135 Mahasiswa Mengajar di SD dan SMP Kota Bogor Selama 6 Bulan, Bantu Tutup Kekurangan Jumlah Guru

Fikri Rahmat Utama • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 15:27 WIB
Mahasiswa Universitas Pakuan (UIKA) dan Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor mengikuti pembekalan Program Mahasiswa Mengajar Tahun Ajaran 2026/2027 di Graha Pakuan Siliwangi, Kampus Universitas Pakuan. (Dok. Humas Pemkot Bogor)
Mahasiswa Universitas Pakuan (UIKA) dan Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor mengikuti pembekalan Program Mahasiswa Mengajar Tahun Ajaran 2026/2027 di Graha Pakuan Siliwangi, Kampus Universitas Pakuan. (Dok. Humas Pemkot Bogor)

RADAR BOGOR - Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mulai melibatkan mahasiswa untuk membantu proses belajar mengajar di sekolah negeri. Sebanyak 135 mahasiswa dari Universitas Pakuan dan Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor diterjunkan untuk mengajar.

Mereka mengajar di 85 yang terdiri dari SD dan SMP selama enam bulan. Kehadiran mereka untuk membantu mengatasi kekurangan guru yang saat ini masih mencapai sekitar 650 orang.

Program Mahasiswa Mengajar Tahun Ajaran 2026/2027 itu diluncurkan Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, dalam kegiatan pembekalan di Graha Pakuan Siliwangi, Kampus Universitas Pakuan, Senin, 20 Juli 2026.

Dedie mengatakan, program tersebut merupakan kolaborasi antara Pemkot Bogor dengan Universitas Pakuan dan Universitas Ibn Khaldun sebagai solusi cepat untuk mengurangi dampak kekurangan tenaga pendidik di sekolah negeri.

Baca Juga: Ground Breaking PSEL Kayumanis Bogor November, Pembangunan Akses Jalan 1,65 Km Dikebut

"Program ini adalah salah satu solusi cepat dari Pemerintah Kota Bogor bekerja sama dengan perguruan tinggi yang ada di Kota Bogor dalam menyikapi terjadinya kekurangan guru mengajar," ujarnya.

Menurut Dedie, pemerintah daerah belum bisa secara langsung memenuhi kebutuhan guru karena proses rekrutmen aparatur sipil negara menjadi kewenangan pemerintah pusat melalui Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

Karena itu, kehadiran mahasiswa diharapkan dapat membantu proses pembelajaran sekaligus memberikan pengalaman mengajar secara langsung kepada calon guru.

"Biasanya mereka ada di ranah teori, sekarang langsung praktik. Praktik menghadapi siswa, mempersiapkan materi pelajaran, dan berinteraksi di sekolah. Dampaknya anak-anak juga menerima pembelajaran yang lebih variatif," kata Dedie.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor, Herry Karnadi, menjelaskan 135 mahasiswa tersebut akan ditempatkan di 22 SMP negeri dan 63 SD negeri mulai Juli hingga Desember 2026.

Mereka berasal dari berbagai program studi, seperti Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Pendidikan Sekolah Menengah, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Bahasa, dan bidang pendidikan lainnya.

"Mahasiswa ini akan membantu mengajar selama enam bulan. Mereka akan membantu guru-guru di sekolah sesuai bidang ilmunya," ujar Herry.

Ia mengungkapkan, sebelumnya Kota Bogor membutuhkan sekitar 850 guru. Setelah pengangkatan 200 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), kebutuhan tersebut berkurang menjadi sekitar 650 guru.

Herry menegaskan program ini memang belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan guru, namun menjadi langkah nyata untuk menjaga proses belajar mengajar tetap berjalan.

"Meski program ini tidak permanen, tapi ini solusi cepat untuk menangani masalah kekurangan guru," katanya.

Sementara itu, Program Mahasiswa Mengajar juga disambut antusias para peserta. Salah satunya, mahasiswa Program Studi PGSD Universitas Pakuan, Sifaul Husni (19), yang mengaku sejak kecil bercita-cita menjadi guru.

Mahasiswi asal Banten itu mengaku bersyukur lolos mengikuti program tersebut dan berharap dapat memberikan manfaat bagi dunia pendidikan di Kota Bogor.

"Program kampus bersama pemerintah ini sangat bermanfaat buat kami. Selain mendapat pengalaman mengajar, kami juga bisa ikut membantu pendidikan di Kota Bogor," ujarnya.

Rektor Universitas Pakuan, Prof. Didik Notosudjono, menyatakan kampusnya mendukung penuh kolaborasi tersebut agar ilmu pengetahuan dapat diterapkan secara lebih inovatif di sekolah.

Hal senada disampaikan Wakil Rektor Universitas Ibn Khaldun Bogor, Maemunah Sa'diyah. Menurutnya, masa penugasan selama lima hingga enam bulan akan memberikan pengalaman lapangan yang lebih matang bagi mahasiswa sebagai bekal menjadi guru profesional. (uma)

Editor : Eka Rahmawati
mengajar bogor guru mahasiswa