RADAR BOGOR – Program Sekolah Rakyat yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto mulai menghadirkan harapan baru bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Salah satunya dirasakan Al-Jabbar, bocah berusia 12 tahun yang akhirnya berkesempatan mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat setelah sebelumnya belum pernah duduk di bangku sekolah.
Kisah Al-Jabbar atau yang akrab disapa Al menjadi perhatian publik setelah diceritakan langsung oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf.
Baca Juga: Final Liga Champions 2026: PSG Tantang Arsenal di Budapest, Ulangan Duel Panas Musim Lalu
Pria yang akrab disapa Gus Ipul itu menyebut Al merupakan salah satu calon siswa Sekolah Rakyat yang berasal dari kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur.
Menurut Gus Ipul, Al sempat menyampaikan sendiri kisah hidupnya kepada Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya saat kunjungan di Istana Negara.
“Dia memperkenalkan diri sebagai Al-Jabbar, usianya 12 tahun dan mengaku belum pernah bersekolah. Cerita itu disampaikan langsung secara spontan kepada Pak Seskab,” ujar Gus Ipul dalam konferensi pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Rabu 6 Mei 2026.
Al diketahui hidup bersama ibu dan adiknya setelah sang ayah meninggal dunia. Kondisi ekonomi keluarga yang sulit membuat mereka harus tinggal menumpang dan menjalani kehidupan serba terbatas.
Gus Ipul menjelaskan, Al ditemukan saat berada di kawasan lampu merah. Meski dirinya belum pernah sekolah, Al tetap memiliki keinginan besar agar sang adik dapat memperoleh pendidikan yang layak.
“Dia hidup bersama ibu tunggal dan adiknya. Meski belum pernah sekolah, Al tetap ingin adiknya bisa melanjutkan pendidikan,” kata Gus Ipul.
Baca Juga: Vincent Kompany Kecewa Berat dengan Wasit Usai Bayern Munich Tersingkir dari Liga Champions
Program Sekolah Rakyat sendiri ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin, khususnya kelompok desil 1 dan 2.
Pemerintah berharap program ini dapat menjadi solusi untuk memutus rantai kemiskinan melalui akses pendidikan.
Pada tahap awal pelaksanaan tahun 2025, Sekolah Rakyat telah menampung lebih dari 15 ribu siswa dari berbagai latar belakang ekonomi yang mayoritas berada di bawah garis kemiskinan.
Data Kementerian Sosial menunjukkan sebagian besar orang tua siswa bekerja di sektor informal dengan penghasilan rendah.
“Mayoritas orang tua siswa memiliki pendapatan di bawah Rp1 juta per bulan dan banyak keluarga yang memiliki tanggungan cukup besar,” jelas Gus Ipul.
Selain itu, ratusan siswa yang masuk program ini tercatat belum pernah sekolah maupun putus sekolah akibat kondisi ekonomi keluarga.
Terdapat sekitar 454 anak yang belum pernah mengenyam pendidikan, sementara 298 lainnya diketahui putus sekolah.
Sebagian di antaranya bahkan sudah bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Pemerintah menargetkan jumlah peserta Sekolah Rakyat mencapai 46 ribu siswa sepanjang 2026.
Angka tersebut direncanakan terus meningkat menjadi 100 ribu siswa pada 2027 dan lebih dari 200 ribu siswa pada 2028. (***)
Editor : Yosep Awaludin