RADAR BOGOR - Sebagai upaya mengatasi kekurangan asupan kalsium pada anak usia dini melahirkan inovasi menarik dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Pakuan (Unpak).
Tim dosen Program Studi Farmasi berhasil mengembangkan gummy candies berbahan ekstrak ikan teri nasi dan pati talas sebagai alternatif suplemen kalsium yang lebih ramah bagi anak-anak.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh apt. Dian Farida Ismyama, M.Clin.Pharm., Ema Hermawati, M.Farm., dan Marybet Tri Retno Handayani, M.Farm., bersama dua mahasiswa Farmasi, Ricky Alfandy Rachman dan Fahira Fitriani Mansur.
Penelitian ini berangkat dari masih tingginya persoalan kekurangan kalsium pada anak usia 1 hingga 5 tahun. Padahal, periode tersebut merupakan masa penting dalam pembentukan tulang dan gigi.
Ketua tim peneliti, apt. Dian Farida Ismyama menjelaskan, ikan teri dipilih karena memiliki kandungan kalsium dan protein yang tinggi serta mudah diperoleh di Indonesia.
“Gol utama penelitian ini adalah menghadirkan sumber kalsium yang lebih mudah diterima anak-anak. Karena itu kami mengembangkan bentuk gummy yang lebih menarik dibandingkan suplemen konvensional,” ujarnya.
Pengujian Standarisasi Bahan Baku Ikan Teri
Sebelum diformulasikan menjadi gummy, tim peneliti terlebih dahulu melakukan standarisasi bahan baku ikan teri dalam bentuk simplisia. Pengujian meliputi organoleptik, kadar air, hingga kadar abu guna memastikan kualitas dan keamanan bahan.
Hasil pengujian menunjukkan serbuk ikan teri memiliki kadar air 4,47 persen, jauh di bawah batas maksimal 10 persen sehingga dinilai aman dan stabil untuk digunakan.
Dalam proses formulasi, ekstrak ikan teri dikombinasikan dengan gelatin sapi dan pati talas sebagai pembentuk gel. Penggunaan pati talas menjadi salah satu keunikan penelitian karena memanfaatkan komoditas lokal yang banyak ditemukan di Bogor.
“Pati talas tidak hanya berfungsi sebagai pembentuk tekstur, tetapi juga menjadi nilai tambah karena memanfaatkan potensi pangan lokal,” jelasnya.
Setelah melalui berbagai tahap uji coba, peneliti menghasilkan lima formula gummy. Formula terbaik diperoleh pada komposisi gelatin 25 persen dan pati talas 7,5 persen dengan penambahan ekstrak ikan teri 1,5 persen.
Formula tersebut menghasilkan tekstur kenyal, tidak lengket, mudah dicetak, serta memiliki rasa manis dengan dominasi aroma anggur yang mampu mengurangi aroma khas ikan teri.
Kandungan Protein pada Gummy Ikan Teri
Hasil analisis laboratorium menunjukkan gummy tersebut mengandung protein tinggi mencapai 31,68 hingga 31,96 persen, kadar lemak sangat rendah di bawah 0,02 persen, serta kandungan kalsium sebesar 28,15 hingga 28,44 miligram per 100 gram.
Selain itu, produk juga dinyatakan aman karena tidak ditemukan kontaminasi logam berat seperti timbal dan merkuri. Hasil uji mikrobiologi pun memenuhi standar keamanan pangan.
Penelitian juga melibatkan uji kesukaan terhadap anak-anak. Hasilnya cukup menggembirakan. Sekitar 40 anak yang menjadi panelis menyatakan menyukai gummy ikan teri dan bersedia mengonsumsinya secara rutin.
Meski demikian, tim peneliti mengakui masih terdapat tantangan dalam penyempurnaan produk, terutama terkait peningkatan kandungan kalsium serta stabilitas penyimpanan pada suhu ruang.
Saat ini produk mampu bertahan hingga 14 hari pada suhu dingin antara 8 hingga 15 derajat Celsius, namun hanya stabil selama dua hari pada suhu ruang.
Penelitian tersebut menjadi bukti bahwa pemanfaatan sumber daya laut lokal melalui pendekatan farmasi dan teknologi pangan mampu menghasilkan produk fungsional yang inovatif.
Ke depan, gummy berbahan ikan teri dan talas ini diharapkan dapat menjadi alternatif suplemen kalsium berbasis pangan lokal yang aman, menarik, dan mendukung tumbuh kembang anak Indonesia. (ded)
Editor : Eka Rahmawati