RADAR BOGOR – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Ibn Khaldun (FEB UIKA) Bogor menggelar Seminar Nasional yang menghadirkan Pakar Kebijakan Publik dan Ekonomi Politik Internasional, Mohammad Jibriel Avessina, sebagai narasumber utama.
Dalam pemaparannya di seminar nasional FEB UIKA Bogor, Jibriel mengulas capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I 2026 yang mencapai 5,61 persen secara year on year (yoy). Angka tersebut menjadi pertumbuhan kuartal pertama tertinggi dalam 13 tahun terakhir sejak 2013.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.187,2 triliun. Pertumbuhan tersebut juga melampaui sejumlah negara G20 seperti Tiongkok, Amerika Serikat, Malaysia, hingga Singapura.
Baca Juga: Bansos BPNT Rp600 Ribu Cair Serentak Hari Ini di KKS BRI dan BNI, Cek Daftar Wilayahnya
“Angka 5,61 persen ini bukan sekadar statistik. Ini adalah sinyal bahwa fondasi perekonomian Indonesia cukup kokoh untuk menghadapi tekanan eksternal yang belum pernah kita rasakan sejak pandemi. Namun, kita tidak boleh terlena angka ini harus menjadi batu loncatan, bukan pelipur lara,” ujarnya, Jumat, 22 Mei 2026.
Jibriel menjelaskan, pertumbuhan ekonomi nasional ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, dan lonjakan belanja pemerintah melalui strategi frontloading anggaran.
Selain itu, sektor akomodasi dan makan-minum serta transportasi menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi pada awal tahun 2026.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa sebagian pertumbuhan masih dipengaruhi faktor musiman seperti Ramadan, Idulfitri, dan pencairan THR, sehingga pemerintah perlu memastikan adanya penguatan fondasi ekonomi jangka panjang.
“Kita harus membaca pertumbuhan ini secara jujur. Sebagian kontribusinya bersifat musiman dan sementara Ramadan, THR, dan frontloading APBN tidak akan berulang dengan intensitas yang sama di kuartal berikutnya. Pertanyaan sesungguhnya adalah seberapa kuat fondasi struktural kita untuk mempertahankan momentum ini," katanya.
Dalam seminar tersebut, Jibriel juga menyoroti kondisi pasar keuangan nasional yang mengalami tekanan di tengah pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.
Baca Juga: 9 Tahun Mengabdi, AKP Made Budi Tinggalkan Polres Metro Depok ke Jakarta Timur
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat terkoreksi sekitar 19,55 persen sepanjang Januari hingga April 2026, sementara nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp17.346 per dolar AS.
Menurutnya, kondisi itu dipengaruhi ketidakpastian geopolitik global, perang tarif Amerika Serikat dan Tiongkok, serta arus keluar modal asing dari negara berkembang.
“Pasar keuangan sering kali lebih reaktif terhadap sentimen global dibandingkan data fundamental domestik, tapi kita tidak bisa mengabaikan sinyal ini. Penurunan IKK dan tekanan rupiah adalah peringatan dini yang harus direspons dengan kebijakan yang tepat dan terkoordinasi," ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menilai Indonesia memiliki peluang strategis di tengah perubahan peta ekonomi global.
Status Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia, pasar domestik terbesar di ASEAN, serta kebijakan luar negeri bebas aktif menjadi modal penting untuk menarik investasi dan memperkuat posisi ekonomi nasional.
“Indonesia berada di persimpangan strategis yang tidak dimiliki banyak negara lain, kita tidak harus memilih antara Washington dan Beijing.
Posisi bebas-aktif bukan sekadar doktrin politik luar negeri, ia adalah aset ekonomi yang harus dikapitalisasi secara konkret dalam negosiasi investasi, perdagangan, dan transfer teknologi," tuturnya.
Namun, ia juga mengingatkan sejumlah tantangan seperti ketergantungan pada ekspor komoditas primer, risiko middle income trap, dan persaingan investasi dengan negara-negara ASEAN lainnya.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Jibriel merekomendasikan percepatan hilirisasi industri, penguatan ekonomi digital dan kecerdasan buatan, stabilisasi nilai tukar, diplomasi ekonomi multipolar, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi dan reskilling tenaga kerja.
“Kita telah membuktikan bahwa Indonesia mampu tumbuh bahkan di tengah guncangan global yang paling kompleks sekalipun, tapi kita belum membuktikan bahwa kita mampu bertransformasi," pungkasnya.
Baca Juga: Waspada Warga Bogor, 2 Bahaya Penggunaan Galon Tua untuk Air Minum, Berpotensi Ganggu Sistem Hormon
Ia menambahkan, transformasi dari ekonomi berbasis komoditas menuju ekonomi berbasis pengetahuan dan inovasi akan menentukan apakah Indonesia Emas 2045 menjadi kenyataan atau sekadar slogan. Menurutnya, pilihan untuk mewujudkan hal tersebut ada di tangan generasi dan pemangku kebijakan hari ini.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga