RADAR BOGOR – Teras Kebinekaan sukses menyelenggarakan forum diskusi intelektual tingkat nasional bertajuk Hypatia School #07 di Kantor Teras Kebinekaan, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor.
Forum eksklusif yang dikemas dalam bentuk roundtable discussion tersebut digelar untuk membedah gagasan besar dalam buku Pendidikan Bermutu untuk Semua: Menggali Pokok-pokok Pikiran Abdul Mu’ti.
Direktur Eksekutif Teras Kebinekaan, Dr. Moh. Shofan, melontarkan catatan kritis agar konsep-konsep besar pembelajaran tidak berhenti sebagai jargon birokrasi semata.
Ia menilai konsep seperti deep learning, meaningful learning, dan joyful learning masih berada pada level paradigma dan belum sepenuhnya membumi di ruang kelas.
“Membaca buku ini, saya melihat konsep-konsep seperti deep learning, meaningful learning, dan joyful learning masih berada di level paradigmatik, belum membumi secara metodologis di ruang kelas,” ujarnya, Kamis 21 Mei 2026.
Menurutnya, tantangan pendidikan di daerah terpencil seperti Bone dan wilayah kepulauan di Maluku masih didominasi persoalan sarana dan prasarana yang terbatas.
Baca Juga: Parkir Liar di Jalan Bersih Cibinong, 136 Kendaraan Ditindak Petugas Dishub Kabupaten Bogor
Meski demikian, proses pembelajaran tetap berjalan karena dedikasi para guru yang hadir langsung di lapangan.
Sementara itu, Staf Ahli Kemendikdasmen Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga, Biyanto, yang hadir mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI menegaskan bahwa deep learning bukanlah kurikulum baru.
“Kami tegaskan bahwa deep learning ini bukan kurikulum baru. Kementerian berkomitmen penuh untuk menghindari adagium lama ganti menteri ganti kurikulum,” tegasnya.
Ia menjelaskan, sekolah yang saat ini masih menerapkan Kurikulum 2013 maupun Kurikulum Merdeka tetap dapat berjalan seperti biasa karena deep learning hanya merupakan pendekatan untuk memperdalam pola berpikir siswa, bukan mengganti dokumen kurikulum.
Dari sisi operasional pembelajaran, akademisi Universitas Sanata Dharma, Prof. Johanes Haryatmoko, memaparkan sejumlah metode pembelajaran konkret yang dapat digunakan guru untuk melatih kemampuan berpikir reflektif, kritis, dan kreatif siswa.
Menurutnya, kualitas kedalaman berpikir siswa perlu diukur secara sistematis menggunakan Taksonomi SOLO dengan penerapan metode seperti logika abduksi, design thinking, hingga computational thinking.
“Tujuan besar kita adalah deep learning, dan kualitas kedalaman berpikir siswa tersebut harus diukur secara terstruktur menggunakan Taksonomi SOLO,” jelasnya.
Ia menambahkan, pendekatan tersebut diharapkan mampu menggeser pola belajar siswa dari sekadar menghafal fakta menuju kemampuan merancang solusi inovatif pada situasi baru.
Kritik terhadap sistem pendidikan juga disampaikan Co-founder Yayasan Mulia Raya, Musdah Mulia.
Ia mengingatkan pemerintah agar tidak terjebak dalam slogan moral tanpa keberanian melakukan pembenahan fundamental terhadap ketimpangan sosial di dunia pendidikan.
Baca Juga: bank bjb Bagi Slot Dieng Caldera Race 2026, Nasabah Bisa Dapat Tiket Trail Run Tanpa War Tiket
“Narasi pendidikan bermutu untuk semua akan menjadi slogan moral belaka jika pemerintah tidak berani melakukan transformasi struktural untuk membongkar ketimpangan kelas sosial, wilayah, dan kasta sekolah favorit,” tuturnya.
Menurutnya, pendidikan karakter tidak boleh hanya diarahkan pada kepatuhan formal, tetapi juga harus melahirkan keberanian berpikir kritis, empati, dan kepedulian terhadap ketidakadilan sosial.
Ia juga mendorong adanya peta jalan pendidikan nasional jangka panjang agar arah kebijakan tetap stabil lintas pemerintahan.
Pandangan kritis juga datang dari Inayah Wahid yang menilai masih terdapat jurang besar antara sistem pendidikan dengan kebutuhan nyata kehidupan masa depan.
“Banyak hal yang kita hafalkan di masa lalu ternyata sama sekali tidak fungsional di masa depan,” imbuhnya.
Ia menilai siswa selama ini kurang dibekali kemampuan berpikir kritis, empati, rasa ingin tahu, hingga budaya berdiskusi sehat.
Diskusi yang dipandu Ayu Arman yang diperkaya oleh perspektif dari anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Rikard Bagun.
Ia menyoroti sistem pendidikan Indonesia yang dinilai terlalu banyak menghabiskan energi pada hafalan dan doktrinasi formal.
“Hafalan itu penting, tetapi jika seluruh energi habis di sana, kita hanya akan mengulang-ulang hal yang sama. Dampaknya, kapasitas reflective dan critical thinking generasi kita menjadi lemah,” tutupnya.
Menurut Rikard, di tengah derasnya arus informasi digital saat ini, pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang memiliki kemampuan verifikasi, validasi, dan konfirmasi informasi berbasis logika serta etika.
Melalui forum Hypatia School #07 ini, Teras Kebinekaan berharap berbagai gagasan dan catatan kritis yang lahir dari para tokoh dapat menjadi rekomendasi kebijakan publik demi terciptanya pendidikan Indonesia yang inklusif, adil, toleran, dan memanusiawakan manusia. (cr1)
Editor : Yosep Awaludin