor, UIKA Perkuat Citra Kampus Internasional Melalui Beasiswa Global
Namun realitas berkata lain. Di saat yang sama, dunia berubah dengan sangat cepat. Sejak kemunculan generative AI dalam beberapa tahun terakhir, cara belajar mengalami transformasi besar. Siswa tidak lagi sepenuhnya bergantung pada guru sebagai sumber utama pengetahuan. AI mampu menjelaskan konsep, membantu menyusun tugas, bahkan menawarkan solusi instan terhadap berbagai persoalan akademik.
Kemudahan ini justru menghadirkan paradoks baru. Ketika akses pengetahuan semakin mudah, seharusnya kualitas manusia semakin baik. Namun yang terjadi, penyimpangan perilaku tetap muncul—bahkan dalam bentuk yang lebih kompleks seperti cyberbullying dan kekerasan digital.
Menurut Dr. Nanik Retnowati, ada perubahan mendasar yang membuat situasi pendidikan saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Penyimpangan perilaku kini terjadi dalam skala yang lebih luas dan kecepatan yang jauh lebih tinggi karena diperkuat oleh ruang digital yang tanpa batas. Batas ruang pendidikan juga semakin kabur. Jika dahulu sekolah menjadi ruang utama pembentukan karakter, kini pengaruh terbesar justru datang dari luar, terutama media sosial dan lingkungan digital yang tidak sepenuhnya terkontrol.
Di sisi lain, muncul fenomena yang disebut sebagai ilusi kecerdasan. Seseorang bisa tampak pintar karena akses informasi yang luas, tetapi belum tentu memiliki kedalaman berpikir dan kematangan nilai.
Baca Juga: UIKA Resmi Buka 5 Beasiswa Unggulan 2026, Peluang Emas Generasi Muda untuk Kuliah Gratis di Bogor
Dari sini terlihat bahwa persoalan utama pendidikan bukan semata pada kurangnya akses atau kualitas materi. Masalah utamanya adalah ketidakseimbangan antara kecerdasan intelektual dan pembentukan karakter. Pendidikan selama ini dinilai masih terlalu kuat pada aspek kognitif, tetapi belum cukup dalam membangun dimensi moral dan spiritual.
Hal ini juga menjadi perhatian Universitas Ibn Khaldun Bogor melalui Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang mendorong pendidikan guru berbasis nilai dan integritas. Di tengah perubahan zaman, peran guru tidak lagi sekadar sebagai penyampai materi, tetapi sebagai pembentuk arah dan teladan.
“Guru bukan hanya profesi, tapi panggilan jiwa. Ia tidak hanya mengajar, tapi memberi contoh,” tegas Dr. Nanik.
Pendekatan ini diwujudkan melalui penguatan nilai moral dan spiritual dalam proses pendidikan, penanaman kesadaran profesi sebagai bentuk pengabdian, serta integrasi refleksi dalam setiap pembelajaran. Teknologi seperti AI pun diarahkan sebagai alat bantu, bukan pengganti peran manusia.
Dengan pendekatan tersebut, UIKA Bogor menegaskan komitmennya dalam mencetak pendidik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas dan tanggung jawab moral.
Pada akhirnya, Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi momentum untuk bertanya secara jujur tentang arah pendidikan bangsa. Apakah kita sedang membangun manusia yang utuh, atau hanya menghasilkan individu yang cerdas secara intelektual tanpa fondasi nilai yang kuat.
Di era ketika mesin bisa menjawab hampir semua pertanyaan, justru manusia membutuhkan sosok yang mampu memberi arah.
Dan di situlah, pendidikan menemukan kembali maknanya.