Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Peringati 100 Tahun Sayogyo, IPB University Gelar Festival Literasi dan Seminar Internasional

Dede Supriadi • Selasa, 19 Mei 2026 | 19:16 WIB
Kepala PSP3 IPB University, Ivanovich Agusta saat menjelaskan rangkaian Festival Literasi Kampus dan seminar internasional dalam peringatan 100 tahun Sayogyo di Perpustakaan IPB University. (Dede/Radar Bogor)
Kepala PSP3 IPB University, Ivanovich Agusta saat menjelaskan rangkaian Festival Literasi Kampus dan seminar internasional dalam peringatan 100 tahun Sayogyo di Perpustakaan IPB University. (Dede/Radar Bogor)

RADAR BOGOR - IPB University menggelar Festival Literasi Kampus dan Book Fair sebagai rangkaian peringatan 100 tahun kelahiran Sayogyo, tokoh besar yang dikenal sebagai Bapak Sosiologi Pedesaan Indonesia. Kegiatan tersebut berlangsung pada 18-23 Mei 2026 di Perpustakaan IPB University.

Rangkaian kegiatan itu juga dipadukan dengan International Seminar on Autonomous Social Sciences and Alternative Development in Times of Multiple Crises yang menghadirkan berbagai akademisi dan peneliti.

Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) IPB University, Ivanovich Agusta mengatakan, peringatan satu abad Sayogyo menjadi momentum penting untuk mengenalkan kembali pemikiran dan keberpihakan tokoh tersebut terhadap masyarakat pedesaan.

Baca Juga: RSUD R Moh Noh Nur Bogor Tingkatkan Kompetensi SDM Lewat Pelatihan BTCLS Bersertifikat Kemenkes

“Pak Sayogyo itu salah satu orang besar di Indonesia, khususnya kalau kita mempelajari mengenai sosiologi pedesaan. Beliau sering dipandang sebagai Bapak Sosiologi Pedesaan,” ujar Ivanovich.

Ia menjelaskan, Sayogyo lahir pada 21 Mei 1926 dan memiliki peran besar dalam perkembangan ilmu sosial, agraria, kemiskinan, gender hingga ketahanan pangan di Indonesia.

Menurut Ivanovich, Sayogyo dikenal sebagai akademisi yang mampu mengawinkan pendekatan sosiologi dengan ekonomi dalam berbagai penelitian pedesaan. Hal itu terlihat dari kiprahnya saat memimpin Survei Agro Ekonomi pada era 1960-an.

Baca Juga: Satu Kecamatan 1 Hutan Kota Digeber, Langkah Pemkab Bogor Kurangi Risiko Bencana Hidrometeorologi

“Analisis beliau sangat kuat datanya, tapi penjelasannya tetap sangat sosiologis,” katanya.

Dari hasil riset tersebut, Sayogyo menemukan bahwa modernisasi pertanian melalui Revolusi Hijau tidak sepenuhnya menguntungkan masyarakat kecil. Petani besar disebut semakin berkembang, sementara petani gurem dan buruh tani justru makin tersisih.

Selain itu, Sayogyo juga menjadi tokoh yang memperkenalkan konsep garis kemiskinan berbasis konsumsi beras. Pendekatan tersebut dinilai lebih membumi karena langsung mengukur kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan pangan dasar.

“Beliau melihat kemiskinan tidak cukup diukur dari pendapatan uang saja, tetapi dari kemampuan memenuhi kebutuhan pangan,” jelas Ivanovich.

Tak hanya fokus pada persoalan agraria dan kemiskinan, Sayogyo juga dikenal sebagai pelopor pengarusutamaan isu gender dan gizi di pedesaan bersama istrinya, Pudjiwati Sayogyo.

Dari pemikiran itu lahir konsep Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) dan taman gizi yang kemudian berkembang menjadi cikal bakal Posyandu di Indonesia.

Dalam peringatan 100 tahun Sayogyo ini, IPB University bersama Yayasan Sayogyo Utama dan Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB juga menggelar seminar nasional, peluncuran buku hingga ziarah ke makam Sayogyo.

Acara puncak akan berlangsung pada Kamis (21/5/2026), tepat di hari kelahiran Sayogyo, dengan menghadirkan sejumlah tokoh dan akademisi yang selama ini meneliti pemikiran-pemikiran beliau.

“Kami berharap generasi muda bisa mengenal kembali Pak Sayogyo, bukan hanya sebagai nama besar, tetapi memahami keberpihakan beliau kepada petani kecil, perempuan desa, dan masyarakat bawah melalui penelitian ilmiah dan kebijakan nyata,” pungkas Ivanovich.(ded)

Editor : Eka Rahmawati
#ipb #Sayogyo #100 tahun