RADAR BOGOR – Kantor SEAMEO BIOTROP, Bogor Selatan Kota Bogor menjadi lokasi pelatihan keterampilan pertanian bagi guru Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Indonesia. Kegiatan ini digelar pada 2–5 Juni 2026 untuk memperkuat pembelajaran berbasis praktik bagi siswa berkebutuhan khusus.
Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (PMPK), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bekerja sama dengan BIOTROP menyelenggarakan Program Peningkatan Kompetensi Guru (PKG) SLB bidang keterampilan pertanian. Program ini merupakan tahap lanjutan setelah pelatihan daring yang diikuti lebih dari 670 peserta, dengan 30 SLB terpilih dari hasil seleksi nasional.
Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Arif Jamali mengatakan, pelatihan ini difokuskan pada peningkatan kompetensi guru agar mampu mengajarkan keterampilan yang aplikatif kepada siswa difabel.
“Tempat BIOTROP ini memang digunakan untuk praktik langsung. Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kompetensi guru-guru kita, sehingga ketika nanti diterapkan di sekolah, hasilnya bisa jauh lebih baik dan mampu meningkatkan kemampuan anak-anak kita yang berkebutuhan khusus,” ujarnya.
Baca Juga: Pendaftaran SPMB Dimulai, Orang Tua Siswa di Bogor Makin Sibuk Perbaiki Data Kependudukan
Ia menjelaskan, tujuan utama program ini tidak hanya membekali siswa dengan keterampilan pertanian, tetapi juga mendorong kemandirian hidup. Menurutnya, pertanian menjadi media pembelajaran yang efektif untuk melatih kecakapan hidup siswa.
“Tujuannya ada dua. Pertama, anak-anak berkebutuhan khusus ini nantinya memiliki kemampuan di bidang pertanian. Kedua, mereka diharapkan bisa memiliki kemandirian hidup melalui bidang pertanian ini,” jelasnya.
Arif menambahkan, keterampilan yang diajarkan tidak harus dimaknai menjadikan siswa sebagai petani. Namun lebih pada kemampuan dasar menanam yang dapat menjadi alat untuk melatih kemandirian siswa dalam kehidupan sehari-hari.
“Terampil di sini tidak harus selalu diartikan menjadi petani, tetapi mereka terampil menanam. Pada saat yang sama, ini menjadi alat bagi anak-anak kita untuk melatih diri menjadi siswa yang mandiri,” tambahnya.
Ia juga menyebut peserta pelatihan berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Yogyakarta, Makassar hingga Papua. Hal ini menunjukkan kebutuhan penguatan kompetensi keterampilan pertanian di SLB tersebar di berbagai wilayah.
Sementara itu, Direktur SEAMEO BIOTROP, Edi Santosa menyampaikan bahwa kegiatan ini sejalan dengan peran BIOTROP sebagai lembaga regional di bidang biologi tropis.
“Dari 670 peserta tersebut, dilakukan seleksi hingga terpilih 30 SLB dari seluruh Indonesia—dari Sabang sampai Merauke—untuk ikut pelatihan luring ini,” kata Edi.
Ia menilai respons peserta terhadap program ini sangat positif dan memberikan dampak nyata. Ke depan, BIOTROP berencana menjadikan kegiatan serupa sebagai program reguler sekaligus melakukan kunjungan ke sekolah peserta untuk melihat implementasi serta mendapatkan umpan balik.
“Insyaallah ke depan kami akan coba susun kegiatan ini agar menjadi program reguler. Kami juga akan melihat langsung bagaimana penerapannya di sekolah dan menerima feedback dari para guru,” katanya.
Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi teori dan praktik pertanian perkotaan seperti hidroponik, akuaponik, tabulampot, hortikultura terpadu, hingga sistem bioflok. Materi tersebut dirancang agar dapat langsung diterapkan di lingkungan sekolah masing-masing.
Selain itu, peserta juga dibekali materi digital marketing dan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung pembelajaran yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Seluruh peserta mengikuti praktik langsung di fasilitas dan demplot BIOTROP. Melalui pembelajaran berbasis praktik ini, guru diharapkan mampu merancang model pembelajaran yang lebih aplikatif, sekaligus mendukung kemandirian siswa dan ketahanan pangan berbasis sekolah.(uma)
Editor : Eka Rahmawati