RADAR BOGOR - Lokakara ekoliterasi konservasi dihadiri para guru SMP dan SMA se-Sumedang serta aktivis kepramukaan Saka Wanabakti Kota Bandung pada 28 Juli 2026 di Gedung Fisip Unpad Jatinangor serta dibuka oleh Pembina Pramuka Unpad, Prof. Dr.Dr. Rahman Mulyawan M.Si.
Pada kesegiatan tersebut, Kepala Pusat Budaya Sunda Universitas Padjadjaran (Unpad) Prof Dr. Ir. Ganjar Kurnia DEA menyampaikan bahwa sepantasnya pemahaman atas data ilmiah dan hukum soal satwa misalnya, harusnya berujung pada perubahan perilaku yakni tidak berburu, membeli satwa liar atau langka, sebaliknya harus melindungi satwa langka, menjaga mata air dan pohon.
Baca Juga: APBN Jawa Barat Tetap Tangguh, Kinerja Pajak Jabar III Tumbuh 20,02 Persen
“Jadi konservasi sebenarnya membutuhkan hubungan emosional, satwa harus dipahami bukan sebagai obyek undang undang, melainkan bagian dari kehidupan bersama atau bahkan sebagai tetangga,” ujar Prof Ganjar.
Dalam budaya Sunda, Prof Ganjar menjelaskan para leluhur sudah mewanti wanti soal konservasi dalam beragam cerita, bahasa, pantangan, ritual, pengelolaan tata ruang, mekanisme musyawarah sanksi sosial sampai pengetahuan tentang musim dan sebagainya, yang mana semuanya diletakan dalam konteks hubungan emosional diri dengan alam sebagai bagian dari kehidupan yang harus berjangka panjang, demi anak cucu.
"Misalnya secara terminologi konservasi, dalam pendekatan ilmiah tradisional adalah satwa langka dan harus dilindungi. Namun dalam pendekatan budaya Sunda, lanjut Ganjar, justru dijelaskan satwa itu sebagai tetangga," paparnya.
Begitu juga soal motivasi utama bahwa konservasi merupakan kepatuhan hukum dan ancaman denda, tetapi menurut Prof Ganjar dalam khasanah Budaya Sunda diarahkan pada tanggung jawab moral dan amanah antar generasi.
Terkait gaya komunikasi kampanye konservasi, lanjut mantan Rektor Unpad ini sering disebutkan penyampaian informasi satu arah.
Namun, dalam pendekatan Budaya Sunda, kampanye dilakukan melalui cerita rakyat dan bahasa lokal. Maka, jangan heran dalam pandangan ekologis tradisional Sunda dikenal gunung kaian (gunung ditanami pohon) yang berfungsi resapan.
Gawir awian, yakni lereng ditanami bambu agar tidak longsor, kemudian cisunyu rumateun (mata air dijaga) sebagai sumber kehidupan dan walungan rawateun (sungai dirawat).
Selain itu, budaya Sunda juga mengajarkan fondasi sosial seperti silih asah, asuh dan asih. Konteksnya tidak hanya untuk sesama manusia tetapi juga terhada alam dan satwa. Saling belajar ekologi dan kecakapan, menjadi teladan dan saling melindungi, kemudian membangun empati terhadap makhluk hidup.
"Bahkan budaya Sunda juga memberikan gambaran luas dalam hal membangun jembatan empati melalui bahasa dari pengetahuan sampai muncul tindakan, misalnya mengubah sudut pandang, bahwa satwa liar bukan tamu di hutan, justru merekalah pemilik hutan, dihadirkan pula rasa kehilangan tentang burung, mata air dan pepohonan untuk memahami konservasi menjadi sejarah di kampung sendiri," jelasnya.
Dikembangkan pula slogan kedekatan manusia dengan alam. Leuweung hirup, urang hurip (hutan hidup, manusia memperoleh kehidupan). Ada juga miara cai, miara hirup (memelihara air, memelihara kehidupan)
Defisit Aksi Nyata
Sementara itu Kahar Pramuka Unpad Ganjar Kurnia menilai sayangnya sejauh ini kita surplus pada level mengetahui (nyaho), tetapi defisit metodologiata untuk mencapai ngajadi (mendarah daging, menjadi ada tindakan).
"Jadi harusnya jika paham konservasi berarti tidak membeli satwa langka, tidak berburu dan justru harus melindunginya, alam bukanlah komoditas di luar manusia. Manusia anehnya malah seringkali merasa tidak kehilangan apa apa soal mata air yang kini tiada, pohon di sekitar kita yang lenyap tanpa tahu nama dan cirinya lagi," ungkap Ganjar Kurnia.
Ia meminta semua pihak kembali melakukan perubahan perilaku demi kehidupan yang lebih baik. Biasakan mengamati berbagai jenis satwa dan mata air secara langsung tanpa beban teori yang rumit.
Kemudian memahami ekologisnya misalnya antara burung dan penyebaran biji di hutan. Setelah itu tumbuhkan sifat merasakan dengan adanya keterikatan emosional atas kondisi di sekitar. Lalu timbulan sikap aksi nyata menjaga alam sekitar dan akhirnya mewariskan semuanya kepada anak cucu.
Peran Pramuka sebagai Agen Perubahan
Pada kesempatan tersebut Kepala Pusat Ungulan Lingkungan dan Ilmu Keberlanjutan Unpad, Dr Susanti Withaningsih sebagai pembicara menilai bahwa peran pramuka semestinya terlihat jelas, sebagai agen perubahan yang paling dekat dengan, alam dan komunitas.
“Di sinilah harapan konservasi Indonesia bersemayam,“ ucapnya.
Pramuka menurut Susanti seharusnya menjadi agen konservasi lapangan, dapat tampil sebagai jembatan sains dan komunitas, menerjemahkan data ilmiah konservasi menjadi aksi nyata di lapangan yang mudah difahami dan dilakukan masyarakat lokal.
Ia berharap pramuka dapat berperan melakukan patroli dan pelaporan, misalnya patroli habitat, pelaporan perburuan dan pemantauan satwa berbasis citizen science yang akan memperluas jangkauan pengawasan serta mengedukasi warga.
“Jaringan pramuka yang tersebar di seluruh Indonesia adalah asset strategis untuk edukasi konservasi berbasis komunitas,” ungkap ahli burung Elang Jawa ini.
Langkahnya mudah dari teori ke aksi tersebut, secara individu, tolak produk dari satwa liar, laporkan perdagangan illegal.
Dukung organisasi konservasi lokal dengan tindakan nyata bukan hanya simpati. Secara komunitas, bangun kesadaran kolektif. Integrasikan kearifan lokal dalam pengelolaan SDA sehari hari.
Ia mengingatkan, setiap spesies yang punah adalah kehilangan permanen. Tidak ada teknologi yang bisa mengembalikan apa yang sudah hilang dan generasi sekarang menurutnta merupakan generasi penentu.
"Apalah Harimau Sumatera, Badak Jawa dan Orangutan masih ada dan untuk generasi berikutnya, atau hanya tersisa dalam buku sejarah saja,” ujar Susanti lagi.
Editor : Eka Rahmawati