Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Mau Cepat Dapat Kerja Setelah Kuliah? UIKA Bogor Gandeng Kemnaker RI Siapkan Lulusan Siap Kerja

Eka Rahmawati • Senin, 4 Mei 2026 | 17:32 WIB
Penandatanganan MoU Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor dan Kementerian Ketenagakerjaan RI bertepatan dengan kegiatan Studium Generale dihadiri oleh Menteri Ketenagakerjaan RI Yassierli di Auditorium Prof. Abdullah Siddiq, UIKA Senin, 4 Mei 2026. (Dok. UIKA Bogor)
Penandatanganan MoU Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor dan Kementerian Ketenagakerjaan RI bertepatan dengan kegiatan Studium Generale dihadiri oleh Menteri Ketenagakerjaan RI Yassierli di Auditorium Prof. Abdullah Siddiq, UIKA Senin, 4 Mei 2026. (Dok. UIKA Bogor)

RADAR BOGOR – Bagi mahasiswa, mendapatkan pekerjaan dengan cepat setelah lulus kini menjadi tantangan yang semakin nyata di tengah persaingan dunia kerja yang ketat dan dinamis.

Menjawab kondisi tersebut, Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor mengambil langkah strategis dengan menjalin kerja sama bersama Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) Republik Indonesia guna mempersiapkan lulusan yang benar-benar siap terjun ke dunia kerja.

Kolaborasi ini diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang berlangsung pada Senin, 4 Mei 2026, bertepatan dengan kegiatan Studium Generale yang menghadirkan Menteri Ketenagakerjaan RI di Auditorium Prof. Abdullah Siddiq, UIKA Bogor.

Baca Juga: Setelah Masjid Ambruk, Jembatan di Pasirjaya Kota Bogor juga Rusak Tergerus Arus Sungai

Penandatanganan dilakukan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan RI, Dr. Cris Kuntadi, S.E., M.M., bersama Rektor UIKA Bogor, Prof. Dr. H. E. Mujahidin, M.Si. Acara ini turut disaksikan oleh Menteri Ketenagakerjaan RI, Ketua Yayasan Pendidikan Islam Ibn Khaldun Bogor (YPIKA), serta Ketua Senat UIKA Bogor.

Sekitar 500 mahasiswa UIKA Bogor turut hadir dan mengikuti kuliah umum bertema “Transformasi Dunia Kerja di Era Digital: Dampak AI, Otomasi, dan Digitalisasi terhadap Lapangan Kerja” dengan antusias.

Dalam pemaparannya, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) RI, Prof. Yassierli, Ph.D., menekankan bahwa perubahan besar dalam dunia kerja saat ini tidak bisa dihindari.

Ia menyebutkan bahwa meskipun banyak jenis pekerjaan yang akan hilang atau tergantikan, peluang kerja baru juga akan terus bermunculan. Tantangannya terletak pada kesiapan sumber daya manusia untuk mengisi peluang tersebut.

Baca Juga: Bocoran Tes SPPI Manajer Kopdes 2026: 228 Soal Cuma 1 Jam, Uji Ketangkasan Mengelola Koperasi di Bawah Tekanan

“Dunia kerja sedang berubah drastis, pekerjaan akan selalu ada, bahkan terus bertambah tapi persoalannya, apakah talenta kita siap untuk mengisinya?” ujar Yassierli.

Berdasarkan data global, sekitar 92 juta pekerjaan diprediksi akan hilang pada 2030, sementara 170 juta jenis pekerjaan baru akan muncul dengan kebutuhan keterampilan yang berbeda.

Di Indonesia sendiri, tantangan tersebut cukup besar. Mayoritas angkatan kerja masih berpendidikan maksimal SMA/SMK, dan lebih dari setengahnya bekerja di sektor informal. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kebutuhan industri dan kualitas tenaga kerja.

Di sisi lain, peluang tetap terbuka luas. Realisasi investasi nasional pada triwulan pertama 2026 mencapai Rp498,8 triliun dan mampu menyerap lebih dari 700 ribu tenaga kerja. Namun, peluang ini hanya dapat dimanfaatkan oleh mereka yang memiliki kompetensi yang sesuai.

Tren rekrutmen saat ini juga mengalami perubahan. Dunia industri tidak lagi hanya berfokus pada gelar akademik, melainkan lebih mengutamakan kemampuan dan keterampilan nyata.

Menteri Ketenagakerjaan menegaskan pentingnya menciptakan talenta yang siap menghadapi masa depan (future-ready talent), yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga keterampilan seperti berpikir kritis, komunikasi, adaptasi, dan empati.

Baca Juga: Harap Sabar, Bansos PKH BPNT Tahap 2 2026 Belum Cair? Tenyata Telah Memasuki Fase Ini di SIKS-NG

“Ke depan, yang dilihat bukan lagi sekadar gelar, tetapi apa yang bisa dilakukan. Skill akan menjadi kunci utama,” tegas Menaker.

Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), bukanlah ancaman, melainkan tantangan yang harus dihadapi dengan kemampuan adaptasi.

Selain itu, mahasiswa didorong untuk memiliki pola pikir berkembang (growth mindset) serta jiwa kewirausahaan agar tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan.

Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, UIKA Bogor bersama Kementerian Ketenagakerjaan berkomitmen menghadirkan berbagai program yang terhubung langsung dengan kebutuhan industri. Program ini mencakup pelatihan, peningkatan kompetensi, hingga pengembangan keterampilan yang relevan dengan tuntutan masa depan.

Baca Juga: Usai Pengendara Meninggal Tertimpa Pohon Tumbang, Pemkab Gandeng IPB Evaluasi Pohon di Jalan Tegar Beriman dan Jalan Jakarta-Bogor

Rektor UIKA Bogor, Prof. Dr. H. E. Mujahidin, M.Si., menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan langkah nyata untuk menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja.

Menurutnya, UIKA tidak hanya fokus pada pencapaian akademik, tetapi juga memastikan lulusannya memiliki kesiapan dan kompetensi yang dibutuhkan di dunia profesional.

“UIKA tidak hanya menyiapkan lulusan yang kuat secara akademik, tetapi juga memastikan mereka siap masuk ke dunia kerja dengan kompetensi yang relevan,” ucap Rektor UIKA.

Kerja sama ini akan berlangsung selama lima tahun dan akan ditindaklanjuti melalui berbagai program konkret yang berdampak langsung bagi mahasiswa.

Langkah ini sekaligus memperkuat posisi UIKA Bogor sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pembelajaran, tetapi juga pada kesiapan karier para lulusannya.

Editor : Eka Rahmawati
#bogor #UIKA #kemnaker