RADAR BOGOR - Meningkatnya kebutuhan industri terhadap tenaga profesional di bidang pangan mendorong Program Studi Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menjadi salah satu pilihan yang semakin diminati calon mahasiswa. Bidang ini dinilai memiliki prospek karier yang luas seiring berkembangnya industri pangan dan meningkatnya tantangan global terkait ketahanan pangan.
Perkembangan teknologi, isu krisis pangan dunia, hingga tuntutan menghadirkan produk pangan yang aman, sehat, dan inovatif membuat kebutuhan terhadap sumber daya manusia di sektor tersebut terus meningkat.
Kepala Program Studi Teknologi Pangan UM Bandung, Khairiah, menjelaskan bahwa sektor pangan akan selalu memiliki peran penting karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat. Menurutnya, ilmu dan teknologi pangan akan tetap relevan dipelajari dalam jangka panjang mengingat perannya yang strategis, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Pangan akan selalu menjadi isu strategis, baik di tingkat nasional maupun global, karena berkaitan langsung dengan kehidupan manusia, mempelajari ilmu dan teknologi pangan akan selalu relevan sampai kapan pun,” ujar Khairiah.
Ia menambahkan, berbagai persoalan global seperti perubahan iklim, pertumbuhan jumlah penduduk, ancaman krisis pangan, hingga dinamika geopolitik semakin memperbesar kebutuhan akan tenaga ahli yang mampu menjawab tantangan di sektor pangan.
Selain itu, kemajuan inovasi dalam pengembangan produk pangan, baik berbasis bahan alami maupun pangan alternatif, membuka peluang yang semakin luas bagi lulusan Teknologi Pangan untuk menciptakan produk yang aman, bernilai tambah, dan berkelanjutan.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Prodi Teknologi Pangan UM Bandung terus memperbarui kurikulum agar selaras dengan perkembangan dunia industri. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga dibekali keterampilan praktis yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Salah satu sarana pendukung yang dimiliki adalah Mini Teaching Factory Food Industry, fasilitas pembelajaran yang dirancang menyerupai lingkungan industri pangan sesungguhnya. Melalui fasilitas tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung mulai dari proses produksi hingga penerapan standar industri sebelum memasuki dunia kerja.
Selain kegiatan praktikum di laboratorium, mahasiswa juga mendapat kesempatan mengikuti program magang, penelitian, proyek inovasi, serta berbagai bentuk kolaborasi dengan mitra industri.
Khairiah menyebut pendekatan pembelajaran berbasis praktik tersebut berdampak positif terhadap daya saing lulusan. Ia mengungkapkan sebagian besar alumni mampu memperoleh pekerjaan dalam kurun waktu tiga hingga enam bulan setelah menyelesaikan studi. Bahkan, tidak sedikit mahasiswa yang telah menerima tawaran kerja sebelum mengikuti prosesi wisuda, terutama karena adanya berbagai program strategis nasional di sektor pangan.
Keberhasilan tersebut turut dirasakan salah satu alumni Prodi Teknologi Pangan UM Bandung, Genta Safa Ramadhan. Perjalanannya memasuki dunia industri tidak berlangsung mudah karena saat menempuh pendidikan di bangku SMA, ia berasal dari jurusan IPS sehingga harus beradaptasi dengan mata kuliah yang didominasi sains dan kegiatan laboratorium.
Selain tantangan akademik, keterbatasan ekonomi juga sempat menjadi kendala. Namun, kesempatan memperoleh beasiswa dari UM Bandung membuka jalan baginya untuk melanjutkan pendidikan.
Genta mengaku program beasiswa tersebut sangat membantu meringankan beban keluarga sekaligus memberinya kesempatan mengejar cita-cita melalui pendidikan tinggi.
Berbekal tekad yang kuat, ia berusaha mengejar ketertinggalan dengan aktif mengikuti perkuliahan, praktikum, menyelesaikan berbagai tugas akademik, hingga bekerja paruh waktu. Dukungan para dosen serta lingkungan kampus yang kondusif turut membantunya menyelesaikan studi tepat waktu pada 2024 dengan meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,69.
Usahanya membuahkan hasil. Hanya sekitar satu bulan setelah wisuda, Genta berhasil diterima bekerja di sebuah perusahaan pangan. Setelah memperoleh pengalaman selama kurang lebih tujuh bulan, ia kemudian melanjutkan karier di salah satu perusahaan makanan terbesar di Indonesia yang beroperasi di Kota Bandung.
“Alhamdulillah saya bisa kuliah di UM Bandung melalui jalur beasiswa, kesempatan itu benar-benar meringankan beban keluarga dan membuka jalan bagi saya untuk meraih cita-cita,” ungkap Genta.
Perjalanan Genta menjadi salah satu bukti bahwa pendidikan di bidang Teknologi Pangan tidak hanya membekali mahasiswa dengan kompetensi akademik, tetapi juga membuka peluang karier yang luas di industri.
Melalui kurikulum yang terus disesuaikan dengan kebutuhan industri, dukungan fasilitas pembelajaran modern, serta pengalaman praktik yang komprehensif, Program Studi Teknologi Pangan UM Bandung terus berupaya mencetak lulusan yang siap bersaing dan mampu menjawab tantangan sektor pangan pada masa mendatang.(ded)
Editor : Eka Rahmawati