RADAR BOGOR - Dunia pendidikan tinggi gizi di Indonesia terus bergerak menyesuaikan tantangan global.
Hal itu terlihat dalam Workshop Penetapan Bahan Kajian Pendidikan Tinggi Gizi Multistrata yang dirangkaikan dengan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Gizi Indonesia (AIPGI) 2026 di Hotel Kristal, Jakarta, pada 30 April hingga 2 Mei 2026.
Kegiatan nasional tersebut mempertemukan pimpinan program studi, akademisi, serta para pemangku kepentingan pendidikan tinggi gizi dari berbagai daerah di Indonesia.
Salah satu peserta yang turut hadir yakni Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (UMBARA) melalui Kepala Program Studi S1 Gizi, Ika Puspa Windardi.
Rakernas dan workshop dibuka langsung Ketua Umum AIPGI, Budi Setiawan.
Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi antarlembaga pendidikan tinggi dalam meningkatkan kualitas lulusan bidang gizi agar mampu bersaing secara global.
Baca Juga: Tepuk Tangan Guru PAUD Bogor Pecah di UMBARA, 300 Mahasiswa Dapat Beasiswa Istimewa dari Pemkab
Menurut Budi Setiawan, AIPGI berkomitmen memperkuat standar pendidikan tinggi gizi sehingga mampu menghasilkan tenaga profesional yang kompeten dan siap menghadapi perkembangan dunia kesehatan serta kebutuhan masyarakat modern.
Pada hari pertama, peserta mendapatkan pemaparan mengenai capaian program AIPGI selama setahun terakhir, termasuk pembaruan standar kompetensi dan standar profesi tenaga gizi nasional.
Pembahasan juga menyoroti peran asosiasi dalam pelaksanaan uji kompetensi tenaga gizi.
Tak hanya itu, sesi pleno membahas bahan kajian pendidikan akademik gizi mulai jenjang sarjana hingga doktoral.
Para peserta juga saling berbagi pengalaman mengenai pengembangan kurikulum pendidikan tinggi gizi multistrata di masing-masing perguruan tinggi.
Memasuki hari kedua, fokus pembahasan bergeser pada penguatan tata kelola pendidikan tinggi gizi.
Sejumlah isu strategis seperti mekanisme pembukaan program studi baru, sistem penjaminan mutu pendidikan, hingga pengembangan pendidikan profesi nutrisionis dan dietisien menjadi topik utama diskusi.
Beberapa perguruan tinggi turut membagikan pengalaman mereka dalam membuka program studi gizi multistrata sebagai referensi pengembangan pendidikan gizi di Indonesia.
Sementara itu, dalam sesi Rapat Kerja Nasional, setiap bidang di tubuh AIPGI memaparkan rencana program kerja tahun 2026.
Forum tersebut juga membahas langkah tindak lanjut sebagai strategi implementasi program organisasi ke depan.
Kegiatan kemudian ditutup secara resmi oleh Ketua Umum AIPGI pada hari kedua, sebelum dilanjutkan agenda hari ketiga berupa senam bersama dan upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional.
Kepala Program Studi S1 Gizi UMBARA, Ika Puspa Windardi, menilai workshop dan Rakernas tersebut memberikan manfaat besar bagi pengembangan pendidikan gizi di perguruan tinggi.
Menurut Ika Puspa Windardi, forum nasional itu menjadi momentum penting untuk menyelaraskan kurikulum sekaligus meningkatkan mutu pendidikan gizi agar lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
"Ini menjadi kebutuhan," ucapnya.
Melalui kegiatan ini, AIPGI kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong pendidikan tinggi gizi yang adaptif, berkualitas, dan mampu melahirkan lulusan berdaya saing tinggi.
Selain itu, Rakernas AIPGI 2026 juga menjadi wadah strategis memperkuat sinergi antar institusi pendidikan tinggi gizi di seluruh Indonesia. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim