RADAR BOGOR – Universitas Djuanda (Unida) Bogor kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pendidikan inklusif.
Hal itu dilakukan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk "Harmoni Komunikasi: Pendampingan Pengembangan Bahasa Pragmatik Anak Berkebutuhan Khusus melalui Terapi Musik".
Program ini berhasil memberikan dampak positif terhadap kemampuan komunikasi sekaligus meningkatkan rasa percaya diri anak berkebutuhan khusus di LKS INSHIRA.
Kegiatan tersebut merupakan wujud pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang pengabdian kepada masyarakat.
Melalui pendekatan terapi musik yang dikemas secara kreatif, edukatif, dan menyenangkan, program ini dirancang untuk memperkuat kemampuan bahasa pragmatik anak sekaligus meningkatkan kualitas layanan pendidikan inklusif.
Program dipimpin oleh Megan Asri Humaira, M.Hum. bersama tim pengabdi yang terdiri atas Anne Effane, M.Pd.I., Novi Maryani, M.Pd.I., Nafisah Deviyanti, Rahma Khoerunnisa, dan Suci Fatimah.
Baca Juga: Beef Hamburg Japanese Curry, Menu Rumahan Enak untuk Stok dan Makan Sehari-hari
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Reguler Tahun 2026 yang memperoleh pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kemendikti Saintek berdasarkan Kontrak Nomor Induk 207/C3/DT.05.00/PM/2026 tertanggal 13 April 2026.
Sebanyak 25 anak berkebutuhan khusus mengikuti kegiatan ini. Para peserta memiliki beragam karakteristik, mulai dari tunarungu, Down syndrome, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) hingga kebutuhan khusus lainnya.
Selama program berlangsung, anak-anak mengikuti berbagai aktivitas yang memadukan terapi musik dengan latihan komunikasi, permainan edukatif, gerak dan lagu, serta kegiatan interaksi kelompok.
Seluruh rangkaian tersebut disusun untuk merangsang perkembangan bahasa pragmatik sekaligus menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan.
Pemanfaatan terapi musik dipilih karena dinilai mampu menghadirkan suasana belajar yang lebih nyaman sehingga anak lebih termotivasi untuk berpartisipasi aktif.
Melalui irama, lagu, dan aktivitas kolaboratif, peserta didorong untuk mengekspresikan diri, membangun interaksi dengan teman maupun pendamping, serta mengembangkan kemampuan komunikasi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Hasil evaluasi menunjukkan perkembangan yang positif. Selama mengikuti program, anak-anak memperlihatkan peningkatan kemampuan berinteraksi, lebih berani mengemukakan pendapat, semakin percaya diri saat berkomunikasi, serta mampu membangun komunikasi yang lebih baik selama proses pembelajaran.
Perubahan tersebut tampak dari meningkatnya partisipasi peserta dalam setiap sesi, keberanian merespons arahan, kemampuan bekerja sama dalam kelompok, hingga tumbuhnya inisiatif untuk menjalin komunikasi dengan lingkungan di sekitarnya.
Ketua Tim PKM, Megan Asri Humaira, M.Hum., menyampaikan bahwa keberhasilan program ini tidak terlepas dari kolaborasi seluruh pihak yang terlibat, mulai dari tim pengabdi, pendamping, orang tua, hingga anak-anak sebagai peserta.
Menurut Megan, program Harmoni Komunikasi tidak hanya menawarkan metode pembelajaran yang lebih menarik, tetapi juga memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan komunikasi sekaligus membangun rasa percaya diri.
Baca Juga: Semifinal Piala Dunia 2026: Prancis Waspadai Kekuatan Spanyol, Tegaskan Tak Gentar
"Program ini dirancang agar anak-anak memiliki ruang untuk berekspresi melalui aktivitas yang menyenangkan. Harapannya, metode yang telah diterapkan dapat terus digunakan oleh pendamping dan orang tua sehingga manfaatnya bisa dirasakan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari," jelasnya.
Apresiasi juga datang dari pihak LKS INSHIRA sebagai mitra pelaksana. Mereka menilai program tersebut memberikan dampak nyata terhadap perkembangan kemampuan komunikasi peserta.
Perwakilan LKS INSHIRA menyebut terapi musik membuat anak-anak lebih antusias mengikuti kegiatan, lebih mudah membangun interaksi, serta menunjukkan peningkatan keberanian dalam berkomunikasi.
"Pendekatan melalui musik terbukti mampu meningkatkan semangat belajar anak. Selain lebih aktif berinteraksi, mereka juga terlihat semakin percaya diri ketika berkomunikasi," tuturnya.
"Kami berharap program seperti ini dapat terus dilaksanakan karena manfaatnya dirasakan tidak hanya oleh anak-anak, tetapi juga pendamping dan orang tua," ungkap perwakilan LKS INSHIRA.
Melalui Program Harmoni Komunikasi, Universitas Djuanda kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan inovasi pengabdian kepada masyarakat yang memberikan manfaat nyata.
Program ini diharapkan dapat menjadi model pendampingan berkelanjutan yang dapat diterapkan di berbagai lembaga pendidikan maupun layanan bagi anak berkebutuhan khusus, sebagai bagian dari upaya mewujudkan pendidikan yang inklusif, humanis, dan berkelanjutan. (***)
Editor : Yosep Awaludin