RADAR BOGOR - Rektor Universitas Djuanda (Unida) Bogor, Siti Pupu Fauziah, menjadi narasumber dalam kegiatan Fasilitasi Pencegahan dan Penanganan Konflik Sosial yang digelar Bakesbangpol Kabupaten Bogor pada Rabu, 13 Mei 2026 di Hotel Taman Teratai.
Kegiatan bertema “Mencegah dan Menangani Permasalahan Tawuran Pelajar Wilayah Kabupaten Bogor” yang diikuti Rektor Unida Bogor itu diikuti pengurus OSIS tingkat SMA, SMK, dan MA se-Kabupaten Bogor.
Acara tersebut bertujuan memperkuat peran pelajar dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan kondusif.
Dalam kesempatan itu, Prof. Siti Pupu Fauziah menyampaikan materi bertajuk “Manajemen Konflik dan Kepemimpinan Pelajar dalam Membangun Budaya Damai di Sekolah melalui Manajemen Qolbu”.
Ia menjelaskan bahwa konflik di kalangan pelajar merupakan hal yang wajar. Namun, apabila tidak dikelola dengan baik, konflik dapat berkembang menjadi perpecahan, bullying, hingga kekerasan antarpelajar.
Menurutnya, budaya damai di lingkungan sekolah perlu dibangun melalui pengendalian diri, komunikasi sehat, dan kepemimpinan yang berakhlak.
Baca Juga: Tak Sekadar Teori, Siswa SMAN 10 Kota Bogor Belajar Harmoni Sosial Secara Langsung
Prof. Siti Pupu Fauziah menekankan pentingnya manajemen qolbu sebagai fondasi pembentukan karakter pelajar agar mampu mengendalikan emosi, bersikap sabar, memiliki empati, dan menghargai sesama.
“Konflik besar kerap berawal dari hati yang tidak terkelola dengan baik, seperti egoisme, iri hati, amarah, dan keinginan menang sendiri. Sebaliknya, budaya damai tumbuh dari hati yang sehat, penuh empati, dan saling menghargai,” ujarnya.
Ia juga menyoroti peran strategis OSIS dalam menjaga suasana damai di sekolah. Menurutnya, pengurus OSIS tidak hanya bertugas mengelola kegiatan sekolah, tetapi juga harus mampu menjadi penengah konflik, penjaga komunikasi, dan teladan moral bagi siswa lainnya.
Baca Juga: Bansos BPNT Tahap Kedua Rp600.000 Mulai Cair di KKS BNI, Pendamping PKH Juga Punya Tugas Baru
“Pengurus OSIS harus menjadi agen perdamaian dengan mengedepankan dialog, musyawarah, dan komunikasi yang baik dalam menyelesaikan konflik antarpelajar,” tegasnya.
Selain itu, Prof. Siti Pupu Fauziah mengingatkan bahwa perkembangan media sosial dan budaya digital menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda. Penyebaran konflik melalui media sosial, cyberbullying, hingga polarisasi kelompok dinilai dapat memperbesar potensi tawuran jika tidak disikapi secara bijak.
Karena itu, pelajar dinilai perlu memiliki kecerdasan emosional, kemampuan sosial, serta integritas spiritual untuk menghadapi tantangan di era digital.
“Budaya damai tidak cukup dibangun lewat slogan, tetapi harus diwujudkan melalui keteladanan dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Baca Juga: BI Pastikan Cadangan Devisa Indonesia Aman, Siap Jaga Stabilitas Rupiah dari Tekanan Dolar AS
Pada kesempatan yang sama, Universitas Djuanda juga memberikan beasiswa kepada para ketua OSIS yang hadir. Beasiswa tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi sekaligus dukungan terhadap pengembangan kepemimpinan pelajar di Kabupaten Bogor.
Program itu diharapkan dapat memotivasi siswa untuk terus berprestasi, memperkuat karakter kepemimpinan, serta menjadi generasi muda yang mampu membawa dampak positif bagi sekolah dan masyarakat.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga